The Help (2011)

God don’t pay no mind to color once He decide to set a tornado loose.
— Aibileen Clark

Poster film. (gambar: IMDb)
Poster film. (gambar: IMDb)

THE Help adalah sebuah film yang mencoba bermain aman dengan subjek volatil. Film ini menyajikan sebuah kisah tentang bagaimana para pekerja rumah tangga keturunan Afrika-Amerika di Kota Jackson, Mississippi, Amerika melihat/menceritakan kehidupan (dan diskriminasi yang mereka terima dari) majikan melalui versi dan sudut pandang mereka sendiri selama periode Jim Crow laws; ini juga merupakan sebuah kisah perihal bagaimana mereka — para pekerja rumah tangga keturunan Afrika-Amerika itu — menginspirasi seorang perempuan muda kulit putih untuk menulis buku bestseller tentang mereka, dan bagaimana buku itu mampu mengubah sikap dan pandangan sang ibu dari si penulis. Saya ikut senang dengan nasib dua perempuan kulit putih itu — namun ketika film ini benarbenar selesai, saya sadar bahwa dunia yang kita tinggali saat ini ternyata masih tidak baikbaik saja dan masih belum menunjukkan tandatanda bakal bertransformasi menjadi tempat yang layak dan membebaskan serta membahagiakan untuk ditinggali. Di lingkungan perkawanan saya, misalnya, diskriminasi rasis masih tetap ada dan kawankawan saya selalu tertawa dengan puas karena menganggap rasisme adalah sebuah lelucon yang lucu. Sial! Bangsat kalian semua, kawan!

Ini adalah film apik dengan kinerja akting yang bagus dari para pemerannya dan mampu membikin saya terlibat secara emosional. Saya tertarik ke dalam dinamika setiap karakternya dan cukup terharu; meskipun saya juga menyadari bahwa ini adalah dongeng untuk menyenangkan hati, sebuah kisah yang berhubungan dengan rasa sakit namun tidak terlalu peduli untuk menjadi cerita pedih yang menyakitkan. Alasan saya menonton sebuah film tidak selalu didasari keinginan untuk mencari kebenaran, melainkan lebih sering untuk meyakinkan dan menghibur diri: iya, memang benar adanya bahwa rasisme adalah tindakan yang kejam dan hina, tetapi hei lihatlah, tidak semua orang kulit putih itu rasis dan berengsek — setidaknya di film ini.

Cerita film ini, diadaptasi dari novel bestseller dengan judul yang sama karangan Kathryn Stockett, fokus pada Eugenia “Skeeter” Phelan (diperankan oleh Emma Stone), seorang perempuan muda kulit putih lulusan University of Mississippi yang pulang ke rumah dan menemukan bahwa dirinya sulit beradaptasi dengan kehidupan sosial di lingkungan kampung halamannya. Stone menampilkan kinerja akting yang maksimal, namun karakter yang dia perankan adalah protagonis klise yang nyaris selalu ada di setiap film bergenre drama, dan daya tarik film ini sepenuhnya berasal dari dua karakter protagonis lainnya: Minny Jackson (Octavia Spencer) dan Aibileen Clark (Viola Davis). Keduanya — Minny dan Aibileen — adalah pekerja rumah tangga berkulit hitam keturunan Afrika-Amerika. (Saya ingat sewaktu ditanya oleh V alasan kenapa saya ingin menonton film ini untuk pertama kalinya: “Emma Stone dan perjuangan menghapuskan rasisme!” Dan ternyata yang berhasil mencuri perhatian saya adalah kinerja akting brilian dari Spencer dan Davis.)

Aibileen telah menghabiskan seumur hidupnya sebagai seorang pengasuh anak, merawat dan membesarkan bocah kulit putih. Aibileen sangat bagus dan cekatan dalam melakukan pekerjaan hariannya itu, dan benarbenar tulus mencurahkan kasih sayang dan cintanya untuk anak-anak majikan yang dia rawat, meskipun nyatanya anak-anak yang dia rawat itu cenderung berubah menjadi (dan memiliki tabiat ngehek yang sama dengan) ibu mereka ketika dewasa. Sementara Minny adalah seorang pekerja rumah tangga yang dipecat oleh ketua perkumpulan mama sosialite Kota Jackson, yang kemudian bekerja di rumah mewah milik seorang perempuan pirang yang dianggap sebagai “sampah kulit putih” oleh komunitas sosialite itu. Spencer dan Davis memiliki kualitas akting yang brilian sehingga film ini sepenuhnya menjadi kisah tentang karakter yang diperankan oleh mereka berdua.

Ketua perkumpulan mama sosialite Kota Jackson, Hilly Walters Holbrook (diperankan oleh Bryce Dallas Howard), itu adalah seorang mama muda sekaligus social climber haus kasih sayang dan perhatian yang memecat Minny dengan alasan superkonyol (bagi saya): cuma karena Minny menggunakan toilet tamu untuk buang air kecil! Hilly kemudian menyebar gosip bahwa Minny dipecat karena tertangkap basah sedang mencuri perhiasannya, dan gosip ini membikin Minny kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan baru. Hanya ada satu orang di Kota Jackson itu yang akhirnya mau mempekerjakan Minny yaitu perempuan pirang bernama Celia Rae Foote (diperankan oleh Jessica Chastain) yang mengawini seorang pebisnis muda kaya raya, Johnny Foote (Mike Vogel). Celia sangat ingin menyenangkan hati suaminya dengan tugas domestiknya, namun dia tidak pernah belajar apa pun tentang menjadi ibu rumah tangga sampai akhirnya kawin dengan Johnny.

Minny membutuhkan pekerjaan agar bisa menopang biaya hidup harian keluarganya, serta dia senang bekerja di rumah mewah milik Johnny dan Celia. Sementara Celia ingin Minny bekerja hanya saat Johnny sedang berada di kantor agar Johnny mengira bahwa Celia selama ini sangat menikmati perannya sebagai ibu rumah tangga dan agar Johnny merasa telah makan masakan Celia selepas pulang dari kantor. Minny membantu Celia beradaptasi dengan tugas ibu rumah tangga, mengajari Celia memasak, memberi nasihat realistis untuk Celia, dan masih banyak lagi. Selain itu, Celia adalah seorang perempuan muda dengan emosi yang labil karena pernah beberapa kali mengalami keguguran (yang dia sembunyikan dari Johnny) dan dijauhi oleh perkumpulan mama sosialite Kota Jackson karena dianggap sebagai “sampah kulit putih” yang telah merebut Johnny dari Hilly. Celia membutuhkan kekuatan dan dukungan dari seorang sahabat, dan Minny sedikit-banyak mampu mengisi kekosongan itu. Chastain cukup berhasil dalam memerankan karakter Celia, seorang perempuan muda dengan kondisi emosional seperti itu, yang baru saja kawin sehingga masih wagu dan kikuk dengan berbagai macam tugas domestik seorang ibu rumah tangga.

Celia tidak sepenuhnya mendengarkan nasihat realistis Minny ketika dia menghadiri sebuah acara amal besar-besaran (untuk, yups, anak-anak kelaparan di Afrika!) yang diselenggarakan oleh perkumpulan mama sosialite Kota Jackson dan rangkaian adegan saat acara amal itu adalah momen komikal paling lucu di film ini. Subplot yang menampilkan balas dendam Celia kepada Hilly dalam acara amal itu tidak memiliki banyak hubungan dengan plot utama film ini, namun tetap saja itu merupakan rangkaian adegan komikal yang membikin saya dan V tertawa ngakak. Sementara beberapa detail dari adegan Minny yang mengolok-olok Hilly dengan kue pai-nya terasa seperti plagiat dari adegan di film lain yang saya lupa apa judulnya.

Kehidupan keras dan menyusahkan Aibileen menginspirasi Skeeter untuk menulis sebuah buku. Skeeter pun meyakinkan Aibileen, dan kemudian Minny serta sebagian besar pekerja rumah tangga keturunan Afrika-Amerika di Kota Jackson, agar mau berbicara terus-terang kepadanya, untuk berbagi cerita kehidupan harian mereka; wawasan dan kemarahan Skeeter terhadap kawan-kawannya di perkumpulan mama sosialite Kota Jackson pun semakin membesar seiring dengan proses penulisan buku yang berisi kesaksian Aibileen dan kawan-kawannya itu. Sebuah subplot muram melibatkan misteri menghilangnya pengasuh kesayangan Skeeter (Constantine Bates [Cicely Tyson]) yang telah bekerja untuk keluarganya selama 29 tahun. Ibu Skeeter, Charlotte Phelan (diperankan oleh Allison Janney), menyembunyikan alasan yang sebenarnya di balik menghilangnya Constantine, dan setelah pada akhirnya berani mengungkapkan rahasia itu kepada Skeeter, Charlotte mengalami perubahan sikap dan pandangan dalam sebuah momen penebusan yang ada di rangkaian third act film ini.

(Setelah menonton film ini, V memberikan dua pengamatan yang cukup jeli: [1] semua orang kulit putih ditampilkan merokok, sementara tidak seorang pun dari kulit hitam yang merokok; [2] ada lumayan banyak karakter lelaki kulit putih yang mengucapkan beberapa baris dialog penting, namun cuma ada dua lelaki kulit hitam — salah satunya adalah seorang pendeta — yang diberikan porsi yang cukup besar untuk menyampaikan rangkaian dialog penting di film ini. Saya mendengarkan V menjelaskan pengamatannya itu sembari mengisap sebatang rokokputih dan mengaduk dua cangkir kopihitam.)

The Help adalah film yang cukup menghibur dan menyenangkan hati. Spencer memiliki wajah yang ekspresif dan kemampuan mengatur tempo komikal yang luar biasa brilian, sementara Davis nyaris sempurna dalam menyajikan dinamika emosional yang dialami karakternya. Pujian dan apresiasi juga layak diberikan kepada Stone, Janney, Howard, dan Chastain: mereka berempat mendapatkan keuntungan dari naskah film yang tidak mengenal rasa takut.

Dan saya ingin merayakan baris dialog yang diucapkan oleh Mr. Blackly (Leslie Jordan) dengan isapan khidmat rokokputih yang menemani saya menulis ulasan film ini: “I guarantee you, one day they’re going to figure out cigarettes will kill you.” []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s