Madrid, 1987 (2011)

Poster film. (gambar: "Rotten Tomatoes")
Poster film. (gambar: “Rotten Tomatoes”)

BAGI kebanyakan mahasiswi, terkunci di kamar mandi bersama seorang lelaki tua selama lebih dari 24 jam adalah sebuah pengalaman yang kurang menyenangkan — atau, mungkin, malah menyeramkan. David Trueba, seorang sutradara asal Spanyol, menjadikan momen itu sebagai premis dalam filmnya yang berjudul Madrid, 1987. Situasi canggung dan kurang menyenangkan itu — ditambah dengan fakta bahwa dua karakter utamanya menghabiskan sebagian besar durasi film ini dengan bertelanjang dan hanya berbagi satu handuk kecil — dijadikan sebagai plot dasar oleh Trueba yang bercerita tentang seorang jurnalis terkenal yang sudah uzur (Miguel — diperankan oleh José Sacristán) mencoba merayu seorang mahasiswi jurnalistik muda (Ángela — diperankan oleh si manis María Valverde). Dengan latar belakang Kota Madrid pada tahun 1987, film ini menampilkan kondisi (psikis warga) Spanyol pada masa transisi dari fasisme ke demokrasi, dan berfokus pada dialog antara Miguel dan Ángela — di mana mereka mewakili generasinya masingmasing — perihal perbedaan pandangan terkait masa lalu, masa kini, dan masa depan Spanyol.

Film ini dibuka dengan Ángela menemui Miguel di sebuah kafe untuk melakukan wawancara dan pertemuan itu berkembang menjadi situasi yang bukan hanya sekadar wawancara sederhana. Setelah duduk bersama dan membahas tentang tugas kuliah selama beberapa menit, Miguel mengajak Ángela untuk meneruskan wawancara itu di rumah-merangkap-studio-lukis milik temannya yang sedang pergi berlibur. Meski pada awalnya merasa enggan karena menyadari bahwa niat utama Miguel adalah untuk berhubungan seks dengannya, Ángela tetap menyetujui ajakan Miguel untuk pergi berpindah tempat wawancara.

Ketika mereka berdua tiba di rumah-merangkap-studio-lukis itu, Miguel semakin terang-terangan menyampaikan niatnya untuk meniduri Ángela ketimbang menceritakan pengalamannya sebagai jurnalis. Miguel meminta Ángela melepas bajunya dan mengungkapkan keinginan untuk kembali merasakan aroma lukisan Las Meninas karya Diego Velázquez dari tubuh Ángela. Miguel kemudian mengolesi tubuh setengah-telanjang Ángela dengan cat biru. Merasa jijik, Ángela lantas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Ketika Ángela sedang berada di kamar mandi, Miguel menyusulnya dan menutup pintu kamar mandi tanpa menyadari bahwa pintu itu tidak bisa dibuka dari dalam. Miguel dan Ángela terjebak di dalam kamar mandi, menghabiskan sisa film dalam keadaan telanjang, sampai akhirnya Luis (teman Miguel — diperankan oleh Ramon Fontserè) pulang dan membebaskan mereka.

Ketika terkunci di kamar mandi selama lebih dari 24 jam dalam keadaan telanjang (dan saling bertukar satu handuk kecil), Miguel dan Ángela terlibat percakapan tentang sosial, seks, politik, masa muda, idealisme, cinta, dan kehidupan pada umumnya, serta mendiskusikan kondisi Spanyol dari dua sudut pandang yang sangat berbeda di mana mereka berdua akhirnya mendapatkan pelajaran dan pemahaman baru dari satu sama lain. Film ini tidak cocok untuk orang-orang yang menderita klaustrofobia atau siapa saja yang tidak nyaman dengan ketelanjangan — terutama untuk hipokrit di luar sana. Film ini memberikan gambaran bagaimana rasanya terkunci di kamar mandi dalam keadaan telanjang dengan orang beda generasi dan apa yang bisa dipelajari dari momen canggung itu.

(Terkunci di dalam kamar mandi merupakan simbolisasi cerdik dari Trueba yang ingin mengatakan bahwa orang tua dan anak muda sangat sulit berkomunikasi satu sama lain, kecuali benarbenar terpaksa/dipaksa. Selain itu, momen tersebut juga memberikan Trueba kesempatan untuk — baik secara metaforis maupun fisik — menelanjangi dua karakter utamanya.)

Pandangan politik Ángela berasal dari apa-apa yang dia dengar dari ayahnya (seorang pejabat tinggi militer fasisme Spanyol) sementara Miguel memiliki sudut pandang politik yang sama sekali berbeda dari Ángela. Sacristán menampilkan kinerja akting yang cukup baik dalam menggambarkan sinisme pola pikir Miguel sebagai jurnalis politik yang hidup di bawah pemerintahan otoriter lantas kemudian menemukan pandangan politik dan intelektual yang sama sekali baru dan berbeda dalam diri Ángela. Kalimat yang jujur dalam baris dialog milik Miguel (“The photograph on an ID card is there to remind us what idiots we are”, “Life is the perfect way to sabotage a dream”, “Literature struggles to tell in words what can’t be expressed in words”) memosisikan dirinya sebagai karakter yang memiliki banyak pengalaman, sekaligus juga menjadikannya sebagai pribadi yang sinis, klise, dingin, dan cerdas.

Sementara Valverde — yang lebih banyak diam — memberikan kinerja akting yang maksimal dalam menampilkan perasaan intens dari ketidak-pastian dan kerentanan seorang perempuan muda dalam diri Ángela, memberikan berbagai macam reaksi ketika dihujani oleh katakata Miguel, dan hasrat untuk membebaskan diri dari otoritas yang selama ini mengekangnya — sebuah metafora dari gambaran perjuangan Spanyol untuk membebaskan diri dari kekejaman fasisme, dari masa lalu yang suram.

Secara keseluruhan, film ini adalah tontonan yang enak untuk dinikmati (sinematografi dari Leonor Rodríguez berhasil mengubah kondisi sempit kamar mandi menjadi ruang dengan tampilan berwarna hijau yang menarik) dan tidak memiliki masalah, kecuali durasinya yang terasa terlalu dipanjang-panjangkan. Setelah pada awalnya terjebak dalam situasi canggung yang mengkhawatirkan dan kurang menyenangkan, Miguel dan Ángela terlibat percakapan yang cukup intens dan enak untuk diikuti sampai akhirnya mereka berdua tampak kehabisan tema untuk dibicarakan, dan saya sangat berharap mereka segera melakukan hubungan seks untuk kemudian bisa terbebas dari situasi itu lebih cepat. Sebab ketika ada dua orang terjebak di kamar mandi dalam keadaan samasama telanjang, konsekuensi yang kemungkinan bakal terjadi selanjutnya bisa saja lebih buruk dan lebih mengerikan dari itu.

Valverde dan Sacristán memiliki komitmen penuh dalam memerankan karakter mereka masingmasing dan telah melakukan yang terbaik untuk menjaga dinamika film yang berhasil membikin saya tetap tertarik mengikuti plot film ini sampai akhir. Satu adegan yang menjadi favorit saya dari film ini adalah ketika Miguel meminta Ángela untuk membayangkan bahwa mereka sedang menonton film dan Miguel menarasikan detail film imajiner tersebut kepada Ángela sebagai upaya mereka berdua untuk membunuh kebosanan. Interaksi yang terjadi di dalam adegan menonton film imajiner itu membikin Miguel dan Ángela melupakan fakta bahwa mereka sedang terkurung di kamar mandi yang lumayan sempit dengan kebosanan dan rasa frustasi yang sudah bersiap menyerang kapan saja, serta membikin mereka menjadi lebih nyaman dalam ketelanjangan dan menemukan tema menarik untuk dijadikan bahan obrolan. Scene tersebut menjadi penyelamat film ini dari kemungkinan jatuh ke dalam third act yang membosankan dan sengaja dipanjang-panjangkan.

Di sisi lain, Madrid, 1987 adalah sebuah film yang seolah-olah menyuruh saya untuk melihat kembali dan menelanjangi sejarah di masa lalu dengan perspektif yang berbeda, serta mengingatkan saya untuk memeriksa kembali kondisi pintu kamar kos — setidaknya menyimpan kunci cadangan untuk berjaga-jaga.

(Ah … tapi siapa pula yang butuh kunci cadangan jika tibatiba terkunci dalam sebuah ruangan selama berjam-jam lamanya bersama Valverde yang, er, sedang telanjang? Huh? Ting-a-ling!) []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s