Chicken Run (2000)

You can’t see paradise if you don’t pedal.
— Fowler

Poster film. (gambar: IMDb)
Poster film. (gambar: IMDb)

MRS. Tweedy (sulih suara oleh Miranda Richardson) bukanlah karakter yang tolol dan gampang dibodohi: terlepas dari namanya yang konyol, dia adalah seorang peternak ayam petelur yang bengis. Dalam rangkaian awal Chicken Run, Mrs. Tweedy mengambil ayam yang gagal bertelur dari kandangnya dan kemudian meletakkannya di atas talenan. Karena ini adalah sebuah film animasi, saya — tentu saja — mengharapkan scene itu menjadi sebuah adegan melarikan diri yang kocak. Namun hal itu tidak terjadi: kepala ayam itu dipotong, sementara kumpulan ayam lainnya mendengarkan bunyi mengerikan dari ayunan kapak yang berhasil memenggal kepala kawannya itu! Dan kemudian, untuk menjelaskan kepada penonton yang belum terlalu yakin dengan horor yang baru saja terjadi, layar menampilkan beberapa tulang ayam berserakan.

Kanjeng ratu, ini adalah persoalan hidup dan mati yang tidak mainmain bagi kumpulan ayam petelur yang ada di peternakan Mrs. Tweedy: mereka harus bisa melarikan diri dari tempat itu secepatnya. Ini adalah sebuah film animasi keren dan ajaib yang sungguh terlihat dan terdengar berbeda ketimbang filmfilm animasi lain yang pernah saya tonton sebelumnya. (Saya lupa entah kapan persisnya seorang kawan kerja — Kang Wahyu [nama sebenarnya] — merekomendasikan untuk mengunduh dan menonton film ini.) Ini adalah film yang menggunakan hewan sebagai subjek pengganti untuk ketakutan dan harapan manusia. Dan ketika satu per satu rencana melarikan diri yang telah disusun dengan cukup cermat oleh sekumpulan ayam petelur itu hanya menghasilkan kegagalan yang disusul oleh kegagalan lainnya, pesona film ini telah sepenuhnya memenangkan simpati saya.

Film ini dibuka dengan setting parodi suasana penjara Perang Dunia II dalam film perang klasik macam Stalag 17 (1953) — lokasi paling penting yang sering dijadikan sebagai tempat rapat untuk menyusun rencana melarikan diri di film ini diberi nama Hut 17 — dan The Great Escape (1963). Ada beberapa ayam yang cukup bahagia dengan kondisi di peternakan Mrs. Tweedy, namun salah satu ayam pemberontak bernama Ginger (sulih suara oleh Julia Sawalha) tidak pernah menyerah meski selalu menemui kegagalan dalam upayanya melarikan diri, dan mendapatkan hukuman dilemparkan ke tempat penyimpanan batu bara dan dikurung di sana selama tujuh hari. Upaya melarikan diri menjadi semakin genting ketika hal itu harus berpacu dengan rencana Mrs. Tweedy untuk menghentikan produksi telur dan mengubah semua ayam yang ada di peternakannya menjadi kue pai ayam.

Ginger telah mencoba kabur dengan segala cara: menyamar, menipu, melontarkan diri dengan katapel, menggali terowongan — segalanya, namun selalu gagal. Mr. Tweedy (sulih suara oleh Tony Haygarth) memiliki keyakinan bahwa ayam-ayamnya sedang menyusun rencana melarikan diri dari peternakan, namun dia tidak bisa meyakinkan istrinya yang menganggap bahwa ayam-ayam tersebut hanyalah sekumpulan hewan yang cuma bisa bertelur dan terlampau goblok untuk menyusun sebuah rencana melarikan diri.

Kemudian datanglah Rocky the Rhode Island Red (sulih suara oleh Mel Gibson), seekor ayam jantan yang kabur dari kawanan sirkusnya dan mengaku bisa terbang. Apakah Rocky memang bisa terbang dan mau mengajarkan kemampuan itu kepada Ginger dkk. yang mulai putus asa agar bisa digunakan untuk melarikan diri? Ada begitu banyak adegan kocak dan mendebarkan sebelum film ini memberikan jawabannya, dan yang paling kocak serta mendebarkan, menurut saya, adalah ketika Rocky dan Ginger berusaha keluar setelah terjebak di dalam mesin raksasa pembuat kue pai ayam. Ada semacam tes keterampilan dan keberanian di setiap rencana melarikan diri, dan ada juga tes kepribadian/karakter agar Ginger dkk. bisa melihat ke dalam jiwa masingmasing untuk menemukan semacam keyakinan yang bersembunyi di lubuk hati mereka yang paling dalam.

Dalam film animasi yang lebih konvensional, plot cerita dirancang untuk menghadirkan konklusi yang terasa begitu mudah dan sepele. Namun itu tidak terjadi di Chicken Run di mana film ini memiliki pandangan yang aneh dan terkadang kelam/gelap perihal berbagai macam kemungkinan yang ada. Salah satu pesona film ini adalah usaha cerdasnya yang memungkinkan karakter-karakternya menjadi tokoh cerita yang benarbenar eksentrik. Karakter seperti Fowler (sulih suara oleh Benjamin Whitrow), seekor ayam veteran Royal Air Force yang selalu membangga-banggakan masamasa ketika dia masih bertugas, tampil bukan untuk sekadar pelengkap, melainkan juga untuk menambah warna, tekstur, dan kedalaman plot cerita.

Film ini adalah proyek kerjasama layar lebar pertama dari Nick Park dan Peter Lord. Dari yang saya baca di beberapa artikel internet, Park dan Lord mendapatkan banyak apresiasi yang luar biasa positif dari para kritikus dan penikmat film karena kinerja brilian di bidang clay animation, salah satu dari sekian banyak teknik dan bentuk animasi gerak henti di mana plastisin yang menjadi objek diubah dengan teliti di setiap proses pengambilan gambarnya untuk menciptakan ilusi gerak 3D. Dalam film ini, Park dan Lord menghadirkan kualitas seni animasi yang cukup halus dan konsisten dalam setiap pengambilan gambar yang dilakukan. Hasilnya: kualitas animasi film ini lebih mirip animasi komputer daripada clay animation tradisional. Sementara itu, para sulih suaranya memberikan kinerja yang luar biasa, komedi slapstick-nya brilian, dan sequence aksinya begitu spektakuler.

Yang paling saya suka adalah film ini bukan hanya sekadar serangkaian teka-teki yang diselesaikan dengan rencana melarikan diri cerdas di akhir cerita. Film ini merupakan pengamatan jeli tentang sifat alamiah ayam (dan juga manusia) sebagai makhluk yang bakal berjuang mati-matian demi kebebasan untuk menghidupi hidup yang layak dijalani. Film bertema aksi-komedi melarikan diri biasanya menjadi budak yang sepenuhnya melayani plot tolol dan pengembangan karakternya terhenti begitu saja di tengah jalan karena adegan dan dialog konyol yang tanpa arti. Sementara Chicken Run menjadi sebuah film animasi yang tidak hanya nakal dan kocak, manis dan cerdik, melainkan juga lembut, mengharukan, dan menghibur. Ini adalah sebuah film yang dibikin oleh manusia, bukan mesin, dan ketika filmnya telah benarbenar selesai, saya tidak merasakan letih (atau merasa telah dibohongi oleh Kang Wahyu yang merekomendasikan film ini) sedikit pun — saya malah merasa gembira dan punya harapan baru untuk menjalani banalitas hidup harian. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s