Wait Until Dark (1967)

Poster film. (gambar: IMDb)
Poster film. (gambar: IMDb)

SAYA selalu geregetan ketika menonton film yang dibangun dengan teknik idiot plot. Film yang termasuk dalam kategori ini bergantung kepada satu karakter (atau bisa lebih) yang digambarkan sebagai pribadi yang tololnya minta ampun. Karakter tolol itu ditempatkan dalam situasi “sulit” yang sebenarnya bisa dengan “mudah” diselesaikan dengan akal sehat. (But they just can’t, because they being idiots. If they did solve the problem easily, then the movie would be over. Right? Ting-a-ling! :p) Idiot plot biasanya muncul di film yang buruk, namun tidak jarang pula hal itu menyusup ke dalam sebuah film bagus macam Wait Until Dark garapan Terence Young ini — sebuah thriller/horor psikologikal tentang seorang perempuan buta (Susy Hendrix, diperankan dengan akting luar biasa oleh Audrey Hepburn) yang mendapat teror dari tiga orang jahat karena sebuah boneka berisi heroin.

Tiga orang jahat (Mike Talman [Richard Crenna], Roat [diperankan oleh Alan Arkin], dan Carlino [Jack Weston]) seperti sedang mementaskan drama rumit untuk meneror Susy di mana Carlino berperan sebagai seorang polisi, Mike menyamar sebagai sahabat karib suami Susy di masa kuliah, dan Roat memainkan … ah, sudahlah. Intinya adalah tiga orang jahat ini bisa bebas keluar-masuk apartemen Susy, seolah-olah apartemen itu adalah tempat tinggal mereka. Pintu apartemen itu tidak pernah terkunci/dikunci. Roat, Mike, dan Carlino datang secara bergantian hingga akhirnya Susy mulai menyadari bahwa dia sedang berada dalam bahaya.

Secara keseluruhan, ini adalah film yang bagus. Saya bisa menikmati menit demi menit idiot plot film ini (yang berjalan lambat untuk membangun atmosfer mencekam) ketika menontonnya — setidaknya dalam 60 menit pertama — karena, pada dasarnya, saat itu saya sedang ingin dihibur oleh kecantikan dan kinerja akting Hepburn, serta perlu diyakinkan bahwa Susy adalah karakter tolol yang memang sedang terancam bahaya. (Selain karena pada saat itu saya menonton film ini ditemani oleh puan betina kesayangan saya, V. :3) Namun ketika Susy akhirnya sepenuhnya sadar bahwa dia sedang berada dalam bahaya, pikiran saya (dan fokus saya menonton) diganggu oleh satu pertanyaan: “Demi semesta, kenapa kamu TIDAK MENCOBA UNTUK MENGUNCI PINTU apartemenmu, Susy?!? Huh?

Susy ditinggalkan sendirian di apartemen itu: suaminya (Sam Hendrix [Efrem Zimbalist Jr.]) pergi karena alasan pekerjaan dan tetangga apartemennya sedang berlibur ke luar kota. Hanya ada Gloria (Julie Herrod), gadis kecil yang tinggal di lantas atas apartemen, dan Susy malah menyuruhnya menyelinap keluar untuk pergi ke terminal bus menunggu kedatangan Sam. (Kenapa Susy tidak menyuruh Gloria untuk minta pertolongan orang-orang yang ada di lingkungan sekitar apartemennya? Ah, sudahlah, namanya juga idiot plot.) Susy pun kembali sendirian. Dan pintu apartemennya masih tidak terkunci/dikunci. Susy bisa saja mengunci pintu apartemennya, seperti yang kemungkinan besar bakal dilakukan oleh “orang normal berakal sehat” ketika menerima teror dari luar rumah, namun dia tidak melakukannya. Susy TIDAK MENGUNCI PINTU apartemennya! Duh gusti kanjeng ratu…

Tiga orang jahat keluar-masuk apartemen untuk melancarkan aksi teror dengan kebebasan penuh layaknya finalis ajang pencarian bakat yang naik-turun panggung untuk menampilkan, er, bakatnya di stasiun televisi nasional. Dalam suasana pengap dan keremangan kamar kos berukuran 2 x 3 meter — serta ekspresi takut dan ngeri di wajah puan betina kesayangan saya — yang seolah melengkapi atmosfer mencekam dari klimaks terakhir di film ini, apakah saya merasa takut atau setidaknya hanyut dalam ketegangan yang coba dibangun oleh Young dari awal hingga akhir? Tidak, saya malah heran bercampur geregetan dan bertanya-tanya mengapa Susy TIDAK MENGUNCI PINTU apartemennya.

Wait Until Dark, seperti yang telah saya tulis di atas, adalah sebuah film yang bagus. Saya tidak bermaksud untuk memberikan kesan bahwa ini adalah film yang sepenuhnya jelek. Sumpah demi apa pun, tidak ada hal yang mengecewakan dari film ini. Hepburn selalu menampilkan kinerja yang memesona dan Arkin terlihat cukup meyakinkan dalam memerankan karakternya sebagai seorang pembunuh sadis. Idiot plot lambat yang digunakan oleh Young tidak terkesan membosankan dan, secara perlahan, sukses membikin saya betah menonton film ini sampai akhir. Ada beberapa scene yang menampilkan teror dengan bagus dan terasa pas, serta ending film dengan klimaks khas genre thriller/horor-suspense — di mana Susy menghancurkan semua bola lampu di apartemennya, sebelum akhirnya berkonfrontasi satu lawan satu dengan Roat di ruangan yang sepenuhnya gelap dan sesak — adalah momen menegangkan dan menakutkan yang mampu membikin V, puan betina kesayangan saya itu, menjerit dan beberapa kali memukul pundak saya diikuti dengan simpul kecil senyum senja di bibirnya.

Sementara itu … saya hanya ingin Susy MENGUNCI PINTU apartemennya. Sekarang juga!

Itu saja. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s