Two Days, One Night (2014)

Poster film. (gambar: "Rotten Tomatoes")
Poster film. (gambar: “Rotten Tomatoes”)

MARION Cotillard mengesampingkan aura selebritis dan tampilan glamornya untuk memerankan karakter pekerja kelas menengah urban dalam Two Days, One Night garapan Luc dan Jean-Pierre Dardenne. Film ini merupakan “penyimpangan” tersendiri bagi Cotillard yang pernah meraih Piala Oscar karena kinerja akting briliannya dalam menerjemahkan pasang-surut kehidupan glamor Édith Piaf di film La Vie en rose (2007), sementara ini merupakan area kerja yang disukai dan dikuasai dengan baik oleh Dardenne Bersaudara — baik itu secara tematik maupun tone filmnya. Telah menjadi rahasia umum bahwa Dardenne Bersaudara memiliki ketertarikan, kecerdasan, dan kinerja yang mumpuni dalam menceritakan kisah realisme sosialis tentang kejujuran dan keanggunan perjuangan hidup harian “orang-orang biasa”: mulai dari La Promesse (1996), The Son (2002), L’Enfant (2005), sampai The Kid with a Bike (2011). Di Two Days, One Night ini, Dardenne Bersaudara bercerita tentang seorang istri sekaligus ibu dari dua anak yang berjuang untuk mendapatkan kembali pekerjaannya di sebuah pabrik pembuat panel-surya di Kota Seraing, Belgia.

Yang membedakan film ini dengan karya sinematik Dardenne Bersaudara sebelumnya adalah mereka berdua memutuskan untuk menggunakan aktris tenar lantas kemudian menempatkannya dalam rangkaian tracking shot panjang di area perkotaan dan pencahayaan alami yang selama ini telah menjadi ciri khas mereka. Setelah 27 menit durasi film ini, saya bergumam: “Oh, lihat, Marion Cotillard ternyata berani keluyuran keliling kota tanpa memakai riasan kosmetik mahal dan rambutnya masih berantakan.” (Di samping saya, sang kekasih yang menemani menonton film ini membalas dengan ketus: “Memangnya kenapa, huh? Cuma gitu doang mah sepele. Aku juga berani mutermuter kota tanpa pakai make-up di wajah dan rambutku belum tersisir rapi!” Saya hanya bisa melemparkan senyum kecil.) Bukan apa-apa, Cotillard adalah seorang aktris luar biasa dengan mata ekspresif dan keindahan wajah yang mampu menggambarkan ketenangan dan penderitaan karakter yang diperankannya secara autentik tidak pretensius atau berpura-pura karena terpaksa. Sindiran ketus dan ekspresi cemberut sang kekasih pun tidak mampu menihilkan kekaguman saya terhadap kinerja akting brilian Cotillard di film ini. (Maafkan kekasih yang sangat mencintaimu ini, V. :p)

Dalam retrospeksi, Sandra Bya (karakter yang diperankan Cotillard di film ini) memiliki kemiripan dengan Ewa Cybulska, karakter yang dia mainkan dalam The Immigrant (2013) karya James Gray di mana Cotillard mendapatkan banyak pujian dari kritikus film. Keduanya — Sandra dan Ewa — adalah perempuan yang berada dalam keadaan sulit yang mengharuskan mereka berdua berjuang sekeras-kerasnya upaya dan sekuat-kuatnya tenaga untuk mempertahankan standar yang paling rendah sekali pun demi bertahan hidup; keduanya mengambil keputusan sulit untuk melindungi anggota keluarganya meskipun hal itu membikin mereka terhina dan dipermalukan dengan cara yang paling kejam dan buruk. Perbedaannya adalah Gray menceritakan kisahnya dengan setting latar belakang dan desain produksi bercorak abad yang telah lalu, sementara Dardenne Bersaudara tetap dalam realisme sosialis modern yang telah menjadi zona nyaman mereka.

Di rangkaian pembuka film ini, Dardenne Bersaudara seolah membawa penontonnya ke tengahtengah suatu hal dan menantang saya — sebagai penonton, tentu saja — untuk tetap memusatkan fokus perhatian pada alur plot film. Selama beberapa saat, masih belum jelas apa yang sebenarnya terjadi: Sandra sedang tidur siang di sofanya, dering telepon membangunkannya, dan percakapan via telepon itu membikinnya terkejut dan sedikit bersemangat. Secara perlahan dan syahdu, Dardenne Bersaudara menyatukan potongan demi potongan plot menjadi satu cerita yang utuh, tulus, nyata, dekat, dan menggugah dari perjuangan tidak kenal lelah yang dilakukan Sandra selama dua hari satu malam.

Sandra dipaksa mengambil cuti atau diberhentikan sementara dari pekerjaannya karena mengalami periode penyakit mental akibat stres, depresi, dan kecemasan akut. Alasan yang menyebabkan Sandra menderita penyakit mental itu sebenarnya tidak dijelaskan secara eksplisit, namun beberapa potongan adegan yang menampilkan Sandra meminum obat penenang mengonfirmasi hal ini. Sandra tinggal di sebuah rumah sederhana bersama dengan suami penuh kasih sayang (Manu Bya [Fabrizio Rongione]) yang bekerja sebagai juru masak restoran dan dua anak manis mereka. Keluarga kecil ini membutuhkan gaji Sandra agar bisa memenuhi kebutuhan hidup harian mereka. Jadi, ketika rekan kerja Sandra menelepon dan memberitahukan kabar bahwa dia mungkin masih memiliki kesempatan untuk bisa kembali bekerja, Sandra merasa tergerak untuk memperjuangkan kemungkinan dan kesempatan kecil itu kendati kondisi kesehatannya masih cukup rentan dan lemah. Sudah cukup jelas bahwa Sandra menganggap pekerjaannya itu merupakan identitas dan kebanggaan tersendiri, sama seperti manusia kelas menengah urban pada umumnya.

Premis itu diperkuat dengan konflik atau masalah yang harus dihadapi Sandra: 16 rekan kerjanya menyadari bahwa mereka mampu menutupi ketiadaan Sandra dengan bekerja dalam jam kerja yang sedikit lebih panjang dan manajemen pabrik mengusulkan kompensasi bonus sebesar €1.000 jika mereka setuju dengan rencana pemecatan Sandra secara permanen. Satu-satunya cara agar Sandra bisa kembali bekerja adalah dengan membujuk sebagian besar rekan kerjanya agar mau menolak kompensasi bonus tersebut. Situasi yang dihadapi Sandra cukup rumit dan terkesan sadis, dan Dardenne Bersaudara berhasil menggunakan hal itu untuk menggerakkan rangkaian plot film ini yang membikin saya bersimpati dengan kesulitan yang dialami oleh Sandra.

Kisah realisme sosialis ini bukanlah pernyataan yang terlampau politis atau sentimen geografis tertentu yang berlebihan dari Dardenne Bersaudara. Korporasi — di mana pun itu — memang memiliki tabiat brengsek dan menjijikkan dalam mengadu sesama pekerja. Ini bukanlah kesalahan rekan kerja Sandra sepenuhnya bahwa manajer pabrik, M. Dumont (Batiste Sornin), telah memaksa mereka untuk mengambil pilihan yang sulit, atau bahwa pada kenyataannya mandor mereka, Jean-Marc (Olivier Gourmet), telah mengancam sebagian besar dari mereka bakal dipecat jika Sandra berhasil mendapatkan pekerjaannya kembali. Situasi rumit yang dihadapi Sandra bisa saja dialami oleh semua pekerja di seluruh penjuru dunia yang semakin kapitalistik dan banal ini.

Selama akhir pekan, Sandra harus berkeliling kota untuk mengetuk pintu demi pintu (dan hati) dari 16 rekan kerja yang akan menentukan nasibnya di tempat kerja. Mengenakan kaus tanpa lengan (dengan tali kutang terlihat di bagian belakang tubuhnya serta — seperti yang sudah saya tulis di atas — tanpa riasan kosmetik dan rambutnya berantakan) dan celana jins ketat, Sandra mendatangi satu per satu rumah rekan kerjanya untuk memulai dan mengulang-ulang percakapan dengan cara dan maksud yang sama. Beragam respons dan reaksi dari rekanrekan kerja Sandra menyajikan dinamika ketegangan yang menyayat jantung ke dalam ritme repetitif film ini.

Sebagian besar rekan kerja Sandra berada dalam kesulitan keuangan yang hampir sama dan mereka memiliki alasan masingmasing untuk tetap menerima kompensasi bonus dari manajemen pabrik. Beberapa bersimpati dengan penderitaan Sandra dan setuju untuk memberikan suara agar Sandra bisa kembali bekerja, sementara sebagian lainnya tidak tergerak sedikit pun dengan perjuangan Sandra. “Don’t take it badly,” ucap salah satu rekan kerja perempuan setelah menolak permintaan Sandra sembari memberikan ciuman di pipi. Efek kumulatif dari perjuangan dan penderitaan Sandra ini membangun momentumnya dengan tepat, menyelinap ke hati dan pikiran saya untuk memenangkan simpati saya dan membikin saya berharap upaya Sandra itu mengarah pada keberhasilan.

Dardenne Bersaudara memberikan konklusi yang saya yakin bisa membalikkan konsep atau gagasan konvensional tentang definisi “kesuksesan”. (Rangkaian adegan penutup film menampilkan rekanrekan kerja Sandra melakukan pemungutan suara kedua di mana delapan orang ingin Sandra kembali bekerja dan delapan orang lainnya memilih untuk tetap menerima kompensasi bonus dari manajemen pabrik. Hasil akhirnya: Sandra tetap diberhentikan dari pekerjaannya. Namun manajer pabrik mengatakan bahwa manajemen bisa saja mempekerjakan Sandra kembali dengan cara memecat salah satu rekan kerja yang telah memberikan suara untuk Sandra pada pemungutan kedua itu. Sandra menolak usulan itu — dan setelahnya Sandra ditampilkan keluar dari pabrik dengan kepercayaan diri dan keyakinan untuk memulai sesuatu yang baru dalam hidupnya.) Sama seperti filmfilm bikinan Dardenne Bersaudara sebelum ini, kekuatan dan keindahan Two Days, One Night muncul dalam bentuk ketenangan dan kesederhanaan cerita yang terasa nyata dan dekat. Dardenne Bersaudara tidak pernah tertarik untuk membikin film di mana karakter utama mereka mampu menyelamatkan dunia dari kehancuran, mereka hanya ingin menyajikan karakter sederhana yang autentik sedang berjuang agar bisa bertahan hidup dalam tema realisme sosialis — dan hasilnya selalu mampu membikin saya bersimpati dan mengapresiasi kegigihan perjuangan setiap karakter utama rekaan Dardenne Bersaudara. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s