The Hurt Locker (2008)

Poster film. (gambar: IMDb)
Poster film. (gambar: IMDb)

KEBANYAKAN film selalu diawali dengan kutipan yang begitu puitis, namun The Hurt Locker dibuka dengan sebuah kalimat yang menggambarkan fakta: “The rush of battle is often a potent and lethal addiction, for war is a drug…” Kalimat itu sejatinya tidak berlaku untuk semua orang. Sebagian besar tentara (dan warga sipil yang terjebak di tengahtengah suasana perang) sangat berharap bahwa perang dapat segera berakhir dan bisa pulang ke rumah dengan selamat. Namun tokoh protagonis dalam film ini, Sersan William James yang memiliki tugas sangat berbahaya, menganggap perang adalah kesenangan harian. Di selasela ancaman tembakan musuh di Irak, William memiliki tugas untuk menjinakkan bom.

William bukanlah pahlawan, dia adalah spesialis layaknya seorang ahli bedah yang hanya memfokuskan diri pada satu bagian tubuh berulang kali, hari demi hari. William adalah orang yang mengerti bom luar-dalam dan memahami cara berpikir para pembuat bom. Film ini menjadi bagus karena dalam beberapa adegan tertentu menampilkan pembuat bom berdiri — di jendela atau balkon dengan jarak pandang yang sangat jelas ke jalanan — memerhatikan dengan rasa penasaran dan khawatir terhadap bom bikinannya yang sama seperti yang dirasakan oleh William. Dua profesional bekerja melawan satu sama lain.

Jeremy Renner berperan sebagai William dan kinerjanya tidak dibangun di atas deretan dialog rumit, melainkan dalam sebuah proyeksi mendalam dari identitas serta apa yang dirasakan oleh William saat bertugas. William, sekali lagi, bukanlah seorang pahlawan dalam arti konvensional — dia tidak peduli terhadap medali penghargaan. William — tidak diragukan lagi — mendasarkan pekerjaannya pada alasan patriotisme, namun apakah hal itu bisa menjelaskan mengapa dia secara kompulsif — terkadang sembrono — menempatkan dirinya dalam bahaya? Orang yang melakukan pekerjaan menjinakkan bom sebelumnya telah mati dalam bertugas, dan William dengan kesombongan dan kecerobohannya tidak memedulikan hal itu.

The Hurt Locker ini adalah film perang yang memukau garapan Kathryn Bigelow, seorang ahli dalam cerita tentang perempuan dan lelaki, yang memilih untuk tetap berada dalam tema bahaya fisik. Hal pertama yang dipedulikan oleh Bigelow adalah tentang orang-orang, kemudian tentang bahaya yang sedang dihadapi oleh orang-orang itu; dia tidak memberikan banyak ruang untuk hal lain. Orang yang pertama kali beranggapan dan menuliskan “… war is a drug” adalah Chris Hedges, wartawan perang untuk The New York Times. Penulis naskah film ini, Mark Boal, pernah meliput langsung aktivitas regu penjinak bom tentara Amerika Serikat di Baghdad, Irak; dia juga menulis naskah film In the Valley of Elah (2007) — berdasarkan kisah nyata, dan katanya kawan saya sangat bagus — tentang seorang veteran polisi mencoba untuk memecahkan kasus pembunuhan anaknya yang baru kembali dari tugas sebagai tentara di Irak.

Film ini tidak bisa (atau, bahkan, sulit) untuk dijelaskan dengan katakata, namun setelah menontonnya saya merasa memiliki gambaran yang cukup jelas tentang alasan kenapa William merasa harus/butuh untuk menjinakkan bom, di antaranya: (1) bom itu memang harus dijinakkan; (2) tidak ada yang lebih ahli dalam menjinakkan bom ketimbang William; (3) William tahu betul kemampuannya sendiri dalam menjinakkan bom; dan (4) ketika William bertugas, dia seperti merasa berada di zona nyamannya sendiri, sama seperti ketika seorang seniman kehilangan waktu dan dirinya sendiri saat tengah berproses menciptakan sebuah mahakarya. Film ini, dengan keunikannya, melekat di pikiran saya. Boal dan Bigelow tahu apa yang sedang mereka lakukan.

Orang yang paling penting dalam kehidupan William (di medan perang) adalah Sersan J. T. Sanborn (diperankan oleh Anthony Mackie), pimpinan regu dukungan yang bertugas melindungi William saat menjinakkan bom. Sanborn dan anak buahnya memberikan rasa aman kepada William, memeriksa lokasi bom untuk memastikan tidak ada penembak jitu dari pihak musuh, dan membantu William memakai/melepas baju pelindung ledakan yang beratnya minta ampun. Selama bertugas, Sanborn dan William berkomunikasi lewat perangkat audio yang ada di helm mereka. Singkat kata, Sanborn adalah malaikat pelindung William ketika bertugas.

Sanborn adalah tentara yang terampil dan bertanggung-jawab, dia bekerja berdasarkan SOP dan selalu menjalankan protokol seperti yang ada di dalam cetak-biru militer. Sanborn percaya bahwa jika mereka menjalankan tugas sesuai dengan prosedur, maka mereka semua memiliki peluang yang cukup besar untuk pulang ke rumah dengan selamat. Sanborn merupakan tipe orang lurus yang tidak pernah melalaikan tugas dan dia tidak pernah merasa gugup sedikit pun. Namun William tidak henti-hentinya membikin Sanborn marah sekaligus khawatir. William seringkali secara sengaja menempatkan regu mereka ke dalam bahaya. Sanborn adalah realis serta selalu beranggapan bahwa William itu pribadi yang sembrono dan gila.

William memang kerap bertingkah serampangan, sembrono, dan ceroboh, termasuk soal baju pelindung ledakan yang sering tidak dia kenakan saat bertugas — dia berani mengambil risiko. Namun saat sedang melakukan tugasnya menjinakkan bom, William sangat teliti dan berhati-hati seolah-olah dia sedang mengoperasi jantungnya sendiri. Sepanjang film, Bigelow tidak menggunakan mekanisme palsu untuk menciptakan ketegangan. Ini adalah film tentang kepribadian manusia saat berhadapan dengan bahaya yang begitu mengerikan: ketegangan yang dibangun dari awal hingga akhir film terasa begitu nyata dan mengasyikkan. (Ketika ada bom diletakkan di bawah meja, dan meledak, itu adalah salah satu elemen dalam film aksi [action]. Ketika kita tahu ada bom yang diletakkan di bawah meja makan, dan orang-orang yang ada di meja makan itu sedang bermain kartu remi dengan santai, dan bom itu tidak meledak, maka itu adalah ketegangan [suspense] yang mengasyikkan.)

The Hurt Locker merupakan film yang cerdas dan bagus, yang gambar demi gambarnya diambil dengan jelas dan intens sehingga saya sebagai penonton tahu persis karakter tokoh-tokohnya dan keberadaan mereka dan apa yang sedang mereka lakukan/kerjakan dan alasan mengapa mereka melakukan pekerjaan itu. Kinerja kamera dalam pengambilan gambarnya melengkapi dan semakin menyempurnakan naskah cerita film ini. Boal dan Bigelow tahu bahwa mereka tidak bakal bisa membangun ketegangan dengan beberapa potongan gambar yang hanya berlangsung dalam satu atau dua detik dan juga sepenuhnya sadar bahwa mereka tidak akan bisa menceritakan kisah bagus ini secara mendalam menggunakan teknik/cara seperti itu. Dengan penuh ketelitian dan syahdu, Bigelow berhasil memelihara ketegangan yang mengasyikkan dalam film ini dan mencoba menyingkap misteri/alasan mengapa ada orang seperti William yang menggantungkan hidupnya pada bahaya.

Iya, pada akhirnya, perang — bagi beberapa orang — adalah candu. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s