Sing Street (2016)

Poster film. (gambar: IMDb)
Poster film. (gambar: IMDb)

JOHN Carney, sutradara asal Irlandia yang pernah menggarap film keren berjudul Once (2007), kembali ke teritori dan tema yang sangat dikuasainya dengan film Sing Street yang dibumbui dengan beberapa lagu easy listening, dan rasa cintanya terhadap musik yang bisa memberikan pengaruh signifikan dalam perkembangan dan pertumbuhan karakter yang ada di film ini dan juga penontonnya. Sebuah lagu memiliki kekuatan ajaib untuk bisa membawa kita — saya dan kamu — kembali ke momenmomen tertentu: menjadi semacam katalis yang bisa menghubungkan kita ke kenangan romantik dan impian masa muda (yang sebagian besar tidak bisa mewujud nyata) dalam sebuah kontinum tertentu. Film ini mengambil tempat di Kota Dublin, Irlandia, pada tahun 1985 dan prospek masa depan untuk remaja Irlandia tampak suram. Rangkaian adegan pembuka film menampilkan warga Irlandia berbondong-bondong beremigrasi ke London untuk mencari pekerjaan dan masa depan yang lebih baik. Latar belakang moment-in-time menjadi elemen penting bagi film ini, sebuah karya sinematik tentang pencarian identitas/jati diri, kenyataan vs. impian, eskapisme, cinta, dan musik (dan karena setting filmnya adalah tahun 1985, karakter dalam film ini sangat mengagumi inovasi terbaru yang bernama video klip musik). Carney memiliki pengamatan yang tulus dan lucu untuk detail filmnya, pendengaran intuitif untuk dialog-dialognya, dan film ini menyentuh sisi yang sangat personal dengan cara yang bersifat universal.

Bakal selalu ada lubang atau titik lemah dalam kisah remaja macam film ini, namun Carney mampu menghindarinya dengan gampang agar bisa menjaga film ini dalam ritme dan jalur yang tepat. Carney menyajikan film ini dengan kepercayaan diri yang tinggi: dia paham kisah apa yang ingin diceritakan dan tahu apa yang ingin dicapainya. Film ini kocak dan menyenangkan, sekaligus juga menggugah bahwa ketika pada akhirnya saya telah rampung menonton film di mana impian memiliki makna yang kuat, di mana pintu eskapisme terbuka lebar, saya kembali diingatkan bahwa saya harus memiliki imajinasi dan keberanian yang cukup besar agar bisa menciptakan peluang dan mengambil kesempatan untuk mewujudkan impian dan hasrat. “Menciptakan peluang dan mengambil kesempatan” bagi karakter utama yang ada di film ini memiliki arti dalam banyak hal: membikin band meskipun dia tidak terlalu jago memainkan alat musik, memakai riasan kosmetik yang mencolok meski dia adalah seorang remaja lelaki, menyebrangi jalan untuk mengobrol dengan gadis-manis-berpakaian-denim yang setiap hari dia lihat di depan sekolahnya. Plot film ini tidak pernah terjebak dalam kerinduan, harapan, dan penderitaan karakter utamanya saja — seorang remaja lelaki bernama Conor “Cosmo” Lalor yang diperankan dengan meyakinkan oleh Ferdia Walsh-Peelo. Film ini percaya pada impian setiap karakter yang ada di dalamnya, bahkan karakter yang paling minor sekali pun.

Cosmo dan dua saudara kandungnya (Brendan [Jack Reynor] dan Ann [Kelly Thornton]) tidak hidup dalam sebuah keluarga yang berantakan, namun pertengkaran orangtua mereka (Robert [Aidan Gillen] dan Penny [Maria Doyle Kennedy]) yang semakin intens membikin kehidupan Cosmo, Brendan, dan Ann serasa di neraka. Dua saudara kandung Cosmo berupaya melarikan diri dari ketegangan keluarga dengan cara mereka masingmasing: Brendan memilih untuk menyendiri di kamarnya dengan mengisap ganja dan mendengarkan koleksi album musiknya, sementara Ann lebih memilih untuk mengabdikan diri pada studinya. Kehidupan Cosmo menjadi semakin hampa ketika orangtua-nya memutuskan untuk memindahkannya dari sekolah swasta bonafide ke sekolah publik murahan bernama Synge Street CBS: ini seperti melempar daging segar ke dalam kandang singa buas. Synge Street CBS adalah sekolah publik berisikan siswa dan pendeta kasar yang membikin film ini terkesan mengambil tempat di sebuah penjara dengan level keamanan maksimum untuk kumpulan kriminal kejam. Cosmo di-bully habis-habisan di sekolah dan akhirnya berteman dengan sesama korban bullying lainnya, Darren (Ben Carolan).

Ketika berada di rumah, Cosmo sering menghabiskan waktunya untuk duduk di sofa bersama Brendan menonton video klip musik dari Duran Duran yang ditayangkan di televisi. Cosmo kesulitan untuk memproses video klip musik itu, dan Brendan akhirnya mengambil peran menjadi mentor Cosmo perihal musik. Brendan tenggelam dalam impian-impiannya sendiri (yang tidak berhasil dia wujudkan), dan dia pun memutuskan untuk mengajari Cosmo agar tidak berubah menjadi pribadi yang menyedihkan seperti dirinya. (Sing Street memiliki gambaran yang cukup akurat tentang hubungan dekat antara kakak dan adik.) Cosmo yang terinspirasi dengan petuahpetuah yang disampaikan oleh Brendan akhirnya memutuskan untuk membikin sebuah grup musik bernama Sing Street. (Dalam proses pembentukan Sing Street, Cosmo berkenalan dengan Eamon [Mark McKenna] yang membantunya menulis lagu untuk band-nya.) Cosmo bisa bermain gitar a la kadarnya, dan dia cukup yakin bahwa musik bisa membawanya ke Inggris demi mendapatkan masa depan yang lebih membahagiakan dan lebih baik — seperti Duran Duran. Cosmo juga berpikir bahwa band bisa membikinnya terlihat lebih keren di depan Raphina (Lucy Boynton), seorang gadis-manis-berpakaian-denim yang sudah saya sebutkan di atas. Cosmo dan kawan-kawannya di Sing Street memutuskan untuk membikin sebuah video klip musik, dan Cosmo meminta Raphina menjadi model dalam video klip musik mereka. Secara mengejutkan (bagi Cosmo), Raphina menyetujui permintaan Cosmo itu.

Impian tidak selalu sejalan dengan kenyataan, dan semua karakter yang ada di film ini mendapatkan pembelajaran yang berharga dari hal itu. Namun terkadang kehidupan berjalan seperti mimpi (yang menjadi nyata): ketika band yang terdiri dari ketidak-cocokan tibatiba menyatu menjadi sebuah unit musik yang solid, ketika seseorang yang kita cintai menatap mata kita dengan mesra untuk kemudian mengecup bibir kita dengan penuh gairah. Impian sering dilupakan hingga akhirnya menguap lenyap dengan cepat — namun tanpa impian atau harapan, kita hanyalah sekadar makhluk mekanis yang melayang-layang di ruang hampa. Sing Street tumbuh dan berkembang dari melodi synth-pop menjadi grup musik dengan estetika new wave music sembari berupaya untuk mencari tahu jati diri atau identitas mereka yang sebenarnya.

Masa remaja merupakan salah satu fase dalam hidup di mana anak-anak muda mengembangkan karakter mereka dengan mencoba berbagai macam hal untuk menciptakan dan membentuk jati diri atau identitas yang dirasa cocok dengan kepribadian masingmasing. (Di film ini Cosmo ditampilkan sering berganti dandanan, mulai dari gaya berpakaian a la Simon LeBon sampai Morrissey, dan saya memaklumi hal itu sebagai proses Cosmo dalam pencarian atau pembentukan identitasnya.) Salah satu elemen paling penting dari masa remaja adalah menemukan “kawan seperjuangan”: orang-orang yang memiliki ketertarikan, kesukaan, impian, atau obsesi yang sama dengan kita; orang-orang yang bisa memahami dan menerima diri kita apa adanya. Find your people, find your own tribe, find your desires.

(Yang intinya adalah sangat menyenangkan dan melegakan bahwa masih ada remaja yang punya impian dan berani mengambil risiko untuk mewujudkannya, sebelum nantinya remaja itu berubah menjadi orang tua yang membosankan dan merasa kalah setelah dihajar sedemikian rupa kejamnya oleh kenyataan.)

Ada begitu banyak rangkaian adegan dan momen yang menenangkan dari proses pertumbuhan hubungan asmara Raphina dan Cosmo, deretan video klip musik Sing Street, serta adegan pertengkaran antara Cosmo dan Brendan. Carney berhasil menanamkan rangkaian adegan film ini dengan melankolis yang menyayat jantung dan kelucuan yang tidak pretensius. Dalam hal ini, keberhasilan Carney tersebut dibantu oleh kinerja brilian dari Walsh-Peelo yang mampu menampilkan keseluruhan emosi dari karakter utamanya: ketakutan, rasa sakit, romantisme remaja, kepedihan, ambisi, kesadaran bahwa dunia ternyata lebih menakutkan dan lebih menyakitkan daripada yang selama ini dia bayangkan sebelumnya. Pemeran pendukung film ini juga mampu memberikan kinerja akting yang bagus.

Konflik film ini sungguh memilukan dan membikin frustasi, kemenangan/keberhasilan di akhir ceritanya terkesan memuaskan dan melegakan, serta relasi antarkarakter-nya bekerja pada tingkat primordial yang bergetar syahdu pada frekuensi tertentu. Film ini ditutup dengan kalimat dedikasi Carney (“For brothers everywhere” — dan ketika menulis ulasan ini saya memikirkan kakak dan adik saya yang selalu bisa menginspirasi dengan cara mereka masingmasing; terimakasih Andhien dan Mas Rangga!) sebelum layar menampilkan kredit akhir film yang mampu melepaskan perasaan atau emosi atau apa pun yang tidak sempat diucapkan. Film ini terasa begitu tulus, dan semakin menyayat jantung karena kalimat dedikasi tersebut.

Sing Street membikin saya mengingat-ingat kembali kenangan romantik tentang masa remaja: suatu masa ketika saya masih gagah-gagahnya dan terlampau naif serta sok idealis yang meyakini bahwa saya bisa menyeimbangkan kenyataan dengan impian untuk menaklukkan dunia, sebelum akhirnya saya dikalahkan sedemikian rupa dengan cara yang paling kejam dan paling buruk. Frasa “impian tidak bakal pernah bisa bergandengan tangan dan sejalan dengan kenyataan” adalah klise yang harus saya tenggak setiap bangun tidur di pagihari untuk kemudian bersiap menghadapi banalitas hidup harian yang membosankan di dunia yang semakin tua dan tidak baikbaik saja saat ini.

Namun … selama masih ada rokokputih dan kopihitam (serta kamu, puan betina kesayangan), saya merasa baikbaik saja. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s