Aloft (2014)

Poster film. (gambar: IMDb)
Poster film. (gambar: IMDb)

CLAUDIA Llosa merupakan sutradara yang paling sering disebut-sebut ketika membincangkan dunia perfilman Peru. Film garapan Llosa selalu mendapatkan apresiasi dari para kritikus di setiap festival film yang diikutinya. Film pertama Llosa, Madeinusa (2005), mendapatkan respons positif ketika diputar di Festival Film Berlin, sementara The Milk of Sorrow (2009) memenangkan Golden Bear dan hadiah FIPRESCI di 59th Berlin International Film Festival serta kemudian menjadi film Peru pertama yang masuk dalam nominasi 82nd Academy Awards untuk kategori Best Foreign Language Film. Dan saya telah menunggu Aloft sejak film berbahasa Inggris pertama bikinan Llosa ini diputar pertama kali di 64th Berlin International Film Festival pada tahun 2014 kemarin. Ekspektasi saya semakin berlebih karena film ini dibintangi oleh Mélanie Laurent, Cillian Murphy, dan Jennifer Connelly.

Dari beberapa artikel yang saya baca di internet menyebutkan bahwa film ini mengalami editing ulang atas permintaan Sony Pictures Classics selaku pemegang hak distribusinya setelah pemutaran perdananya di Berlin. Dalam sejarah sinematik dunia, editing ulang setelah pemutaran perdana di sebuah festival film adalah proses yang jarang dilakukan karena dikhawatirkan bakal menurunkan kualitas dan kekuatan film itu sendiri. Hanya sedikit film — Nebraska (2013) dan Inglourious Basterds (2009), misalnya — yang mendapatkan respons positif dan memperoleh keuntungan yang sangat besar setelah mengalami proses editing ulang. Dan setelah pemutaran pertama di Berlin, nyaris semua kritikus film memberikan ulasan negatif untuk film ini. Namun hal itu tidak menyurutkan niat saya untuk menunggu tanggal rilis film — atau dalam konteks pribadi saya sebagai penikmat dan kolektor film gratisan: link unduhnya. :p

Bulan kemarin, lupa persisnya tanggal berapa, saya akhirnya menemukan link unduh film ini setelah menunggu selama dua tahun lebih. Saya tidak pernah tahu apakah versi asli (sebelum mengalami proses editing ulang) dari film ini lebih bagus dan enak untuk ditonton. Yang saya tahu dengan pasti adalah bahwa Aloft yang berhasil saya unduh dan tonton berdua dengan kekasih di kamar kos saya yang pengap beberapa hari kemarin merupakan film jelek yang berhasil menghilangkan nafsu makan saya.

Seperti filmfilm sebelumnya, Llosa menyoroti bekas luka akibat peristiwa traumatik yang pernah dialami oleh karakter utama di film ini, dan diceritakan dalam dua plot. Plot pertama menampilkan Nana Kunning (Connelly), seorang single mother dengan dua anak yang berupaya sekuat tenaga untuk melakukan segalanya agar bisa menyelamatkan hidup salah satu anaknya (Gully Kunning [Winta McGrath]) yang menderita kanker (dalam film ini sebenarnya tidak ada penjelasan perihal penyakit yang diderita oleh Gully, entah itu kanker atau wabah mematikan yang hanya ada di masa depan), termasuk pergi berobat ke seorang dukun. Plot kedua menampilkan Ivan Kunning yang sudah dewasa (Murphy) didatangi oleh seorang wartawan bernama Jannia Ressmore (Laurent) yang ingin membikin sebuah film dokumenter tentang Nana yang telah meninggalkan Ivan selama lebih dari 20 tahun untuk menjadi dukun dan kini bertempat tinggal di sebuah kamp terpencil di Kutub Utara.

Tidak ada yang menarik dari film ini, mulai dari plot ceritanya sampai teknik pengambilan gambarnya yang selalu berurusan dengan salju dan dingin. Kekasih tersayang, Kanjeng Ratu F, yang menemani menonton film ini pun lebih sibuk dengan ponsel-cerdasnya dan camilan yang berserakan di meja kecil kamar kos saya; dia hanya sesekali saja menatap layar laptop sembari menganggukkan kepalanya dan tersenyum yang entah memiliki maksud apa. Sementara bagi saya, setidaknya ada dua hal yang cukup mengecewakan dan mengganggu dari film ini. Yang pertama adalah ketika pada akhirnya dua plot itu tampak berhubungan satu sama lain (dari segi karakternya, bukan struktural jalan ceritanya), penjelasan terkait transisi Nana menjadi seorang dukun dan rasa benci Ivan yang begitu besar terhadap Nana disajikan dengan tipis dan sangat tidak memuaskan. Itu semua bermuara pada insiden tragis (kematian Gully karena tenggelam dalam danau es) dengan atmosfer melodramatis yang dibuat-buat dan dilebih-lebihkan.

Permasalahan utamanya adalah film ini terlalu berani menggantungkan inti emosionalnya pada sisi psikologi anak kecil, namun Llosa tidak bisa menggarap dan mengeksekusinya dengan baik. Membahas tentang psikologi anak kecil merupakan suatu hal yang sangat sulit untuk dilakukan bagi sineas film, terutama ketika hal itu dimaksudkan untuk membikin sebuah tontonan melodramatis yang menyayat jantung di satu sisi dan menghibur di sisi lainnya. Film tentang anak kecil cenderung lebih menarik dan enak dinikmati ketika ditampilkan dengan lebih ekspresionis untuk menyajikan dunia yang berjalan dan diatur oleh imajinasi anak-anak (Bridge to Terabithia [2007] garapan Gábor Csupó, misalnya, atau Where the Wild Things Are [2009] bikinan Spike Jonze), atau menggunakan anak kecil sebagai simbolisasi untuk memvisualkan keterasingan dan kegelisahan dari relasi orangtua-anak (contohnya: The Kid with a Bike [2011], Goodnight Mommy [2014], dan The Babadook [2014]). Sementara dalam Aloft, Llosa menampilkan Ivan kecil hanya sebagai sekadar karakter — satu-satunya hal yang saya tahu tentang Ivan adalah bahwa dia marah dan memendam kebencian untuk ibunya.

Sangat sulit untuk bersimpati dengan anak kecil yang selalu kelihatan marah tanpa sebab yang jelas, tidak peduli tampangnya imut, lucu, atau manis — The Kid with a Bike, Goodnight Mommy, dan The Babadook, sutradara dalam tiga film itu memahami hal ini dan kemudian menggunakannya sebagai elemen untuk menghadirkan keindahan dan rasa simpati. Kebencian dan amarah Ivan yang dirancang sebagai konflik utama film ini tidak dikembangkan dan dieksplorasi dengan cukup baik oleh Llosa dan gagal menghadirkan simpati, dan ketika konflik utama dalam sebuah film tidak mendapatkan simpati (atau, minimal, perhatian) dari penonton maka bisa dipastikan bahwa film tersebut berjalan dengan buruk dan membosankan, menjurus menyebalkan. Ada banyak sekali adegan yang menampilkan Nana berbicara tentang filosofi norak bahwa kehidupan ini keras dan apalah dan apalah kepada Ivan yang hanya berdiri diam setengah mendengarkan, yang biasanya bisa ditemukan dalam adegan sinetron murahan di stasiun televisi swasta hari ini. Llosa tampaknya tidak tertarik untuk memberikan penjelasan agar penontonnya mengerti jenis relasi seperti apa yang terjadi antara Nana dan Ivan, karena meskipun sering ditampilkan bersama dalam banyak adegan, nyaris tidak ada komunikasi yang begitu menonjol di antara mereka berdua.

Kurangnya komunikasi antara Nana dan Ivan itu membawa saya ke hal yang tidak saya suka nomor dua dari Aloft: akhir film yang terasa digarap dengan tergesa-gesa dan tidak serius yang mengungkapkan tipisnya plot cerita dan kedangkalan semua karakter yang ada di film ini. Nana adalah seorang dukun atau penyembuh, dan film ini tentang luka masa lalu, namun ending film ini tidak memberikan gambaran yang jelas apakah luka itu berhasil disembuhkan atau luka yang mana yang sebenarnya ingin disembuhkan — intinya: Llosa tidak memberikan penyelesaian, konklusi, dan klimaks yang memuaskan. Film ini ditutup dengan adegan yang menampilkan seekor elang terbang tinggi di antara lanskap gunung es, seolah-olah menjadi metafora bahwa setiap karakter di film ini telah menemukan jawaban, yang meski pahit namun pada akhirnya mampu membebaskan dari trauma/kemarahan/kebencian masa lalu — walaupun sebenarnya tidak ada resolusi atau jawaban atau konklusi apa pun di akhir film ini. (Sumpah demi apa pun, metafora menggunakan elang itu sungguh konyol, sekonyol elang animasi komputer murahan di sinetron laga Indosiar!)

Ambiguitas tidak bakal berhasil, kecuali hal itu ditopang oleh plot cerita yang mantap dan karakter yang kuat. Plot cerita film ini bertumpuk, tidak jelas, dan terkesan berantakan, serta disajikan dengan gaya bercerita yang biasabiasa saja, sementara karakternya diciptakan hanya untuk sekadar ada dan untuk sekadar melayani kebutuhan plot cerita yang sudah cukup buruk. Keputus-asaan Nana, kebencian Ivan, dan keingin-tahuan Jannia malah terasa menggelikan, jika bukan menyebalkan.

Aloft adalah sebuah drama melankolis tidak jelas yang seolah-olah menawarkan jawaban untuk beberapa teka-teki kuno tentang kondisi psikologi manusia — dan, seperti yang telah saya tulis di atas, film ini tidak memberikan jawaban apa-apa! Llosa tampaknya ingin menghadirkan atmosfer misteri dan nuansa muram khas genre sains-fiksi distopia, namun misteri yang ada di film ini tidak semisterius yang diharapkan serta sains-fiksinya malah terasa menggelikan dan mengada-ada. Tidak ada apa-apa yang menarik dari 116 menit durasi film ini, kecuali Laurent yang memang selalu tampak manis dan menenangkan bagi mata saya.

Pada akhirnya saya menjadi penasaran dan bertanya-tanya bagaimana bisa seorang aktris semanis dan secerdas Mélanie Laurent menerima tawaran kerja dalam sebuah film superjelek seperti Aloft ini. Ah sudahlah, terserah Laurent dengan segala keindahan dan kecerdasannya saja: semoga panjang umur, mbak.

Dan juga, film ini mengingatkan satu hal kepada saya: penantian panjang itu tidak selalu menghasilkan sesuatu yang indah dan membahagiakan. Ting a ling! []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s