The Last Witch Hunter (2015)

Poster film. (gambar: IMDb)
Poster film. (gambar: IMDb)

SEORANG aktor bolehboleh saja membintangi banyak franchise di dunia perfilman, oleh sebab itu saya sebagai penonton yang budiman tidak merasa harus nyinyir kepada Vin Diesel (seri XXX, Guardians of the Galaxy, The Fast and the Furious, The Chronicles of Riddick) karena mencoba untuk memulai seri franchise yang baru dengan film The Last Witch Hunter. Sama seperti peran di seri franchise-nya yang lain, di film ini Diesel memerankan karakter protagonis dalam aksi kejar-kejaran melewati berbagai macam rintangan untuk mengalahkan musuhnya. Ini adalah sebuah film dengan jarak lompatan waktu yang cukup jauh, sebuah petualangan yang penuh dengan efek komputer dan lelucon garing, serta cerita klise tentang “kebaikan” (yang selalu dipersonifikasikan oleh lelaki gagah) melawan “kejahatan” (yang mesti direpresentasikan oleh perempuan dengan segala tipu muslihatnya).

Diesel berperan sebagai Kaulder, seorang prajurit di abad ke-14 yang mencoba menyelamatkan dunia dari cengkeraman penyihir, namun ketika berhasil mengalahkan sang Ratu Penyihir yang jahat (Julie Engelbrecht), Kaulder dikutuk menjadi makhluk abadi. Berabad-abad kemudian Kaulder masih berjuang melawan hal jahat, namun kali ini bertempat di Kota New York dan dia dibantu oleh sebuah faksi dari Gereja Katolik yang bernama The Axe and Cross. Untuk membantu pekerjaan Kaulder, The Axe and Cross memberinya seorang asisten dengan sebutan Dolan. Ketika Dolan ke-36 (diperankan oleh Michael Caine) mati, Kaulder menemukan keganjilan dan menyadari ada persekongkolan/pengkhianatan yang berupaya untuk menghidupkan kembali musuh lamanya, sang Ratu Penyihir yang jahat. Dalam penyelidikan ini, Kaulder dibantu oleh Dolan ke-37 (diperankan Elijah Wood).

Diesel memiliki karisma tertentu di sepanjang film ini, namun kinerjanya yang paling mengesankan di sini adalah dalam rangkaian adegan di Abad Pertengahan yang menampilkan dirinya masih berjenggot dan memakai mantel yang terbuat dari kulit dan bulu hewan, lengkap dengan agresivitas khas seorang prajurit yang perkasa dan tidak mengenal rasa takut. Sementara dalam rangkaian adegan di zaman modern, Diesel terkesan wagu karena harus menampilkan akting yang membutuhkan lebih banyak emosi dan ekspresi sendu. Untungnya Breck Eisner yang menjadi sutradara bisa membikin semua yang ada di film ini mengalir dengan cukup lancar (dan, bagi saya pribadi, kehadiran Rose Leslie yang sukses menjadikan film ini menarik secara visual) untuk menahan minat saya tetap duduk di depan layar laptop menonton film ini sampai kelar.

Kinerja Leslie bisa dibilang cukup berhasil dalam memerankan karakter sebagai penyihir cantik yang baik hati sekaligus juga kekasih Kaulder, yang sanggup menyisipkan nuansa lucu-menggemaskan (adegan selfie­ di bar, misalnya) di antara atmosfer kelam dan adegan action berbahaya di sepanjang film. Sementara Caine selalu bisa diandalkan untuk memerankan karakter pak tua bijaksana yang mendampingi, menjaga, dan menasihati sang pemeran utama — sebuah peran di dunia perfilman yang sudah sangat akrab dengannya. Dan Wood sepertinya juga memiliki waktu yang cukup untuk menampilkan kinerja aktingnya sembari bersenang-senang di depan kamera.

Rangkaian adegan action yang mendominasi film ini ditampilkan dengan efek komputer yang lumayan keren dan cukup rapi. Yang kurang mengesankan dan menggairahkan adalah sedikitnya porsi untuk adegan perkelahian fisik di film ini dan teknik editing-nya. Sementara hal yang bisa menghibur saya dari The Last Witch Hunter ini berasal dari aksen Leslie, dialog kelakar antara Diesel dan pemeran pendukung film ini, serta olok-olok romantis yang terasa tulus dan menyenangkan dalam adegan ketika Kaulder dan Chloe (seorang penyihir muda yang diperankan oleh Leslie) saling menggoda di bar milik Chloe.

(Satu-satunya adegan terbaik dan paling berkesan dalam film ini bagi saya adalah ketika Chloe yang setengah mabuk dan sendirian di rumahnya mencoba mengusir aura jahat yang mengancamnya dengan cara menyalakan begitu banyak lampu. Hal ini mengajarkan saya bagaimana cara menonton adegan tersebut tanpa ada karakter yang harus menjelaskan bahwa cahaya lampu itu adalah pertahanan terakhir Chloe terhadap apa pun yang mengancamnya. Dan, puji semesta, Leslie semakin manis dan menggemaskan dalam adegan itu.)

Film ini memang terasa terlalu ringan karena plotnya yang tipis dan seolah-olah naskahnya hanya peduli dengan dialog dan adegan yang — entah sengaja atau tidak — lupa memberikan penjelasan memuaskan tentang maksud yang sebenarnya dari cerita ini. Sudah jelas bahwa fokus keseluruhan ceritanya adalah melawan atau membasmi penyihir jahat (kisah klise yang cenderung misoginis), dan pada satu titik telah tercapai kesepakatan untuk hidup berdampingan dengan damai antara penyihir dan manusia di mana keberadaan “penjara penyihir” dibutuhkan untuk menghukum para penyihir yang membangkang dan mencoba mengganggu status quo tersebut, namun naskah film ini tidak memberikan petunjuk apa pun mengenai kemunculan tibatiba dari penyihir jahat bernama Baltasar Ketola/Belial (Ólafur Darri Ólafsson). Naskah film ini terlalu cepat dan tergesa-gesa dalam memunculkan dan menghilangkan karakterkarakter yang ada di dalamnya. Dan tiga penulis naskah film ini (Burk Sharpless, Matt Sazama, dan Cory Goodman) tampaknya tidak menyadari bahwa mereka mengakhiri cerita film ini pada sebuah catatan kosong yang berputar-putar dalam satu tempat di mana Kaulder melawan persekongkolan/pengkhianatan tertentu dan alasan di balik itu semua hanya untuk melakukan tindakan yang sama seperti sebelumnya karena alasan yang lagilagi sama.

Pada akhirnya, The Last Witch Hunter merupakan film yang mengecewakan dan gagal memberikan kesan yang manis — sebuah klise misoginis yang sudah terlalu sering dijual di luar sana dan mantra sihirnya sudah terlampau rusak sehingga tidak mempan untuk saya. Tampaknya Diesel harus sadar diri dan rela melupakan keinginannya untuk membikin seri franchise dari film ini, serta mulai meluangkan waktu untuk membaca kembali seri novel Harry Potter sembari mendengarkan Burn the Witch-nya Radiohead. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s