“Satu potret sempurna”

Mélanie Laurent. (gambar: "Pinterest")
Mélanie Laurent. (gambar: “Pinterest”)

ONE perfect shot, atau jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia secara harfiah berarti “satu potret sempurna”, adalah sebuah upaya dedikasi atau ode untuk keindahan gambar yang disuling atau dipisah atau diambil dari sebuah film atau karya sinematik tertentu yang disajikan dalam bingkai per bingkai. Ide atau konsep yang cukup menarik ini pertama kali digagas oleh Geoff Todd — seorang sineas dan jurnalis film asal Portland, Oregon, Amerika Serikat — sekitar tahun 2014 lalu melalui akun One. Perfect. Shot. di Twitter. Todd seolah-olah ingin merayakan momen tertentu dalam sebuah film ketika apa-apa yang ditampilkan di dalam sebuah rangkaian adegan di layar sinema terlihat indah dan menyatu secara tepat. Ini adalah salah satu wujud ekspresi dari besarnya rasa cinta seseorang kepada dunia perfilman.

Perubahan media — yang pada dasarnya mencoba untuk menerjemahkan pengambilan gambar dari teknik sinematografi ke fotografi — membutuhkan pengamatan jeli yang harus terus dilatih dan dikembangkan. Ada begitu banyak yang dapat dipelajari tentang komposisi dan desain indah dalam satu bingkai gambar dan, seperti yang telah banyak diketahui, sebuah film berisikan banyak sekali kumpulan gambar yang beberapa di antaranya memang sangat indah dan terkesan sempurna. Sinematografi dan fotografi sebagai perangkat narasi secara intrinsik berkaitan dengan sebuah upaya tertentu untuk menyampaikan kisah atau menyusun visi untuk menyempurnakan cerita dalam gambar. Fotografi secara umum didasarkan pada gagasan untuk merepresentasikan sepotong cerita yang berarti bahwa satu buah foto dalam isolasi “cuma” bisa menceritakan kisah sejauh apa yang ditampilkan oleh foto itu saja. Terlepas dari keterbatasan itu, sebuah foto — atau dalam konteks tulisan ini: one perfect shot — memiliki unsur tematik, emosional, dan bahkan karakter uniknya atau kesempurnaannya sendiri.

Chelsea Islan. (gambar: "Malesbanget")
Chelsea Islan. (gambar: “Malesbanget”)

Penyulingan atau pemisahan one perfect shot dari suatu karya sinematik biasanya inheren dengan tema atau inti atau ide utama yang ingin dibicarakan oleh film tersebut. Idealnya, one perfect shot minimal harus mampu menunjukkan gagasan tema dalam filmnya atau setidaknya mengisyaratkan titik plot tertentu atau sikap/hubungan antarkarakter-nya yang dianggap penting dan sejalan dengan tema cerita. Hal ini sangatlah sulit — jika tidak ingin mengatakan mustahil — untuk dilakukan dalam satu kesempatan pengambilan gambar pada proses pengerjaan/produksi sebuah film. Ada kemungkinan bahwa sebagian besar karya sinematik — bahkan beberapa film yang paling bagus sekali pun — tidak memiliki satu gambar yang masuk dalam kategori definisi one perfect shot itu. Tidak jarang one perfect shot cuma mempertimbangkan soal keindahan gambar yang berhasil ditangkap oleh indra penglihatan saja.

Contoh one perfect shot yang terus-menerus terbayang dan berputar di batok kepala saya ketika mengetik tulisan ini adalah adegan menegangkan yang menampilkan The Assassin in the Tan Suit (Jeff Wolfe), Irene (Carey Mulligan), dan Driver (Ryan Gosling) dalam sebuah lift di film Drive (2011) yang disutradarai oleh Nicolas Winding Refn dan sinematografinya digarap oleh Newton Thomas Sigel. (Film ini adalah sebuah dongeng noir — sebuah kisah cinta yang dikombinasikan dengan ultrakekerasan, isu dualitas psikologi manusia, kebutuhan terhadap adanya “pahlawan” kontemporer, dan konsekuensi dari setiap pilihan yang telah diambil sebelumnya.) Adegan menegangkan di dalam lift itu menjadi salah satu one perfect shot favorit saya: lampu yang menjadi sumber pencahayaan ada di sebelah kiri Irene dan posisi The Assassin in the Tan Suit berada dalam bayangan di sebelah kanan — sedikit di depan — Irene, sementara Driver berada di tengahtengah mereka berdua mencoba untuk melindungi Irene dari bahaya yang sedang mengancam. (Yang terjadi selanjutnya adalah sebuah kenikmatan visual ultrakekerasan yang memuaskan: Driver mencium mesra Irene dan kemudian menghajar The Assassin in the Tan Suit secara brutal sampai mati!) Ini adalah sebuah potret sempurna yang diambil dengan luar biasa brilian untuk menunjukkan resonansi tema filmnya dan menggambarkan kedekatan hubungan antara dua karakter utamanya.

"Drive" (2011) || Sinematografer: Newton Thomas Sigel. Sutradara: Nicolas Winding Refn. (gambar: OPS)
“Drive” (2011) || Sinematografer: Newton Thomas Sigel. Sutradara: Nicolas Winding Refn. (gambar: OPS)

Dan karena dilandasi oleh ode dan rasa cinta yang begitu besar untuk karya sinematik — serta rasa sayang saya terhadap keindahan dan kecantikan Mélanie Laurent dan Chelsea Islan — maka saya bakal meniru dan meneruskan ide Todd untuk mem-posting kumpulan one perfect shot (dari filmfilm yang pernah saya tonton sebelumnya) yang sesuai dengan kriteria dan kesukaan saya sendiri di blog ini. Sebagian besar one perfect shot tidak saya capture sendiri, melainkan saya comot dari internet.

Itu saja … tabik. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s