The Babadook (2014)

Poster film. (gambar: "Twitter")
Poster film. (gambar: “Twitter”)

IMAJINASI anak kecil biasanya menjadi titik awal bagi penjelasan dari halhal menyeramkan dan mengerikan yang terjadi pada malamhari, namun apa yang dibutuhkan oleh pikiran orang dewasa untuk menyerah pada rasa takut dan kecemasan yang sama? Amelia Vanek (diperankan oleh Essie Davis) dan putranya yang masih berumur enam tahun, Samuel Vanek (diperankan oleh Noah Wiseman), samasama menjalani kehidupan yang tidak gampang. Suami Amelia, Oskar Vanek (Benjamin Winspear), tewas karena kecelakaan dalam perjalanan mengantar Amelia ke rumah sakit untuk melahirkan Samuel (rangkaian adegan kecelakaan ini ditampilkan dalam mimpi buruk Amelia pada satu malam … dan itu memang merupakan rangkaian adegan mimpi buruk yang mengerikan!), dan Amelia masih belum bisa lepas dari dukacita yang begitu mendalam karena kejadian itu. Hari lahir Samuel merupakan pengingat kehilangan yang sangat menyakitkan bagi Amelia setiap tahunnya, dan hal ini menjadi semakin buruk dalam cara yang dramatis seiring dengan berjalannya sang waktu. Samuel sendiri sering diganggu dengan mimpi buruk tiap malam, dan ketika sebuah buku pop-up dengan judul “Mister Babadook” muncul secara misterius di rak buku Samuel, teror mengerikan yang selama ini hanya diimajinasikan Samuel mengejawantah dalam wujud monster bernama The Babadook (Tim Purcell) untuk menghantui kehidupan Samuel dan Amelia. Pada awalnya, Amelia mencoba untuk menangani imajinasi Samuel dengan kesabaran dan obat-obatan, namun peningkatan agresi Samuel dan kurangnya jam tidur Amelia menuntun ke arah konklusi yang mengerikan.

The Babadook adalah dongeng atau imajinasi seorang anak kecil yang mewujud nyata dan dihidupkan dengan kombinasi mematikan dari ketakutan dan kesedihan — dan ketika kasih sayang Amelia untuk Samuel kian menipis-nyaris-hilang-sepenuhnya, hal itu semakin menambah lapisan kehancuran psikologis akibat teror yang berpotensi menjadi ancaman supernatural dalam wujud nyata. Ini merupakan sebuah film dengan kisah sederhana yang diceritakan dengan luar biasa brilian sehingga mampu membikin tubuh saya menggigil karena rasa takut serta pada saat yang bersamaan tidak hentinya bersimpati terhadap Samuel dan Amelia.

Tingkah laku nakal Samuel sangat menguras energi kehidupan Amelia. Upaya sekuat tenaga Amelia melawan dorongan impulsif untuk semakin membenci Samuel membikinnya semakin terjebak dalam lingkaran teror dan kebencian yang tidak memiliki jalan keluar. Samuel sering membikin masalah di sekolahnya, dan ketika Samuel melukai sepupunya, Amelia dijauhi oleh kerabat dan keluarganya sendiri. Hal ini membikin Samuel dan Amelia harus menghadapi teror mengerikan dari The Babadook tanpa bantuan dari orang lain, dan sementara Amelia mencoba untuk meyakinkan dirinya dan Samuel bahwa monster itu hanyalah sekadar khayalan semata, fakta yang terjadi malah membuktikan yang sebaliknya.

Amelia kemudian menghancurkan buku pop-up “Mister Babadook” itu namun keesokan paginya dia mendapati buku sialan itu utuh kembali di teras rumahnya. Isyarat kemunculan monster The Babadook datang dengan semakin intensnya bunyi-bunyian menakutkan menggema di rumah Amelia. Potensi horor disandingkan dengan imajinasi Samuel yang semakin menjadi-jadi. Ketika mimpi buruk semakin rutin mendatangi tidur malam Samuel dan membikin kesehatan pikiran Amelia menurun akibat harus terjaga tiap tengah malam untuk menenangkan Samuel, konflik di antara keduanya menjadi tidak terhindarkan lagi.

Film ini merupakan adaptasi dari film pendek berjudul Monster (2005) yang juga ditulis dan disutradarai oleh Jennifer Kent, dan ketika banyak sineas gagal mengubah ide cerita film pendek menjadi karya sinematik layar lebar yang keren dan bagus, Kent berhasil melakukannya melalui penanganan cerdas dari eskalasi ide ceritanya serta pengembangan karakter dalam hubungan Samuel dan Amelia. Ada kesedihan yang menyayat jantung, kehilangan yang memedihkan, serta rasa cinta yang begitu tulus dan nyata di dalam inti dari perjalanan karakter-karakternya, dan film ini sudah cukup menyeramkan meski unsur supernatural atau monsternya dihilangkan.

Wiseman dan Davis memberikan kinerja akting yang luar biasa kuat dan menakjubkan. Wiseman mampu memenuhi ekspektasi untuk menunjukkan ketakutan dan cinta yang begitu autentik dari karakter yang dia perankan. Sementara Davis mampu menerjemahkan penderitaan Amelia sebagai sesuatu yang nyata dan asli ketika dia dihadapkan dengan kesedihan, kemarahan, dan kebencian seorang ibu yang telah kehilangan cinta sejatinya serta “hanya” memiliki seorang anak bermasalah sebagai hadiah perpisahan atau substitusi yang harus diterimanya setengah hati. Wiseman dan Davis, keduanya, mampu menghadirkan emosi nyata ke dalam cerita dan membikin teror yang dibangun secara perlahan di awal film ini menjadi lebih kuat, menegangkan, dan menyeramkan di second dan third act — yang pada akhirnya mampu memenangkan simpati dan empati saya sepenuhnya.

Kesederhanaan (dan teror) yang ada di dalam The Babadook benarbenar bekerja dan berjalan dengan irama yang begitu syahdu (dan menegangkan) untuk menjaga fokus plot ceritanya. Ini adalah film yang menyeramkan dan begitu emosional di mana elemen horornya terletak pada emosi seorang ibu yang berjuang sekuat-kuatnya tenaga dan sekeras-kerasnya upaya untuk melawan kesedihan berlarut-larut dari sebuah kehilangan serta terjebak dalam kebimbangan antara kasih sayang dan kebencian terhadap anaknya.

Tanpa mengumbar sadisme, dan dengan citra mengerikan yang sesuai takaran, The Babadook adalah berkah untuk melenyapkan rasa muak terhadap banalitas teror dan horor hidup harian yang semakin menyedihkan serta deretan frasa motivasi yang terlampau klise di luar sana. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s