Lights Out (2016)

Poster film. (gambar: IMDb)
Poster film. (gambar: IMDb)

SEBAGIAN besar kisah mengerikan selalu berakar pada rasa takut terhadap suatu hal yang bersembunyi di dalam kegelapan. Dengan mengeksploitasi ketakutan dan kecemasan manusia yang paling mendasar itu, Lights Out garapan David F. Sandberg mencoba untuk mengubah kegelapan — dan entitas yang bersembunyi di dalamnya — menjadi penjahat tidak kenal lelah untuk menghantui karakter protagonisnya. Mungkin karena menganggap bahwa premis seperti itu terlalu sederhana, Eric Heisserer sebagai penulis naskah film menambahkan latar belakang cerita receh dari “seorang anak bermasalah” dalam rangkaian plot film ini. Hasilnya? Film ini tidak sepenuhnya meyakinkan dan sama sekali tidak menakutkan. Ini merupakan film yang dipenuhi dengan elemen sinematik horor supermedioker: skrip mentah, karakter-karakternya remeh dan tanpa tujuan yang jelas, beberapa adegan kejutan yang cukup mengagetkan namun tidak menyeramkan, dan rangkaian dialog lemah yang membikin saya harus mengasihani diri sendiri karena telah menghabiskan 81 menit di depan layar laptop untuk menonton sesuatu yang … ya begitulah.

Film ini dibuka dengan rangkaian adegan yang memperkenalkan penonton kepada entitas jahat — yang hanya bisa menyerang dan dilihat saat gelap — membunuh seorang lelaki (Paul [Billy Burke]) di sebuah gudang tekstil dengan cara yang mengerikan dan kejam. Plot cerita film ini maju beberapa tahun setelahnya, menampilkan kehidupan istri dari Paul yang bernama Sophie (Maria Bello) yang menderita penyakit mental, putra mereka bernama Martin (Gabriel Bateman) yang merasa tertekan karena tinggal satu atap dengan Sophie, serta putri mereka berusia 20an yang bernama Rebecca (Teresa Palmer) yang telah memutuskan hubungan dengan keluarganya dan tinggal di apartemennya sendiri dan memiliki masalah komitmen romantis dengan kekasihnya. Ketika Martin mulai menyadari kebiasaan aneh Sophie berbicara dengan makhluk imajiner di rumah mereka, Rebecca akhirnya kembali berhubungan dengan keluarganya untuk melindungi sang adik. Dalam upayanya tersebut, Rebecca dibantu oleh kekasihnya yang bernama Bret (Alexander DiPersia) yang “hanya” menginginkan satu tempat kosong di lemari baju Rebecca sebagai simbol dari kestabilan hubungan percintaan mereka berdua.

Rebecca kemudian membawa Martin untuk tinggal bersamanya dan hal ini ternyata menyeret entitas jahat itu ke apartemen mungil miliknya. Kejadian ini hanya memberikan satu pilihan untuk Rebecca (dan Martin): kembali tinggal bersama Sophie (yang tampaknya dikendalikan secara emosional oleh entitas jahat) untuk membantu Sophie mendapatkan kembali kekuatan mental agar bisa mengalahkan entitas jahat tersebut di rumah mereka sendiri. Pada titik ini, Sandberg dan Heisserer memilih untuk mengambil jalan pintas yang lumayan bagus secara visual dan ritme cerita. Bagian film yang menurut saya layak mendapatkan pujian adalah penggunaan cerdas dari sumber cahaya yang tepat untuk melindungi karakter protagonisnya dari ancaman entitas jahat di sepanjang film. Ketika Rebecca, Martin, dan Bret mencoba melawan dan bertarung dalam kegelapan, beberapa sumber cahaya kecil yang tidak terduga sebelumnya berhasil dimanfaatkan sedemikian rupa untuk menghasilkan rangkaian adegan yang lumayan menyeramkan dengan dampak yang cukup melegakan pada akhirnya.

Selebihnya, Lights Out hanya berisikan kumpulan plot tipis dengan twist seadanya yang mengekspos mediokritas film secara keseluruhan. Sebagai contoh: tidak ada penjelasan sama sekali mengapa entitas jahat itu bisa mengikuti Rebecca ke apartemen mungilnya padahal sumber kekuatannya berasal dari (halusinasi) Sophie yang letaknya ratusan kilometer dari apartemen Rebecca. Yang samasama tidak masuk akalnya adalah konflik antara Sophie dan Rebecca terkait hak asuh Martin. Film ini tidak memberikan gambaran latar belakang yang cukup meyakinkan perihal kasih sayang Rebecca terhadap Martin, sehingga upaya protektif Rebecca di second act terkesan pretensius, dibuat-buat, banal, dan mengada-ada.

Yang paling janggal dari film ini adalah cerita asal-usul dari entitas jahat yang menghantui keluarga Rebecca. Saya merasa ada kemiripan antara film ini dengan Ring (1998) dalam hal kisah latar belakang tentang seorang anak yang mati secara tragis dan mengerikan. Namun Ring mampu memberikan rincian trauma dari narasi yang begitu emosional dan mengerikan, sementara film ini membikin saya jengkel dengan kesia-siaan narasinya secara menyeluruh. Dan pada akhirnya saya harus mengasihani diri sendiri dan bertanya-tanya mengapa saya harus peduli dengan salah satu karakter remeh yang diciptakan tanpa tujuan yang jelas dalam karya sinematik receh macam film ini.

Selain sinematografi cerdas oleh Marc Spicer, satu elemen lainnya yang layak mendapatkan apresiasi adalah kinerja akting Bello dalam memerankan Sophie — seorang ibu yang menderita gangguan jiwa namun tetap berusaha memberikan perhatian dan kasih sayang yang tulus (serta mengharapkan yang terbaik) untuk anak-anaknya — meski pada akhirnya naskah film ini malah menyia-nyiakan kemampuan brilian Bello tersebut. Dan saya merasa bersyukur ketika layar laptop menampilkan kredit akhir film karena hal itu berarti saya telah terbebas dari sesuatu yang jeleknya minta ampun.

Delapan puluh satu menit adalah durasi yang terasa cukup panjang jika harus dilewatkan untuk menonton film yang tidak memberikan apa-apa kecuali ketidak-pedulian, kejengkelan, serta rasa bosan terhadap karakter dan plot ceritanya. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s