Cela s’appelle l’aurore (1956)

Poster film. (gambar: IMDb)
Poster film. (gambar: IMDb)

MESKIPUN berasal dari kelas borjuis ngehek, Doctor Valerio (Georges Marchal) mengabdikan dirinya untuk merawat (dan peduli terhadap) kaum miskin-tertindas di sebuah pulau di Mediterania. Istri Valerio, Angela (Nelly Borgeaud), akhirnya memilih pergi mengunjungi orangtua-nya di Kota Nice, Prancis, setelah gagal membujuk Valerio untuk memilih karier yang lebih menguntungkan di Prancis Selatan. Setelah kepergian istrinya, Valerio jatuh cinta dan menjalin hubungan rahasia dengan bunga desa bernama Clara (Lucia Bosè). Salah satu pasien dari Valerio adalah Magda (Brigitte Elloy) yang menderita penyakit TBC; Magda adalah istri dari buruh miskin bernama Sandro Galli (Giani Esposito). Kepedulian dan kasih sayang terhadap istrinya yang sedang tergeletak tidak berdaya di tempat tidur membikin Sandro mengabaikan pekerjaannya untuk menjaga dan merawat kebun bosnya, Gorzone (Jean-Jacques Delbo). Gorzone merupakan orang paling kaya di pulau itu dan memiliki sebuah pabrik yang mempekerjakan sebagian besar penduduk pulau, dan Gorzone — seperti halnya majikan atau bos lainnya — memiliki perangai tipikal borjuis-bau-amis ngehek di mana dia tidak merasakan simpati sedikit pun terhadap keadaan Sandro dan kondisi kesehatan Magda; Gorzone memecat Sandro karena dianggap melalaikan pekerjaannya, dan bersikeras mengusir Sandro dan Magda dari kebunnya. Dalam perjalanan pindah ke rumah teman, Magda tewas dan Sandro akhirnya balas dendam dengan menembak mati Gorzone. Merasa bertanggung-jawab, Valerio menyembunyikan Sandro di rumahnya dan mengatur sebuah rencana untuk membantu Sandro melarikan diri dari pulau.

Itu adalah rangkaian plot cerita yang disajikan oleh Luis Buñuel dalam film melodrama garapannya yang berjudul Cela s’appelle l’aurore (diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Emmanuel Roblès), sebuah sinematik yang memiliki kepedulian sosial dari sineas besar sekaligus juga seorang surealis nakal. Dianggap kurang lantang dan kurang provokatif ketimbang drama sosial sebelumnya, Los Olvidados (1950) — sebuah kritik pedas dan keras untuk kemiskinan di Meksiko, film ini masih dihiasi dengan sentimen anti-borjuis khas Buñuel yang dipadukan dengan keterlibatan emosional yang tidak biasa. Dalam film ini, Buñuel mencoba untuk menunjukkan sisi humanis yang dimilikinya.

Kesuksesan Los Olvidados dan Él (1953), dua film yang dibikin selama masa “pengasingan” di Meksiko, melambungkan nama Buñuel di jagat sinematik internasional dan sekaligus memberinya kesempatan untuk membikin film dengan biaya produksi yang lebih besar untuk pasar global, yang dimulai dengan menggarap film berwarna pertamanya yang berjudul Robinson Crusoe (1954). Dan dua tahun kemudian, Buñuel merilis Cela s’appelle l’aurore yang keseluruhan gambarnya difilmkan di Pulau Corsica, Prancis. Menurut beberapa artikel yang saya baca di internet, novelis avant-garde asal Prancis, Jean Genet, awalnya dipekerjakan untuk berkolaborasi dengan Buñuel dalam mengadaptasi novel karangan Roblès menjadi sebuah naskah film. Namun karena beberapa alasan tertentu, Genet akhirnya digantikan oleh Jean Ferry. Film ini merupakan bagian pertama dari trilogi Buñuel yang mencoba untuk mengobservasi moralitas aksi revolusi bersenjata, diikuti oleh Death in the Garden (1956) dan La Fièvre Monte à El Pao (1959).

Karakter utama dalam film ini, Valerio, dengan mudah dapat diidentifikasi sebagai seorang lelaki yang sudah muak dengan tingkah laku, moralitas, dan budaya kaum borjuis-bau-amis — kelas yang membesarkan dirinya — serta memutuskan untuk membela dan membantu kaum miskin-tertindas. Valerio dianggap sebagai seorang santo oleh kaum miskin tertindas dan, di satu sisi, dianggap sebagai seorang idealis bebal yang bodoh oleh temanteman borjuisnya, namun dia sama sekali berbeda dengan dua anggapan itu. Valerio, sama seperti Buñuel, adalah seorang profesional mapan yang mengalami kebimbangan di antara dua impuls alamiah manusia: hasratnya untuk membantu orang lain sama besarnya (atau bertentangan) dengan keinginannya untuk menjaga status sosialnya di tatanan masyarakat. Valerio membayangkan dirinya sendiri sebagai seorang individu bebas merdeka yang revolusioner, namun dia sejatinya tidak ingin sepenuhnya membebaskan diri dari moralitas kelas borjuis ngehek yang dibencinya setengah mati itu — setiap tindakan dan pilihan yang dia ambil selalu dipengaruhi dan dibatasi oleh pola pikir dan pembawaan borjuis.

Kebimbangan — atau saya lebih suka menyebutnya dengan kepengecutan dan kemunafikan — Valerio itu pertama kali ditampilkan ketika dia takut untuk menceraikan Angela agar bisa berkomitmen penuh pada hubungan dengan kekasihnya, Clara, yang berasal dari kelas yang lebih rendah dalam tatanan sosial masyarakat. Valerio lebih memilih kompromi a la kelas borjuis ngehek: menjalani ménage à trois — yang bangsatnya dilakukan secara diamdiam, sembunyisembunyi — ketimbang perceraian yang nantinya bisa merusak status sosialnya.

Begitu pula dengan upaya/niatnya membantu Sandro, Valerio melakukannya dengan hanya setengah hati, tidak sungguhsungguh, dan hal itu malah menempatkan Sandro ke dalam masalah yang lebih rumit. Valerio seperti mendapatkan penebusan parsial ketika dia memilih untuk melindungi dan menyembunyikan Sandro di rumahnya ketika unit kepolisian mencari Sandro yang telah membunuh Gorzone. Dengan melakukan itu maka Valerio bisa dianggap sebagai pelaku kejahatan karena telah melawan dan menentang sebuah rezim atau aturan yang tidak adil, namun dia tidak dijatuhi sanksi atau hukuman apa pun oleh rezim penguasa dan statusnya di tatanan kelas sosial masyarakat tidak rusak. Bau amis borjuis masih menempel dan tercium dari tubuh Valerio, meskipun dia menganggap dirinya sendiri bukan lagi menjadi bagian dari pesona kepalsuan borjuis.

Meskipun film ini merupakan karya sinematik paling konvensional yang pernah dibikin oleh Buñuel, namun simbolisme dan kenakalan khas Buñuel masih ada di dalamnya. Dalam satu adegan, Valerio memberikan bayi kurakura sebagai tanda cinta yang diterima Clara dengan perasaan sukacita dan antusiasme membara; dan ketika mereka berdua tengah asyik-masyuk bercumbu, Valerio membiarkan bayi kurakura itu jatuh ke lantai dalam posisi telentang dan fokus kamera berganti merekam bayi kurakura malang itu meronta-ronta berupaya sekuat-kuatnya tenaga untuk membalikkan posisi tubuhnya: sebuah metafora untuk kepengecutan dan kebimbangan Valerio di sepanjang film. Sementara itu, karakter borjuis yang paling ngehek dan menjijikkan di film ini (Gorzone dan pengacaranya) ditampilkan dalam bentuk komedi yang konyol khas Buñuel agar penonton mampu mengidentifikasi karakter tersebut sebagai sosok yang patut untuk dibenci dan ditertawakan pada saat yang bersamaan.

Buñuel telah melakukan yang terbaik agar film ini memenuhi standar melodrama era ‘50an, dan oleh sebab itu tidaklah sulit untuk menemukan komedi yang disisipkannya di sepanjang film yang berdurasi 102 menit ini. Adegan di mana Sandro menembak mati Gorzone di sebuah pesta adalah momen yang lucu, alih-alih dramatis dan menegangkan. Dan adegan itu juga memberikan kesan samar tentang serangan surealis Buñuel terhadap kaum borjuis-bau-amis, sama seperti yang ditampilkannya dalam The Exterminating Angel (1962) dan The Phantom of Liberty (1974).

Cela s’appelle l’aurore merupakan sindiran atau ejekan nakal Buñuel untuk kegagalan dan kemunafikan moralitas kaum borjuis-bau-amis, serta sebuah tuduhan sarkasme kepada kelas borjuis ngehek yang dianggap sebagai penyebab sekaligus penjaga ketimpangan sosial. Dan seperti yang sudahsudah, saya sangat puas dan bahagia setelah menonton karya sinematik garapan Buñuel si surealis cum satiris itu. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s