4 Months, 3 Weeks and 2 Days (2007)

Poster film. (gambar: IMDb)
Poster film. (gambar: IMDb)

GABRIELA “Găbița” Dragut (diperankan oleh Laura Vasiliu), mungkin, adalah seorang perempuan muda yang tidak mengerti apa-apa yang menjadi karakter utama di sebuah film tentang kehamilannya sendiri dalam sejarah sinematik dunia. Menonton Găbița selama 113 menit dalam 4 Months, 3 Weeks and 2 Days ini membikin saya frustasi setengah-mati dan ingin membeli tiket pesawat terbang ke Rumania untuk melampiaskan rasa frustasi saya ke Găbița, meski hanya sekadar menggoyang-goyangkan pundaknya. Ini merupakan film yang begitu kuat secara emosional dengan sebuah pencapaian visual yang mengejutkan-namun-menenangkan. Bukan karena Găbița (saya sudah terlampau geregetan dengannya), namun simpati saya dimenangkan oleh teman sekamarnya, Otilia Mihartescu (diperankan oleh Anamaria Marinca), yang melakukan nyaris seluruh pekerjaan berat terkait kehamilan Găbița.

Setting waktu film ini adalah akhir ‘80an di mana Rumania masih meringkuk di bawah kekuasaan pemerintahan komunis pimpinan Nicolae Ceaușescu. Găbița ingin melakukan aborsi, suatu hal yang masih dianggap ilegal pada masa itu di Rumania — bukan karena alasan moral, namun karena Ceaușescu secara pribadi ingin mengontrol lebih banyak subjek dari kehidupan personal warganya. Găbița yang merasa putus asa akhirnya meminta bantuan kepada teman sekamarnya di asrama universitas, Otilia, yang setuju untuk membantunya dan melakukan segala sesuatu yang dibutuhkan agar proses aborsi Găbița berjalan lancar. Melalui film ini, Cristian Mungiu sebagai sutradara dan penulis naskah, mengajak penontonnya untuk mengikuti kisah Otilia dan Găbița dalam melewati momen keputus-asaan, kekejaman, kemunafikan, frustasi, kebodohan, dan keberanian, dengan latar belakang sebuah negara di mana warganya tidak memiliki kebebasan apa pun untuk menjalani kehidupan yang mereka inginkan.

Mengambil tanggung jawab dan bertindak sendiri untuk bertahan hidup tampaknya merupakan gagasan/konsep yang benarbenar asing bagi Găbița, dan saya bertanya-tanya bagaimana dia bisa bertahan hidup di dalam sebuah tatanan masyarakat yang jelasjelas membutuhkan nyali, keberanian, dan improvisasi. Sebagai permulaan, Găbița membujuk Otilia untuk mengumpulkan uang yang akan dipakai untuk biaya aborsi. Kemudian Găbița meminta Otilia untuk menemui Mr. Bebe (Vlad Ivanov), orang yang membantunya melakukan aborsi. Kemudian Găbița lupa untuk memesan kamar hotel yang disyaratkan oleh Mr. Bebe. Karena hal itu, rencana proses aborsi hampir batal: Mr. Bebe curiga bahwa ini adalah perangkap polisi untuk menangkapnya karena proses aborsi tidak dilakukan di kamar hotel sesuai dengan permintaannya.

Demi menghasilkan sebuah tontonan yang terasa dekat, 4 Months, 3 Weeks and 2 Days digarap dengan begitu tulus dan rapi, sebuah observasi menyeluruh dan sungguhsungguh terhadap subjek yang sedang dibicarakannya dari segi teknis maupun non-teknis: tidak ada pengambilan gambar dengan efek mewah, tidak ada quick-cut, dan Mungiu menggunakan teknik one-take-shot brilian di setiap adegannya. Hal ini menjadikan penempatan dan pergerakan kamera sebagai sesuatu yang krusial, dan memberikan kesan bahwa setiap pengambilan gambar yang ada di film ini telah dipersiapkan dan diatur dengan sangat cermat. Bahkan ada beberapa gambar di mana subjek nyata dari akting aktris/aktor-nya hanya setengah terlihat di layar — atau bahkan tidak terlihat sama sekali — sebagai penekanan terhadap kesempurnaan konteks dan frame. Visual adalah segalanya di sini; film ini berjalan tanpa latar belakang musik, hanya dialog dan keheningan.

Otilia adalah karakter heroik dalam film ini, mengingatkan saya pada petugas ambulans dalam film The Death of Mr. Lazarescu (2005) garapan Cristi Puiu yang harus mengantarkan seorang lansia sekarat sepanjang malam karena mendapatkan penolakan dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya. Dalam prosesnya, tumbuh rasa jengkel di benak Otilia terhadap keegoisan Găbița, namun dia selalu berusaha untuk menjadi seorang sahabat yang bersedia memberikan pertolongan dan perlindungan, meskipun dia juga memiliki masalah personal sendiri. Salah satu masalah Otilia adalah Adi Radu (Alexandru Protocean), kekasihnya yang juga memiliki sifat egois — saya tidak habis pikir (dan merasa kasihan) kenapa Otilia selalu berhubungan dengan manusia yang egois. Otilia sudah mencoba untuk menjelaskan bahwa dia dan Găbița sedang memiliki urusan pribadi yang sangat mendesak, namun Adi malah bersikeras agar Otilia datang ke rumahnya untuk makan malam bersama keluarganya dalam rangka merayakan ulang tahun ibunya malam itu. Bahkan Adi mengatakan bahwa ini adalah sebuah ujian bagi rasa cinta dan komitmen Otilia terhadap hubungan mereka berdua. Lelaki macam Adi ini tidak mampu memahami bahwa dalam sebuah hubungan asmara juga dibutuhkan pengertian yang tulus dan kompromi, bahwa dua hal itu (pengertian dan kompromi) bakal menjadi bukti cinta yang autentik dalam hubungan percintaan dua manusia.

Adegan makan malam di rumah Adi adalah sebuah pertunjukan horor bagi Otilia: dia terjebak dalam sebuah momen tidak menyenangkan yang berisi terlalu banyak orang yang sibuk mengoceh satu sama lain, dan sementara pengambilan gambar adegan ini dilakukan dengan one-take-shot di mana kamera tidak bergerak sedikit pun, hanya menyorot Otilia, saya menunggu (dan berharap) Otilia mengambil garpu di sebelahnya untuk kemudian menusukkannya ke mata seseorang di meja makan itu.

Sementara adegan di mana Otilia, Găbița, dan Mr. Bebe berada di dalam kamar hotel untuk mendiskusikan proses aborsi menghadirkan momen yang tidak menyenangkan, tidak berperasaan, dan tanpa belas-kasihan, yang bisa dibayangkan oleh siapa saja: ketakutan tertangkap oleh pihak berwenang Rumania, kebohongan Găbița tentang usia kehamilannya, kekurangan biaya aborsi yang harus dibayar dengan hubungan seksual oleh Otilia. Di akhir film, Otilia dan Găbița sepakat untuk tidak mengingat atau membicarakan momen aborsi yang telah mereka lewati itu; Otilia memandang Găbița dengan tatapan kosong sebelum akhirnya menoleh ke arah kamera, membiarkan penonton untuk memutuskan apa yang bakal terjadi di antara mereka berdua selanjutnya, lantas kemudian layar menghitam untuk menampilkan kredit akhir film. Mbak F yang menemani saya menonton film ini menganggap hal itu anti-klimaks, namun bagi saya itu merupakan hal yang tidak bisa dihindari dan adegan penutup yang sangat cocok untuk mengakhiri sebuah film sosial-realis yang terasa begitu nyata, mengejutkan, dan menenangkan macam film ini.

Bagi saya, daya tarik 4 Months, 3 Weeks and 2 Days tidak datang dari pengalaman yang akhirnya didapatkan oleh Otilia dan Găbița, melainkan datang dari siapa mereka sebenarnya, bagaimana perilaku mereka berdua dalam menjalin relasi persahabatan, dan bagaimana cara mereka berdua dalam menghadapi tekanan. Dalam film ini, “salah” dan “benar” bukanlah suatu hal yang layak untuk diperdebatkan secara bertele-tele dan panjang-lebar. Ini tentang pilihan hidup yang harus diambil dan konsekuensi yang harus dihadapi setelahnya. Vasiliu dan Marinca memberikan kinerja akting yang luar biasa menawan dalam memerankan karakter mereka masingmasing. Ini adalah salah satu film dengan dua karakter utama yang paling masuk akal dan keren yang pernah saya tonton sampai detik ini.

Tenang. Nyata. Mengejutkan. Getir. Gelap. Emosional. Film ini merupakan “racun” yang cukup manjur untuk membunuh kebosanan terhadap kemerduan kicau burung dan keindahan mentari di pagihari. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s