9 Summers 10 Autumns (2013)

Poster film. (gambar: "mbot.wordpress.com")
Poster film. (gambar: “mbot.wordpress.com”)

OKE. 9 Summers 10 Autumns ini diadaptasi dari sebuah novel laris dengan judul yang sama, yang ditulis berdasarkan kisah nyata penulisnya sendiri. Saya tidak punya harapan yang muluk-muluk terhadap film ini (bahkan terhadap semua film Indonesia), namun karena mendapat desakan dari seorang perempuan (Yang Mulia Kanjeng Ratu F) dan nama Alex Komang dalam daftar pemerannya, saya pun mengunduh film ini sembari mengajukan syarat untuk menontonnya berdua dengan Yang Mulia Kanjeng Ratu F di kamar kos saya yang pengap. Kami berdua akhirnya menonton film ini sampai kelar pada satu pagi yang syahdu, meski setelahnya saya harus mengasihani diri sendiri: 112 menit pagi saya terbuang percuma gara-gara membetahkan mata dan segalanya untuk menonton film taik-kucing-garing. Fuck!

Iwan Setyawan (ketika masih kecil diperankan oleh Shafil Hamdi Nawara, dan sewaktu dewasa diperankan oleh Ihsan Tarore) tinggal di sebuah rumah kecil di Kota Batu, Jawa Timur, bersama kedua orangtua-nya (Ngatinah [Dewi Irawan] dan Hasim [diperankan oleh Alex]) dan empat saudara perempuannya. Ngatinah memiliki harapan agar kehidupan anak-anaknya lebih sejahtera dan bahagia daripada kehidupannya sendiri. Ngatinah pun akhirnya membiarkan anak-anaknya melakukan sesuatu yang mereka sukai asalkan hal itu bikin mereka bahagia, salah satunya adalah membiarkan Iwan lebih sering menghabiskan waktunya untuk bermain-main di dapur. Ngatinah adalah orang yang simplistis. Sementara itu, Hasim adalah pribadi yang konservatif dan kolotnya minta ampun. Hasim merasa memiliki tanggung jawab dan kewajiban memberikan bekal kepada anaknya agar kelak menjadi “lelaki sejati” ketika dewasa. Hasim selalu memaksa Iwan untuk bertindak layaknya anak lelaki pada umumnya: membantu pekerjaannya sebagai sopir angkutan umum, menyuruh Iwan lebih sering menghabiskan waktu bermain dengan anak-anak lelaki, melarang Iwan bermain di dapur, dll. Iwan pun akhirnya tumbuh sebagai pribadi yang canggung dan terlalu bergantung kepada ibunya.

Namun Iwan ternyata memiliki otak yang cerdas, dan seiring berjalannya waktu, kecerdasan Iwan semakin bersinar terang. Hingga tiba waktunya bagi Iwan untuk meninggalkan kampung halaman dan mewujudkan mimpinya untuk hidup sukses, sampai akhirnya dia mampu “menaklukkan” Kota New York di Amerika Serikat sana.

9 Summers 10 Autumns sebenarnya memiliki potensi untuk menjadi film yang lumayan bagus dan enak ditonton andai saja pembikin film ini sepenuhnya tahu mau dibawa ke mana arah filmnya. Permasalahan utama (dan sangat kentara) di sini adalah film ini tidak tahu apa yang sebenarnya ingin disampaikan kepada penontonnya. Dan menurut sok tahu saya, film ini mungkin ingin mencoba dua hal:

1) Percobaan untuk menjadi film motivasi yang menceritakan kisah klise tentang seorang anak dari keluarga miskin yang akhirnya mampu menggapai kesuksesan dan hidup kaya raya.

2) Film ini ingin memberikan kesan bahwa kebahagiaan sejati itu bukan hanya seputar kepemilikan materi belaka — sebab meski sudah menapaki kesuksesan, toh ternyata si anak miskin itu tadi tidak bahagia karena takut keluarganya tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia sekarang adalah seorang gay.

Dua percobaan itu gagal dieksekusi dengan cara yang manis oleh Ifa Isfansyah dan Fajar Nugros selaku sutradara dan penulis naskahnya. Upaya Ifa dan Fajar di percobaan pertama sebenarnya bisa dibilang tidak gagal sepenuhnya, namun juga tidak bisa dikatakan berhasil. Iwan di film ini tidak pernah ditampilkan sebagai karakter yang superjenius macam John Nash di film A Beautiful Mind (2001). Tidak ada adegan yang menggambarkan Iwan melakukan riset dan perhitungan njelimet, namun dia dengan lagak yang tidak enak untuk ditonton tiba-tiba saja menjelaskan hasil risetnya kepada Ibu Agus (Ria Irawan) tentang strategi dan perhitungan agar warung Ibu Agus semakin laris dan untung banyak. Hal itu kembali terjadi ketika Iwan sudah bekerja di sebuah kantor di Jakarta. Saya tidak pernah melihat adegan sebagus apa kinerja Iwan (kecuali dia lebih rajin — dan culun — ketimbang teman-teman kerjanya) sehingga dia tiba-tiba mendapat tawaran kerja dari New York. Sampai sekarang, saat menulis ulasan ini, saya masih bingung dan bertanya-tanya: “Apa sih pekerjaan Iwan yang sebenarnya?

Sementara itu, dalam percobaan kedua, Ifa dan Fajar seperti malu-malu untuk menyampaikan cerita bahwa Iwan sebenarnya adalah seorang gay yang membutuhkan pengakuan agar dia bisa merasakan bahagia yang seutuhnya. Hal ini tidak dijelaskan secara verbal dan gamblang di dalam film, melainkan melalui dua tanda yang, sebenarnya, sangat jelas:

1) Penggunaan kalimat “kamu itu anak laki-laki” yang terlalu sering diucapkan oleh Hasim kepada Iwan, sebagai wujud tuntutan keras agar Iwan benar-benar menjadi lelaki sejati yang bisa dibanggakan oleh bapaknya. Bahkan ada satu adegan di mana Hasim memaksa Iwan memilah perkakas bengkel untuk kemudian diberikan kepada Hasim yang sedang memperbaiki mobil angkotnya agar Iwan tahu dan mengerti bagaimana caranya menjadi lelaki yang “benar-benar lelaki”.

2) Gaya fashion dan tingkah Iwan ketika tinggal di New York sudah jelas-jelas menandakan bahwa dia gay. Mulai dari baju dan pernak-pernik yang menempel di tubuhnya, hingga cara jalan dan gaya bicara Iwan yang gemulai. Dan, satu lagi, sangat jarang ada — jika tidak ingin bilang: tidak ada sama sekali — seorang lelaki straight yang MEMBELI BUNGA UNTUK DIRINYA SENDIRI sebagai pemanis ruangan!

Di New York itulah — mungkin karena jauh dari bapaknya yang patriarkis dan konservatif — Iwan akhirnya merasa bebas untuk menunjukkan jati diri yang sebenarnya. Dan di New York itu pula Iwan tidak pernah merasa benar-benar bahagia, meski dia sudah sukses-punya-banyak-uang dan berani mengekspresikan dirinya. Atmosfer film setiap menampilkan adegan di Kota New York yang sunyi menjadi penanda bahwa Iwan sangat kesepian. Ada satu hal yang dirasa kurang oleh Iwan agar dia bisa menyesap kebahagiaan yang utuh: ketulusan keluarganya (terutama sang bapak) untuk menerima dirinya sebagai seorang gay.

Namun tampaknya Ifa dan Fajar sengaja menyembunyikan bagian gay di film ini, karena setelah tanda-tanda yang menurut saya cukup jelas itu ditampilkan, toh di akhir film hanya ditampilkan Iwan yang pulang ke Indonesia, menjadi pembicara dalam satu forum sebagai kebanggaan masyarakat Kota Batu, kemudian menawarkan diri untuk menyetir mobil dalam perjalanan pulang bersama keluarganya — entah dia merasa utuh bahagia atau tidak.

Dengan plot yang terlalu tipis untuk menjadi film motivasi yang manis dan ketidak-beranian membicarakan sesuatu yang dianggap tabu, 9 Summers 10 Autumns adalah film medioker yang terlalu berani mengambil banyak ide dan menjadi semakin buruk karena tidak tahu cara mengeksekusi ide-ide tersebut. Ini seperti menghidangkan dua porsi besar gulai kambing dalam sebuah mangkuk kecil: kuahnya tumpah-ruah di sana-sini, warnanya hijau kekuning-kuningan, dan ketika dimakan ternyata itu adalah gulai kambing kemarin yang sudah basi. Modar kowe!

(Namun saya sangat gembira ketika menyaksikan raut wajah Yang Mulia Kanjeng Ratu F yang menunjukkan gabungan ekspresi antara muak, kecewa, dan eneg setelah film ini berakhir. Saya bakal mengingat film ini seperti itu saja. Ting-a-ling, haram jadah! Hahaha!) []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s