The Kid with a Bike (2011)

Poster film. (gambar: "The Criterion Collection")
Poster film. (gambar: “The Criterion Collection”)

SEORANG bocah terus bergerak kesana-kemari dengan raut wajah yang menyiratkan kebulatan tekad. Bocah itu mengayuh sepedanya berkeliling Kota Seraing, Belgia, menggedor pintu dan jendela rumah banyak orang; menuntut dan terus menuntut. Bocah itu menuntut cinta dan kasih sayang dari ayahnya; dia juga ingin diterima oleh seorang perempuan yang menjadi ibu asuhnya di setiap akhir pekan; dia juga ingin mendapatkan pengakuan dari kelompok geng remaja di lingkungan tempat tinggalnya. Bocah itu bernama Cyril Catoul, karakter utama dari film The Kid with a Bike yang diperankan oleh Thomas Doret. Cyril adalah sebuah potret tidak terhapuskan dari kebutuhan. Cyril tinggal di panti asuhan karena ditelantarkan oleh ayahnya, Guy Catoul (Jérémie Renier). Seperti seorang detektif muda, Cyril kemudian berkeliling kota untuk melacak keberadaan Guy — mengunjungi toko kue dan bar langganan ayahnya, menghubungi nomor telepon yang telah dicabut, mendatangi bekas apartemen ayahnya; semuanya dilakukan Cyril dengan kebulatan tekad untuk menemukan sepedanya dan Guy yang menghilang entah ke mana.

Film penuh empati ini ditulis dan disutradarai oleh Luc dan Jean-Pierre Dardenne: kakak-beradik dari Belgia yang selalu memiliki simpati yang kuat untuk remaja dan anak-anak terlantar, kakak-beradik yang selalu mampu menghindari sensasi dan melodrama berlebihan di setiap kisah memilukan yang mereka ceritakan di layar sinema. Dardenne Bersaudara sangat suka menyajikan karya sinematik tentang drama kehidupan harian dalam takaran yang pas, di mana hal-hal yang wajar dan lumrah dalam hidup terkadang berjalan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan dan terasa berat — terutama bagi bocah kecil macam Cyril. Dalam adegan yang realistis dan sederhana, serta jujur, Dardenne Bersaudara menampilkan ketakutan dari seorang bocah yang telah ditelantarkan oleh ayahnya untuk kemudian menghibur diri sendiri — semacam eskapisme — dengan sebuah perasaan dan keyakinan bahwa ayahnya tidak sengaja meninggalkannya dan bakal kembali lagi suatu hari nanti untuk menjemputnya di panti asuhan. Meski begitu, Cyril tidak sepenuhnya berpasrah diri: dia berupaya sekuatnya tenaga dan tekad untuk mencari ayahnya.

Cyril tidak suka dikekang atau dibatasi; dia acuh tak acuh dengan instruksi yang diberikan oleh orang lain kepadanya, dia tidak mau diperintah. Ketika Cyril melihat sepedanya dinaiki oleh bocah lain, dia langsung mengejarnya dan menuduh bocah itu telah mencuri sepedanya. Samantha (Cécile de France), ibu asuh Cyril yang memiliki salon kecantikan, mencari bocah yang menaiki sepeda Cyril dan membelinya. Cyril merasa sedih dan kecewa ketika dia mengetahui fakta bahwa bocah itu tidak mencuri sepedanya, melainkan membelinya dari Guy setelah membaca iklan yang ditulis oleh Guy dan ditempelkan di etalase sebuah toko kue. Cyril masih berusia 12 tahun dan dia masih menganggap Guy — ayahnya yang pengecut itu — sebagai pahlawan dan panutan dalam hidupnya, serta masih bertekad untuk mencari dan menemukannya.

Cyril memohon agar bisa tinggal di rumah Samantha, dan Samantha mengizinkan Cyril menginap di rumahnya setiap akhir pekan. Namun hal itu tidak bejalan dengan lancar dan baik-baik saja. Karena takut dengan penolakan, Cyril memiliki cara tersendiri untuk menguji daya tahan dan kesabaran orang lain. Cyril terus-terusan memberontak dan melarikan diri, dan akhirnya terseret ke dalam masalah besar dengan Wesker (Egon Di Mateo), berandalan yang memimpin geng remaja di lingkungan tempat tinggal Samantha. Dardenne Bersaudara dengan cerdik mampu menunjukkan bagaimana Wesker begitu gampang memanipulasi Cyril — dengan memanfaatkan kerinduan dan kebutuhan Cyril terhadap sosok ayah yang bisa mengayomi dan melindunginya — untuk melakukan apa-apa yang diperintahkan atau diminta oleh Wesker.

Film berdurasi 87 menit ini terasa ramping dan efisien yang fokus pada Cyril. Film ini tidak berusaha untuk menjelaskan Cyril dengan narasi yang bertele-tele, semua hal tentang Cyril ditampilkan dalam visual yang cukup jelas dan menarik untuk ditonton: kebulatan tekadnya, kehidupan harian masa kanak-kanaknya, kecerobohannya, kebutuhannya, kebingungannya. Doret berhasil memerankan Cyril dengan fokus dan kinerja akting yang tulus dan alamiah. Untuk memainkan peran pendukung di film ini Dardenne Bersaudara menyewa aktor yang sering muncul di film mereka sebelumnya: Olivier Gourmet (sebagai pemilik bar di film ini) pernah membintangi The Son (2002) tentang seorang ayah yang terobsesi terhadap remaja yang telah membunuh anaknya, dan Renier yang pernah bermain dalam L’Enfant (2005) sebagai seorang ayah yang mencoba mendapatkan uang untuk bertahan hidup dengan menjual bayinya di pasar gelap.

The Son, L’Enfant, dan The Kid with a Bike. Berulang, tema cerita Dardenne Bersaudara seringkali berkisar pada orangtua, pemberontakan, anak-anak, dan keterasingan. Dardenne Bersaudara mencintai setiap karakter utama yang ada di film mereka (tidak seperti Lars von Trier, Coen Bersaudara, atau Luis Buñuel yang kerap terlampau ekstrem dalam “menyiksa” — dengan cara unik dan khasnya tersendiri — karakter protagonis di cerita mereka masing-masing) dan tidak pernah menyalahkan karakter-karakter tersebut. Dardenne Bersaudara sering menampilkan akhir bahwa karakter utama dalam film mereka selalu berhasil mengatasi kesulitan dan rasa sakitnya untuk kemudian menemukan keba(j)ikan dan berbagi kebahagiaan.

Karakter yang mampu memenangkan simpati saya di film ini sebenarnya bukanlah Cyril dengan kisah hidup hariannya yang cukup mudah untuk dipahami dan dikaitkan pada kejadian di kehidupan nyata, melainkan Samantha dengan keindahan dan kebesaran hatinya yang terasa menyayat jantung. de France mampu membawakan pesona Samantha dengan brilian melalui keteduhan sorot matanya. Ada momen ketika Samantha dipaksa untuk membikin sebuah pilihan yang sulit, dan ketika dia memantapkan diri untuk mengambil pilihan tersebut, dia mengungkapkan banyak hal tentang bagaimana dia bisa sampai pada tahap itu dan saya bisa memahaminya.

Tensi ketegangan biasanya sering didapati dalam domain film thriller, misteri, horor, dan aksi, namun pada kenyataannya hanya ada sedikit kisah fiksi yang bisa menyamai ketegangan intens dalam drama dari kehidupan harian di dunia nyata. Film ini tidak menawarkan keunikan tersendiri dalam ceritanya yang memang terkesan sangat wajar dan lumrah, namun Dardenne Bersaudara berhasil menyajikannya dengan baik sehingga tidak mengurangi efek kuat dari perjuangan yang dilakoni oleh setiap karakter yang ada di dalamnya.

The Kid with a Bike merupakan sebuah drama indah dan memilukan yang berhasil menemukan tensi ketegangan dalam rangkaian momen yang terjadi di kehidupan harian. Selalu ada hal-hal buruk yang membikin hidup ini terasa sulit dan berat untuk dijalani. Dan terkadang hanya ketekunan, cinta, dan keberuntungan yang sanggup memunculkan harapan dan bisa menghadirkan perbedaan. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s