The Martian (2015)

Poster film. (gambar: IMDb)
Poster film. (gambar: IMDb)

SUDAH menjadi pengetahuan umum dalam dunia perfilman bahwa untuk menciptakan konflik yang menarik maka sebuah film membutuhkan adanya “si penjahat” yang harus dilawan dan dikalahkan oleh “sang pahlawan” dengan cara apa pun. Film bergenre superhero memiliki supervillain, dalam genre aksi selalu ada penjahat gila, dan bahkan film drama komedi-romantis pun menghadirkan sosok bajingan dalam bentuk karakter calon ayah mertua bernama Makmur dengan tampang menyebalkan, misalnya, agar konflik yang coba dibangun terasa menarik dan mencapai klimaks. Sementara film yang fokus pada perjuangan satu orang/karakter untuk bertahan hidup tanpa membutuhkan karakter “si penjahat” bernama Makmur yang tampangnya sungguh menyebalkan itu, namun mampu menciptakan ketegangan, konflik, dan drama, serta menyajikan kedalaman karakter protagonisnya dengan begitu kuat, adalah semacam pengecualian langka di dunia perfilman.

Jujur, ketika menonton The Martian untuk yang pertama kalinya di rumah seorang kawan (Yusup Billy — nama sebenarnya) dan gagal menuntaskannya karena rasa kantuk yang tidak bisa ditahan (atau karena gangguan drama serial Turki, entahlah), saya memberikan kesan pertama dengan satire: “Oke. Karena memfilmkan cara bertahan hidup di Bumi sudah terlampau mainstream, maka kali ini sineas Hollywood membikin misi untuk mengirim enam astronot ke Planet Mars, lantas kemudian meninggalkan satu di antaranya di sana dan mendramatisasi proses dan cara bertahan hidupnya di Mars.” Namun setelah selesai mengunduh dan berhasil menuntaskannya pada kesempatan menonton yang kedua, saya akhirnya harus mengakui bahwa film garapan Ridley Scott ini adalah salah satu dari pengecualian langka tersebut, atau bahkan mungkin bisa disebut yang terbaik sejauh ini karena mampu menghasilkan tawa, sensasi, dan emosi yang tulus dalam plot ceritanya. Selain itu, film ini juga mencakup sebuah gagasan yang tampaknya radikal bahwa pengetahuan, pendidikan, dan kerjasama kolektif sangat dibutuhkan, baik itu untuk individu maupun untuk umat manusia secara keseluruhan.

Mark Watney (Matt Damon) adalah salah satu kru dari sebuah tim ekspedisi luar angkasa (Ares III) berisikan enam astronot yang sedang menjalankan sebuah misi di permukaan Planet Mars ketika serangan badai memisahkannya dari kelima temannya. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa Mark masih hidup setelah dihantam badai di Mars yang kekuatannya berpuluh kali lipat ketimbang badai di Planet Bumi, dan karena takut dengan kemungkinan terburuk, kapten tim ekspedisi Ares III melakukan evakuasi dan segera memulai perjalanan panjang untuk kembali pulang ke rumah.

Namun, tentu saja, Mark tidak mati! Dan setelah berhasil kembali ke pangkalannya yang disebut dengan “Hab” (atau “Habitat”) yang dirancang untuk mendukung kehidupan tim Ares III selama sebulan, Mark dihadapkan dengan sesuatu yang lebih mengerikan: dia tidak bisa berkomunikasi dengan Bumi atau bahkan tidak bisa menghubungi teman-temannya di Ares III. Mark terjebak di sebuah planet di mana tanaman/makanan tidak bisa tumbuh dan air tidak mengalir. Bahkan, jika Mark bisa menjalin kontak dengan Bumi atau Ares III, misi penyelamatannya bakal membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Sama seperti semua film dengan tema serupa, film ini berkisah tentang seorang manusia yang harus menggunakan semua kecerdikan dan keberaniannya untuk bertahan hidup dalam situasi yang buruk — serta yang paling utama adalah dia harus berurusan dengan kesepian. Dan jika kamu pernah menonton film dengan tema dan plot seperti itu, maka kamu seharusnya sudah paham dan mengetahui bahwa segala macam kesulitan itu bisa diselesaikan oleh karakter utamanya, bahwa tidak ada satu pun rumah produksi film di Hollywood yang rela menghabiskan miliaran dolar untuk membikin kisah epik (lengkap dengan efek komputer yang mewah) tentang tokoh protagonis yang cerdas dan terlihat menyenangkan harus mati lima menit jelang filmnya berakhir. Kamu semestinya sudah paham dan mengetahui bahwa seorang aktris keren macam Jessica Chastain dibayar bukan hanya untuk berperan sebagai kapten yang terpaksa membatalkan misi eksplorasi luar angkasa dan meninggalkan salah satu kru-nya di planet lain sehingga dia beserta kru yang tersisa bisa pulang ke Bumi pada menit 10 di awal film dan tidak pernah kembali tampil di layar untuk melaksanakan misi penyelamatan. Kamu pasti sudah paham dan mengetahui bahwa bakal ada perdebatan sengit tentang upaya penyelamatan yang harus dilakukan, menimbang-nimbang risiko dan konsekuensi yang harus dihadapi dari setiap pilihan yang bakal diambil. Meskipun tidak menawarkan kejutan, detail dan atmosfer dalam The Martian terasa baru dan segar. Dan sejak “apa yang bakal terjadi” telah kamu ketahui, hal menarik yang tersisa untuk dinikmati dari film ini adalah proses “bagaimana hal itu bisa terjadi”.

Scott adalah seorang sutradara yang sering membikin sebuah film berdurasi lebih dari 120 menit yang terasa membosankan, namun The Martian merupakan film yang terhitung langka karena saya tidak merasa bahwa durasi film ini memang sengaja dipanjang-panjangkan seperti beberapa film bikinan Scott sebelum ini (Exodus: Gods and Kings [2014], misalnya). Tidak ada momen yang membosankan di sini, dan jalannya plot film ini merupakan serangkaian eksekusi indah dari proses eskalasi yang mampu mencapai klimaks secara tepat sasaran. Film ini terasa ramping, dengan alur yang enak untuk dinikmati, tanpa terlalu banyak “momen epik” khas Ridley Scott, dan berhasil menyajikan kondisi isolasi yang dialami Mark sebagai sesuatu yang lebih intim. Melalui film ini, Scott tampaknya ingin menyampaikan permohonan maaf dan menebus inkonsistensi yang ditunjukkannya dalam beberapa tahun terakhir. Scott menggarap tema yang memang disukai dan dikuasainya selama ini: tentang eksplorasi luar angkasa, dan tentang kemampuan bertahan hidup manusia ketika dihadapkan dengan situasi yang paling buruk.

Luasnya ruang angkasa dan permukaan Planet Mars menawarkan citra keindahan tanpa batas yang begitu besar yang semakin menonjolkan kesepian Mark dan mengisyaratkan hal yang sama bagi kemanusiaan. (Kita — saya dan kamu, puan — hanyalah setitik debu di hamparan semesta.) Naskah film ini yang ditulis oleh Drew Goddard (berdasarkan novel dengan judul yang sama karangan Andy Weir) menyadari hal itu, namun kemudian memberikan optimisme untuk mencari tahu bagaimana caranya mengatasi masalah itu secara detail. Mark menjelma menjadi perwujudan dari harapan — tidak hanya untuk warga Amerika Serikat, namun juga bagi orang-orang di seluruh dunia. Mark adalah manusia pertama yang terjebak di Planet Mars, dan harapan untuk melihatnya berhasil kembali pulang ke Bumi melewati berbagai macam perbatasan dan ideologi adalah keinginan dari semua orang, seolah-olah hal itu benar-benar terjadi di kehidupan nyata. Fokus film ini adalah tentang rangkaian kegagalan dan keberhasilan upaya Mark dalam bertahan hidup di Mars, namun plot film ini juga bergerak di antara Bumi dan Mars untuk memberikan atmosfer yang cukup menegangkan ketika para pekerja NASA di Bumi menghadapi berbagai macam kendala dan masalah dalam upaya mereka memulangkan Mark, setelah mereka tahu bahwa dia masih hidup. (Apa yang harus dilakukan untuk membantu Mark? Bagaimana caranya? Haruskah mengirim perbekalan makanan terlebih dahulu? Atau langsung membentuk tim penyelamat dan mengirimnya ke Mars? Haruskah memberi kabar kepada kru Ares III bahwa Mark masih hidup?)

Damon (dan naskah film ini) berhasil menggambarkan karakter Mark semanusiawi mungkin dengan kepribadian dan kecerdasan untuk dibagi sesuai takarannya, meski yang paling ditonjolkan adalah bagian kecerdasan Mark dalam mengakali bagaimana caranya bertahan hidup sendirian di Planet Mars. Mark secara perlahan mencoba mengatasi masalah demi masalah dan mengajak saya, sebagai penonton, untuk ikut merasakan kesulitan dan rasa sakit yang dia alami. Alih-alih mengikuti sebuah pembelajaran di dalam kelas yang membosankan, saya malah seperti diajak melakoni petualangan kecil yang menyenangkan untuk mempelajari ilmu teknik mesin, fisika, dan botani, serta memanfaatkan kecerdikan untuk memecahkan suatu masalah yang dibarengi dengan rasa humor dan harapan yang begitu tulus agar semua rencana itu berjalan dengan sebaik-baiknya. (Misalnya adalah permasalahan dasar tentang bagaimana caranya memproduksi makanan untuk mencukupi kebutuhan harian di sebuah planet yang tidak bisa digunakan untuk bercocok-tanam. Solusi untuk masalah itu adalah dengan membangun rumah kaca sederhana untuk menumbuhkan kentang dengan bantuan pupuk yang dibikin dari taik kru lainnya yang telah dipadatkan.) Mark berhasil memenangkan simpati saya: saya ikut senang ketika salah satu upaya Mark berhasil, sementara ketidak-berhasilannya terasa seperti kegagalan saya sendiri.

(Ini adalah sebuah film yang dibikin untuk mengangkut imajinasi penonton ke tempat yang tidak terbayangkan namun, entah bagaimana, masih terkoneksi dengan penontonnya — seolah-olah benar-benar berada di dalamnya. Hal itu merupakan pengalaman yang selalu ingin saya rasakan ketika menonton sebuah film blockbuster: sesuatu yang lebih besar dari diri saya namun tidak terlalu jauh sehingga saya masih merasa terhubung dengannya. Jika dibandingkan dengan film sejenis — Gravity [2013], misalnya, dengan tampilan efek lebih mewah dan menawarkan kisah self-help melodramatis yang terlalu mengumbar sisi religius — The Martian adalah film eksplorasi luar angkasa yang lebih santai, menarik, lucu, hangat, dan efektif.)

Para pemeran pendukung film ini juga mendapatkan momennya sendiri untuk bersinar. Sebastian Stan, Michael Peña, Kate Mara, Aksel Hennie, dan Chastain memberikan kinerja yang autentik dalam memerankan lima astronot tim Ares III yang dipaksa untuk membuang perbekalan makanan demi mengurangi beban pesawat ulang-alik mereka untuk memberi ruang kepada Mark dalam upaya penjemputannya. Sementara para pekerja NASA di Bumi diperankan oleh beragam aktris/aktor yang berbakat macam Kristen Wiig, Chiwetel Ejiofor, Mackenzie Davis, Jeff Daniels, dan Sean Bean, di mana mereka juga berhasil memberikan kinerja yang maksimal. Salah satu adegan yang terus-menerus berputar di kepala saya saat menulis ulasan ini adalah ketika Vincent Kapoor (Ejiofor) dan Mindy Park (Davis) mencoba untuk menafsirkan respons yang diketik oleh Mark (“Are you fucking kidding me?”) terkait rencana yang bakal dijalankan dalam misi penyelamatan. Vincent dan Mindy sepakat bahwa itu merupakan ekspresi kelegaan yang membuncah dari Mark, meskipun di dalam hati keduanya tidak sepenuhnya yakin bahwa itu memang maksud dari Mark yang sebenarnya.

Meskipun kamu tidak suka dengan tampilan perayaan optimisme dan kecerdikan, The Martian masih menjadi film petualangan yang menyenangkan, mengasyikkan, dan enak untuk dinikmati sampai bagian akhirnya. Pengambilan gambar demi gambarnya memberikan pengalaman menonton yang menggairahkan. Film ini memberikan pengetahuan yang diperlukan untuk menyelesaikan sebuah permasalahan dalam kehidupan nyata yang tidak hanya bisa membikinmu terlihat sebagai manusia berguna, melainkan juga mungkin bakal menyelamatkan nyawamu suatu hari nanti. Iya, mengambil pilihan cerdik untuk mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya bakal menyelamatkan hidupmu dari kematian karena rasa bosan yang teramat akut.

Dan, yang paling penting, The Martian menyarankan agar kita — saya dan kamu, puan — membawa lakban jika nantinya kita memutuskan pergi tamasya (dan bercinta) di luar angkasa.

Itu saja. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s