Her (2013)

Poster film. (gambar: IMDb)
Poster film. (gambar: IMDb)

HER, film drama-komedi sains-fiksi romantis, garapan Spike Jonze mengambil tempat di Kota-tekno Los Angeles masa depan, sebuah utopia dengan petunjuk terkecil dari disfungsi. Semuanya cenderung dihidupkan dengan semacam sinar mentari sorehari dan lensa suar yang memusingkan, di sebuah tempat di mana sebagian besar populasinya tampak bahagia, terlihat seperti sebuah iklan produk Apple di televisi. Film ini merupakan hasil kerja keras yang begitu cerdik dan menarik, dengan tema yang tampak baru serta diakhiri dengan sentimental yang begitu murung dan menyedihkan tentang gambaran sebuah relasi asmara modern di zaman yang serbadigital.

Joaquin Phoenix memerankan karakter unik bernama Theodore Twombly, seorang lelaki kesepian dengan kumis yang tidak menarik dan gaya berpakaian aneh yang tampaknya telah menjadi tren fashion lelaki di masa depan. Theodore memiliki pekerjaan unik sebagai penulis profesional yang bertugas membikin surat untuk orang-orang yang tidak memiliki keberanian — atau, bahkan, kemampuan — untuk menulis sebuah surat, dibantu oleh perangkat lunak canggih yang memiliki kegunaan mencatat seluruh kata-kata yang didikte oleh Theodore sebelum akhirnya dicetak menjadi sebuah surat. Adakah pasar untuk layanan mewah seperti itu di masa depan? Sepertinya ada, sebab film ini menampilkan Theodore termasuk dalam golongan kelas borjuis-mapan yang tinggal di sebuah apartemen mewah, dan kenyamanan materinya tampak tidak terpengaruh oleh proses perceraiannya dengan Catherine (Rooney Mara).

Kehidupan sepi Theodore mulai berubah ketika komputernya mendapatkan sistem operasi baru, yang mampu mengoneksikan komputer dengan ponsel-cerdas miliknya. Sistem operasi ini adalah kecerdasan buatan supercanggih yang memiliki suara perempuan bernama Samantha (alih suara oleh Scarlett Johansson). Samantha mencoba mengatur-ulang — memberikan usulan dan saran yang begitu intim — dalam kehidupan pribadi Theodore. Samantha menenangkan dan meyakinkan Theodore ketika dia merasa bahwa dia tidak bakal pernah bisa mendapatkan/merasakan sesuatu yang baru lagi dalam hidupnya. (Suara) Samantha yang sensual, hangat, dan cerdas menjadi sesuatu yang nyata bagi Theodore dalam dunia serbadigital di film ini. Theodore akhirnya jatuh cinta kepada Samantha, vice versa, namun Samantha sejatinya adalah misteri — sebuah misteri yang ditandai oleh judul film ini: “Her”, bukannya “She”, objek dari persepsi seorang lelaki yang terpesona sekaligus bingung dalam kesepiannya.

Film ini mengacu pada fantasi futuristik yang menggabungkan cerita pendek I, Robot karya Isaac Asimov dengan molekul khas dari cerita sains-fiksinya Michael Crichton. Peran Johansson dalam film ini berada dalam semangat yang sama dengan peran yang dimainkan oleh Yul Brynner dalam film Westworld (1973). Ada kelembutan dalam film ini yang sama dengan Lars and the Real Girl (2007) di mana Ryan Gosling berperan sebagai seorang lelaki yang jatuh cinta kepada sebuah boneka, atau Air Doll (2009) karya Hirokazu Koreeda yang mengisahkan tentang sebuah boneka yang jatuh cinta kepada seorang lelaki. Hubungan asmara Theodore dan Samantha dalam film ini merupakan versi pengembangan dan perpanjangan dari Everything You Always Wanted to Know About Sex* (*But Were Afraid to Ask) (1972) yang disutradarai oleh Woody Allen, serta Jonze tampaknya berkeinginan untuk menciptakan suatu kisah percintaan yang sama dengan karya Allen lainnya, Annie Hall (1977).

Film dengan tema seperti ini tidak bisa bekerja dengan sesuatu yang menjadi ciri khas dari cerita drama-komedi romantis konvensional. Theodore harus menjadi karakter yang cukup eksentrik untuk keanehan eksotis yang coba dibangun oleh film ini, namun di satu sisi juga harus ditampilkan sedepresi mungkin untuk menjual kisah cintanya. Sementara Samantha harus dibikin menjadi karakter yang masuk akal dan simpatik.

Hubungan Theodore dan Samantha memasuki fase krisis ketika Samantha, yang menginginkan dimensi fisik dalam hubungan mereka, menghadirkan semacam “pengganti”: seorang perempuan yang, entah bagaimana, Samantha temukan di internet dan bersedia melakukan hubungan seksual dengan Theodore, sementara miniatur kamera dan mikrofon dipasang di tubuh perempuan tersebut sehingga Samantha dapat menikmati aktivitas cinta — atau seks — mereka secara maksimal. Setelah itu kisah asmara Theodore dan Samantha mencapai tahap yang sama sekali lain dari sebelumnya, tidak bakal bisa sama lagi. Masalah terbesar dalam hubungan Theodore dan Samantha adalah kehadiran. Ada momen dalam sebuah relasi percintaan di mana percakapan saja jelas tidak cukup — dan dengan sentuhan, pelukan, kecupan, serta seks-lah manusia mampu mencukupkannya.

Film ini diuraikan dengan cara yang begitu sentimental dan sedikit moralistik, namun subversif dan menggairahkan pada saat yang bersamaan ketika Jonze ingin memberi kesan bahwa hubungan asmara Theodore dan Samantha adalah bagian dari suatu perkembangan dan renormalisasi kisah percintaan di sebuah dunia digital di mana manusia-nya semakin memiliki hubungan yang begitu intim dengan perangkat teknologi mereka dan hubungan tersebut sama sensualnya — dan sama memilukannya — dengan relasi percintaan antarmanusia di dunia nyata, serta stigma yang ditimbulkan dari hubungan tersebut semakin berkurang.

(Her menampilkan hal yang ironis di mana masalah modern justru lahir dari apa yang dibikin oleh manusia untuk membantu kehidupan mereka. Dan hal yang ironis itu semakin membuktikan bahwa kita — para manusia — mungkin selamanya bakal terkurung dalam kesedihan karena ternyata kita telah dikutuk dalam ketidak-tahuan dan kesombongan yang begitu lama.)

Film ini menjadi bagus dan “penting” karena menyadarkan bahwa kita — para manusia — mungkin saja sudah berada di era Her sejak dulu kala di mana kehadiran fisik seseorang (masih) menjadi suatu hal yang begitu penting untuk merasakan adanya cinta. Dan cinta memang hanya bisa tumbuh dan mengada di situ: di ranah fisik. Kita memahami betul hal itu, namun sialnya, kita bisa jatuh cinta kepada siapa pun, meskipun sosok yang kita cintai itu hanya bisa kita temui di dunia maya: sosok yang tidak bisa mengusap mesra rambut kita, atau mengecup manja tengkuk leher kita, atau melakukan seks yang penuh gelora setiap harinya.

Sudah siapkah manusia untuk tidak lagi merisaukan sentuhan fisik, waktu, dan jarak dalam menjalin sebuah relasi percintaan? Atau, sudah siapkah kita — para manusia — untuk mencintai sosok yang tidak memiliki tubuh dengan begitu intim? Bisakah kita memahami sosok yang tidak pernah kita temui sementara di satu sisi kita selalu gagal untuk memahami diri kita sendiri yang notabene selalu kita temui setiap harinya?

Film ini adalah drama-komedi sains-fiksi romantis yang begitu luar biasa dengan premis yang terkesan klise namun mampu dikembangkan dengan brilian oleh Jonze sehingga terasa unik dan segar. Jonze mampu menawarkan sesuatu yang berbeda dari film bergenre serupa yang memiliki tema hubungan manusia dengan perangkat teknologinya.

Dan pertanyaan penutupnya adalah: “Apa sih artinya CINTA?”. (Ah persetan! Bagaimana jika ternyata CINTA itu sebenarnya TIDAK ADA?) []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s