Salt of the Earth (1954)

Poster film. (gambar: IMDb)
Poster film. (gambar: IMDb)

SALT of the Earth karya Herbert Biberman ini merupakan satu-satunya film yang pernah masuk dalam daftar-hitam di Amerika Serikat. Menceritakan tentang para pekerja tambang keturunan Meksiko-Amerika yang melakukan aksi protes menuntut kesetaraan upah dan keselamatan kerja. Sebuah film yang menjadi inspirasi bagi gerakan memperjuangkan hak asasi manusia dan masih relevan sampai saat ini.

Film ini dibuka dengan narasi dari perempuan bersuara manis bernama Esperanza Quintero (Rosaura Revueltas) yang menceritakan tentang asal-usul kepemilikan tanah di kampung halamannya dan kenyataan bahwa dia (beserta seluruh penduduk asli) hanyalah “warga kelas dua” yang kehilangan hak atas tanah ulayatnya. Kampung halaman Esperanza yang dulu bernama San Marcos kini diubah namanya oleh Delaware Zinc (perusahaan tambang yang berkuasa di sana) menjadi Zinctown dan suami Esperanza (Ramon Quintero [Juan Chacón]) menjadi salah satu pekerja tambang di perusahaan tersebut. Para pekerja tambang dan keluarganya hidup dalam kondisi yang menyedihkan dan mengerikan, dan mereka akhirnya memutuskan untuk melakukan aksi protes dengan mogok kerja. Ramon menjadi salah satu pemimpin serikat pekerja tambang yang mengorganisir perjuangan dan perlawanan, namun Ramon masih menganggap Esperanza (dan kaum perempuan pada umumnya) sebagai makhluk inferior, dan seiring berjalannya waktu, Ramon semakin sulit untuk memahami arti kesetaraan.

Ini adalah film (dengan pesan) yang kuat, namun tidak pernah menjadi (atau, bahkan, dianggap) sebagai salah satu ikon dunia perfilman era ‘50an. Biberman memberikan kinerja yang luar biasa di film ini, dan keputusannya untuk menggunakan aktris/aktor lokal non-profesional memberikan kedalaman autentisitas gambar. Revueltas adalah salah satu dari beberapa aktris/aktor profesional yang terlibat dalam film ini, dan dia berhasil menampilkan kinerja yang tulus dan menawan dalam memerankan karakter Esperanza: seorang perempuan yang takut untuk mengambil sikap dan lebih puas menjadi individu pasif, terutama dalam menghadapi suaminya yang masih dibutakan oleh prasangka dan struktur hierarki dalam masyarakat patriarkis. (Dalam bahasa Spanyol, “Esperanza” memiliki arti “Harapan”.)

Biberman termasuk dalam jajaran Holywood Ten yang dihukum karena dianggap menghina pengadilan ketika dia menolak untuk bekerja-sama dengan House Un-American Activities Committee (HUAC), sebuah komite investigasi Amerika Serikat yang bertugas untuk menyelidiki (dan menghukum) orang-orang komunis. Biberman sedang menjalani hukuman enam bulan penjara ketika dia menulis cerita untuk film berjudul New Orleans (1947). Setelah bebas dari penjara, Biberman yang masih masuk dalam daftar-hitam di antara para produser film di Hollywood terpaksa bekerja secara independen. Beberapa tahun setelahnya, Biberman merilis Salt of the Earth dan hal ini, tentu saja, semakin mendorong namanya ke dalam kubangan kontroversi.

Untuk sebuah sinematik tentang aksi pemberontakan, film ini secara mengejutkan dibangun tanpa polemik pasif-agresif untuk memaksakan sebuah agenda tertentu serta tanpa adanya komentar/kritik tajam dan sinis. Oke, ini adalah film tentang aksi protes kolektif dari pekerja keturunan Meksiko-Amerika, namun drama yang paling menarik dalam film ini datang dari interaksi antar-individu yang ada di dalam kolektif tersebut serta berbagai macam kesulitan untuk menyatukan/menyamakan pendapat dari keberagaman dan keunikan masing-masing individu.

Di antara konflik internal serikat pekerja tambang, Esperanza berdiri sebagai martir, dan hal itu merupakan wujud kebulatan tekad dan sebuah keberanian mengingat suaminya (yang tampak sebagai wakil dan pemimpin serikat pekerja tambang) masih dipenuhi dengan prasangka buruk terhadap kaum minoritas, terutama perempuan. Jika Biberman hanya membikin kumpulan sumpah serapah kosong dan sederet kata-kata penuh amarah terhadap pemerintahan yang telah mengirimnya ke penjara, maka orang-orang tidak bakal membicarakannya hari ini, namun Biberman adalah seorang visioner dan memiliki keterampilan untuk membikin sebuah film yang masih terasa relevan pada masa sekarang ini.

Salt of the Earth dikategorikan sebagai film subversif karena Western Federation of Miners menjadi sponsor utama film ini dan proses pembuatannya dibantu oleh orang-orang yang namanya masuk dalam daftar-hitam HUAC. Pemerintahan Amerika Serikat mengecam film ini karena dianggap bersimpati dengan komunisme, dan FBI melakukan penyelidikan serius terkait pendanaan proses produksi film ini. American Legion menyerukan boikot nasional dengan memerintahkan kepada setiap rumah produksi film untuk tidak membantu proses editing akhir dan kepada serikat projeksionis film untuk tidak menayangkan film ini di mana pun. Setelah malam premier di New York City, film ini mendekam selama sepuluh tahun karena hanya 12 bioskop di seluruh Amerika Serikat yang berani menayangkannya. Dan karena film ini pula Revueltas akhirnya dideportasi ke Meksiko.

Ada keindahan dalam film ini. Bukan karena pesan tertentu atau makian politik. Bukan karena berhasil menginspirasi gerakan sosial setelah perilisannya. Bukan karena telah menghadirkan gema yang aneh bertahun-tahun kemudian. Keindahan film ini terletak pada kemampuannya menceritakan sebuah kisah perjuangan dan perlawanan dengan tulus dan begitu mendalam melawan dominasi kekuasaan yang semena-mena. Tidak ada yang lebih syahdu dan indah ketimbang kisah tentang manusia yang mengambil sikap tegas untuk terus berjuang demi kehidupan, kebebasan, dan kebahagiaan. Tidak ada yang lebih syahdu dan indah dari itu.

Dan Esperanza berarti “Harapan”. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s