2 Days in Paris (2007)

Poster film. (gambar: IMDb)
Poster film. (gambar: IMDb)

PRANCIS adalah negeri romantis, namun memberikan seikat bunga kepada perempuan/lelaki Prancis merupakan tindakan yang dianggap “terlalu mencolok” oleh orang Prancis. Ketika Marion (karakter yang diperankan oleh Julie Delpy di film 2 Days in Paris) melakukan “kesalahan” seperti itu, maka saya anggap (atau harap) bahwa dia tahu dan sepenuhnya sadar apa yang sedang dia lakukan. Jika hubungan Marion dengan kekasihnya (Jack [Adam Goldberg]) sedang mengalami konflik permasalahan dan tampaknya bakal berakhir, maka Marion-lah orang yang pertama kali mencoba memperbaiki hubungan itu sebisanya, sebaik-baiknya. Film ini menampilkan akhir dari liburan di Eropa yang dimaksudkan untuk memperbaiki hubungan Marion dan Jack, namun liburan itu sendiri malah menjadi mimpi buruk bagi mereka. Terkadang ketika kamu ingin mengenal (maksud saya — benar-benar ingin mengenal dengan sungguh) pasanganmu, kamu pada akhirnya bakal berharap bahwa kamu lebih baik tidak mengenal pasanganmu lebih mendalam.

Jack mengalami momen liburan yang buruk di Venesia, Italia. (Momen buruk di Venesia? Serius? Bagaimana bisa hal seperti itu terjadi?) Jack terserang diare parah dan mencoba menguji kesabaran Marion dengan memfoto apa saja kecuali diare itu sendiri. Apakah Jack tidak sepenuhnya tahu bahwa ada ramuan herbal atau obat atau apa pun yang bisa dia konsumsi untuk menyembuhkan diare? Atau apakah Jack berpikir bahwa aktivitas memotret segala macam objek merupakan upaya ampuh untuk mengusir diare … di Venesia? Ah, entahlah.

Namun, sudahlah, lupakan saja.

Marion dan Jack bermaksud menghabiskan dua hari terakhir liburan di Paris — kota kelahiran Marion — sebelum akhirnya kembali ke kehidupan banal mereka di New York, Amerika Serikat. Selama di Paris, Marion dan Jack tinggal di rumah orangtua Marion, Jeannot dan Anna yang diperankan oleh orangtua asli Delpy: Albert Delpy dan Marie Pillet. Jack langsung mendapatkan kejutan berupa perbedaan budaya di acara makan bersama di mana menu yang dihidangkan adalah kelinci rebus. Saya sempat berpikir bahwa Jeannot dan Anna bakal mencoba “taktik belas kasihan” a la Amerika dengan mengatakan bahwa menu yang mereka hidangkan adalah ayam namun hal itu bakal menjadi peristiwa yang sepenuhnya konyol karena kepala kelinci sama sekali tidak mirip dengan kepala ayam.

Marion dan Jack keluyuran menjelajahi Kota Paris, berbicara dengan cara yang selalu dilakukan oleh para pecinta untuk menunjukkan perasaan cintanya kepada sang kekasih. Sekilas film ini mirip Before Sunset (2004) garapan Richard Linklater di mana Delpy dan Ethan Hawke berkeliling Kota Paris sembari terlibat dalam sebuah obrolan yang menarik. Namun saya berani memberikan garansi kepadamu bahwa 2 Days in Paris ini sama sekali tidak berusaha untuk meniru Before Sunset atau film dengan tema sejenis. Film ini adalah perenungan tentang ketidak-cocokan, di mana Paris mampu mengeluarkan sisi Marion yang sebenarnya — sisi terdalam yang belum pernah diketahui oleh Jack sebelumnya: apakah Marion adalah seorang aktivis politik radikal dan pelacur tidak tahu malu, atau dia hanya bertingkah seperti salah satunya? Selama dua hari itu Marion terlalu sering bertemu dengan mantan-mantan kekasihnya yang membikin Paris tampak seperti kota yang sangat kecil serta, ketika berada di sebuah restoran, dia mengajukan penawaran kepada salah satu mantan kekasihnya dan Jack untuk melakukan liburan seks di Thailand. Sementara itu ketika sedang berada di rumah, Jeannot menguji pengetahuan Jack mengenai budaya Prancis dan Anna terlalu bersemangat untuk terus-menerus menekan Jack yang membikin Jack gerah dan berada dalam situasi yang tidak menyenangkan bagi dirinya.

Selain menjadi pemeran utama, Delpy juga bertindak multitasking dalam film ini di mana dia menggarap nyaris segala sesuatunya, mulai dari menjadi sutradara, produser, penulis naskah, komposer latar belakang musik dan menyumbangkan suaranya dalam soundtrack, dan juga sebagai editor. Ketika seorang perempuan melakukan begitu banyak pekerjaan, orang-orang yang katanya sudah modern dan beradab itu bakal menyebutnya sebagai pribadi yang sombong. Namun ketika seorang lelaki yang melakukannya, maka orang-orang bakal menyebutnya sebagai seorang pekerja keras dengan etos kerja yang patut untuk ditiru. Stereotip dan moralitas yang bekerja di dunia perfilman memang masih tidak ada ubahnya dengan segala sesuatu (sistem) yang berlaku di peradaban manusia. Patriarki masih menjadi salah satu gaya hidup yang penting, jika bukan yang utama, di dunia ini. It’s a man’s man’s man’s man’s man’s world, after all. Ting-a-ling, bangsat!

Delpy telah berhasil membikin sebuah film cerdas dan brilian dengan batasan-batasannya sendiri. Karakter Marion dan Jack perlahan mengungkapkan hal yang paling tersembunyi dari diri mereka dengan cara yang unik dan membikin saya bertanya-tanya hal luar biasa apa yang mampu membuat mereka sepakat untuk menjalin hubungan asmara percintaan. Ada banyak kesamaan antara Marion di film ini dengan Annie Hall dalam film Annie Hall (1977) karya Woody Allen yang terkenal itu — namun letak perbedaannya adalah jika Marion menemukan tarantula di kamar mandi maka Marion bakal memukulnya lalu merebusnya dan menyajikannya sebagai menu makan siang bersama, saya tidak yakin Annie bisa melakukan hal yang sama atau lebih ekstrem dari itu.

Delpy adalah manusia autentik, seorang perempuan yang menolak untuk didikte atau dibatasi. Sebagai seorang aktris, Delpy adalah diva. Delpy menandai debut sebagai pemeran utama dengan akting brilian di Beatrice (1987) karya Bertrand Tavernier, dilanjutkan dengan Europa Europa (1990) garapan Agnieszka Holland dan Three Colors: White karya Krzysztof Kieślowski pada tahun 1994. Delpy menampilkan akting yang memukau di beberapa film garapan Linklater seperti Before Sunrise (1995), Waking Life (2001), Before Sunset, dan Before Midnight (2013). Dan di antara kesibukannya itu, Delpy mendalami dunia perfilman dengan mengambil studi di New York University.

Melalui 2 Days in Paris ini Delpy menghindari semacam godaan untuk mendaur-ulang tema klise “pasangan-kekasih-di-Paris” dan berhasil menciptakan dua karakter yang unik dan begitu asli yang sangat terobsesi dengan — namun gagal mengatasi — perbedaan dalam kisah asmara mereka. (Bisa dibilang Paris hanyalah “selingan” yang cukup indah dalam film ini.) Dan sudah saatnya untuk berhenti berpikir bahwa Delpy hanyalah sekadar aktris pirang biasa: dia adalah seorang seniman cerdas, brilian, dan serbabisa. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s