Two for the Road (1967)

What kind of people just sit like that without a word to say to each other? Married people!
— Mark dan Jo Wallace

Poster film. (gambar: IMDb)
Poster film. (gambar: IMDb)

SUDAH terlalu banyak film yang menampilkan “cinta” sebagai suatu tontonan yang memuaskan dan megah, di mana sebagian besar adegan ciuman selalu dilatar-belakangi oleh senja yang melodius, atau adegan sepasang kekasih yang berlari dengan tangan terbentang mengampiri satu sama lain dalam gerak-lambat. Permasalahannya adalah, bahwa di dunia nyata yang tidak ideal ini, “cinta” tidak terjadi seperti itu. (Asmara di kehidupan nyata itu kejam, anak muda!) Saya pikir Stanley Donen mungkin sedang mencoba untuk meluruskan atau mengatasi permasalahan “tampilan cinta dalam film” ketika dia membikin Two for the Road ini. Donen dikenal sebagai seorang sutradara yang konsisten dalam menghasilkan tontonan dan hiburan cerdas: Singin’ in the Rain (1952), misalnya, yang didaku oleh banyak kritikus sebagai film musikal terbaik sepanjang masa. Film bikinan Donen, yang dinilai paling buruk sekali pun, selalu terlihat bagus di layar: kombinasi antara warna-warni yang indah, teknik editing yang keren, dan fotografi yang sempurna.

Namun, hanya karena terlihat bagus di layar bukan berarti film itu memiliki suatu pesan tertentu untuk disampaikan kepada penontonnya. Kamu tidak bisa membikin sebuah kisah “cinta” yang dipenuhi dengan nyanyian atau dialog “saya cinta kamu” di sepanjang film, kecuali kamu adalah manusia labil yang hanya menyisakan seperempat perasaan di dada dan secuil otak di dalam batok kepala. Dan jika kamu masih keukeh ingin membikin sebuah film dengan kisah “cinta” yang epik, maka kamu harus memahami satu hal bahwa pasangan kekasih dalam kisah “cinta”-mu harus terlihat bagus di layar. Apa pun caranya, kamu harus berhasil membikin penonton mampu mengidentifikasi hal itu ketika menikmati film bikinanmu.

Dalam film ini, Donen melakukan semua hal yang diperlukan untuk menghasilkan sebuah kisah “cinta” epik yang tidak biasa. Donen memilih Audrey Hepburn (memerankan karakter Joanna “Jo” Wallace) dan Albert Finney (berperan sebagai Mark Wallace), dua orang dengan pesona yang luar biasa, untuk menjadi pasangan kekasih di film ini. Donen merekam warna-warni yang indah di setiap pengambilan gambarnya. Naskah film-nya, ditulis oleh Frederic Raphael, yang menampilkan plot campuran diterjemahkan Donen dengan cerdas untuk menghasilkan sesuatu yang menghibur, menampilkan pasangan Mark-Jo pada poin-poin tertentu semasa mereka berpacaran dan ketika sudah menjalani kehidupan perkawinan. Donen juga menyisipkan trik komedi-musikal, menempatkan nyaris seluruh adegan film ini “di jalan”, ketika Mark dan Jo menumpang atau berkendara mengelilingi Eropa.

Hepburn dan Finney berkeliaran di jalanan Eropa. Mark adalah seorang arsitek brilian yang tampan, Jo adalah seorang perempuan manis dan cantik (siapa yang meragukan pesona kecantikan dan aura manis dari Hepburn, huh?), dan mereka berdua memulai segala sesuatunya dari titik terendah untuk kemudian sukses dan menikmati kehidupan a la jetset, sementara saya dan V — sebagai penonton — duduk anteng mengagumi apa-apa yang tampil di layar 14” sebuah laptop butut di depan kami. Untuk semakin melengkapi, Donen menambahkan beberapa stuntmen, kuda, anak-anak, dan, ini yang paling bangsat, satu-dua senja melodius. Hal itu masih terkesan sebagai kisah “cinta dalam film” yang cukup klise, bukan?

Namun niat awal Donen bukanlah untuk menyajikan sebuah kisah “cinta” klise seperti dalam film-film kebanyakan. Donen menyelami hubungan asmara Mark dan Jo lebih dalam lagi, serta dengan tulus dan teliti menampilkan detail apa yang terjadi setelah Mark dan Jo saling jatuh “cinta”, berpacaran, kawin, punya anak, dan perkawinannya memasuki usia satu dekade.

Jo: “When did you start being as snide as this?
Mark: “Right after we’ve got married.
Jo, kembali bertanya: “Did we get married?
Mark: “Yeah. Remember? When sex stopped being fun.
Jo: “Oh, yeah, and started being official.
Mark menimpali: “Why is that making love is always better when it doesn’t mean anything?

Perkawinan secara bertahap kehilangan pesona dan hal-hal baru yang menyenangkan dan menggairahkan; “cinta” pelan-pelan mengubah dirinya menjadi sekadar keakraban formal yang melelahkan; sang anak pun lebih dianggap sebagai beban yang menyusahkan ketimbang sebagai berkah; dan salah satu dari mereka akhirnya mulai mencari eskapisme untuk merengkuh ketenteraman yang bisa menyegarkan dan menyamankan batinnya. (Dan, bagi saya, itulah yang terjadi dengan “cinta” di kehidupan nyata. Right?)

Ada cukup banyak adegan kocak dalam film ini. Misalnya adegan ketika Mark dan Jo sedang menikmati sarapan di sebuah kafe di Prancis sembari memerhatikan pengunjung lain di kafe itu. (“They don’t look very happy,” Jo berujar, Mark menoleh dan menanggapi: “Why should they? They just got married.”) Atau ketika Mark dan Jo sedang liburan berkeliling Eropa bersama dengan pasangan yang sangat terorganisir dari Amerika Serikat (Howard “Howie” Maxwell-Manchester [William Daniels] dan Cathy Maxwell-Manchester [Eleanor Bron]) dan anak gadis cilik mereka yang sangat menjengkelkan (Ruth “Ruthie” Maxwell-Manchester [Gabrielle Middleton]).

Sementara adegan yang melibatkan Mark, Jo, dan David (Georges Descrières) ditampilkan Donen dengan begitu jujur sekaligus menyakitkan. “Too bad we never met,” ujar David kepada Mark di satu pagi yang suram. “Yes,” balas Mark, “then you could have had the pleasure of committing adultery with a friend’s wife.

Pada bagian akhir film, Mark dan Jo bertengkar hebat di dalam mobil, lalu kemudian memberanikan diri untuk mulai memeriksa kembali hubungan mereka, dengan jujur menganalisis ketakutan masing-masing dan apa-apa yang telah membikin “cinta” mereka tidak nyaman selama ini. Donen menutupnya dengan adegan Mark dan Jo berkendara menyeberangi perbatasan dari Prancis ke Italia — sebuah simbolisasi dari Donen yang menandakan bahwa pasangan kekasih itu telah menuntaskan persoalan lama mereka untuk melangkahkan kaki menuju tahap yang benar-benar baru, bersiap menghadapi masalah baru lainnya.

Donen tahu apa yang ingin dia kerjakan, dan dia mengerjakannya dengan sangat baik. Two for the Road adalah sebuah film yang sangat halus dan cerdik yang memberikan dua hal: (1) sebuah romansa epik antara dua orang yang memiliki pesona tidak terbantahkan; dan (2) kisah jujur tentang dua karakter yang mudah untuk dikenali/diidentifikasi (di dunia nyata). Saya bakal mengingatnya sebagai sebuah kisah “cinta” yang mendewasakan. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s