World of Tomorrow (2015)

Poster film. (gambar: IMDb)
Poster film. (gambar: IMDb)

KEBANYAKAN film pendek dirilis tanpa adanya harapan untuk menghasilkan uang atau profit. Film pendek biasanya adalah sebuah proyek kecil untuk merealisasi hasrat atau gairah personal yang dimaksudkan untuk ditayangkan di beberapa festival film sebelum berakhir di situs pribadi sineas pembuatnya, atau di situs layanan streaming video gratis seperti YouTube. Hanya sedikit sekali film pendek yang benar-benar brilian dan bagus hingga akhirnya masuk dalam salah satu daftar On Demand di mana kita harus mengeluarkan uang untuk menontonnya di Vimeo atau iTunes. Sebuah film pendek harus memiliki reputasi kesuksesan yang monumental di berbagai macam festival film sebelum akhirnya bisa dijadikan komoditas pencetak uang/profit di salah satu layanan streaming video berbayar dengan banderol harga tertentu. Iya, ada kemungkinan bahwa sebuah film pendek bisa menghasilkan keuntungan yang lumayan besar, atau setidaknya membantu sineas film pendek itu balik modal produksi — meski harus diakui bahwa kemungkinan seperti itu sangatlah kecil.

World of Tomorrow, sebuah masterpiece film pendek berdurasi 16 menit bikinan Don Hertzfeldt adalah salah satu di antara sedikitnya fenomena yang saya tulis di paragraf pembuka ulasan ini. Saat dirilis online untuk pertama kalinya pada tahun 2015 kemarin, siapa saja yang ingin menonton film pendek ini harus membayar $3,99 — itu pun bukan harga untuk membelinya, melainkan harga untuk menyewa film ini selama 30 hari. Keinginan untuk menontonnya pun semakin besar setelah semua ulasan kritikus film yang tersebar di internet memberikan respons yang superpositif terhadap film pendek ini. Namun dasarnya saya yang malas dan kikir untuk mengeluarkan uang demi sebuah film pendek, saya pun akhirnya rela menunggu selama satu tahun lebih sampai akhirnya mendapatkan film pendek ini secara gratis (iya: GRATIS) melalui Torrent dua bulan yang lalu. Dan puji semesta, waktu yang saya habiskan untuk menunggu unduhan gratis film pendek ini akhirnya dipuaskan dengan suguhan kisah yang tidak pernah membosankan untuk terus-menerus ditonton ulang berkali-kali. Dari semua film pendek yang pernah saya tonton sebelum ini, World of Tomorrow jelas menjadi film pendek favorit saya sepanjang masa!

Film pendek ini berbagi estetika animasi yang sama dengan karya Hertzfeldt sebelumnya yang berjudul It’s Such a Beautiful Day (2012). Tampilan karakter dalam film pendek ini terlihat seperti hasil gambar anak TK, namun pemandangan minimalisnya yang indah sebagai latar belakang setting cerita merupakan sesuatu yang sangat memanjakan mata saya. Film pendek ini berkisah tentang sebuah perjalanan futuristik yang dialami oleh Emily Prime (disulih-suarakan oleh Winona Mae), seorang gadis kecil lucu dan menggemaskan berumur empat tahun yang tidak sengaja menyalakan sebuah perangkat elektronik (atau komputer) dan berkomunikasi dengan kloning dari dirinya sendiri yang hidup 227 tahun di masa depan. Emily dewasa (sulih suara oleh Julia Pott) menggunakan mesin lintas-zaman untuk mengajak Emily Prime melakukan perjalanan menembus waktu ke masa depan. “The people of your time were engaged with something called the Internet,” ujar Emily dewasa. “Welcome, Emily, to the Outernet. We are now connected through a neural network.

Dari situ, Hertzfeldt memperlakukan penontonnya dengan serangkaian suguhan absurd sekaligus brilian yang melibatkan tampilan dari proses penuaan manusia di sebuah museum, potongan harga untuk melakukan perjalanan menembus waktu bagi masyarakat miskin yang ingin menghindari “kematian yang mengenaskan” terbakar di atmosfer, kumpulan robot di bulan, serta pemindahan beberapa kenangan/ingatan berharga untuk diawetkan dan disimpan. Sama seperti karyanya yang lain, di film pendek ini Hertzfeldt berbicara mengenai kesepian, tentang sebuah kerinduan yang begitu mendalam untuk terhubung atau membangun relasi dengan makhluk lainnya, yang disajikan dengan cukup absurd. Dalam satu adegan, Emily dewasa menceritakan bahwa dia pernah merasakan jatuh cinta kepada objek aneh atau benda mati (macam seonggok batu) ketika dia bekerja sendirian di bulan mengawasi pelatihan para robot yang bertujuan agar mereka takut dengan gelap atau kematian.

Saya lebih menyukai sebuah kisah tragis. “Happily ever after” adalah kisah yang cukup membosankan untuk diceritakan. Cinta yang bertepuk sebelah tangan dan kesepian adalah suatu kondisi yang jauh lebih umum dan gampang dikaitkan dengan kehidupan pribadi dari kebanyakan manusia yang ada di Bumi. Film ini menunjukkan perkembangan emosional Emily yang janggal dan menyakitkan seperti yang sering dialami oleh remaja. Sebagian besar dari kita — para manusia — selalu condong untuk memilih pasangan yang salah dan pada akhirnya saling menyakiti perasaan masing-masing dalam sebuah relasi/hubungan asmara yang coba kita bangun seideal mungkin. Emily dalam film ini juga mengalami hal yang sama ketika jatuh cinta kepada seonggok batu dan sebuah pompa bahan bakar dan makhluk aneh.

Penjelasan saya itu mungkin terdengar/terbaca seperti sebuah film pendek yang terlalu berat dan terlampau absurd, namun ini sebenarnya adalah sebuah film pendek yang sangat lucu dan bagus dan inventif tanpa henti sehingga tidak menjadi masalah jika dibutuhkan lebih dari lima kali kesempatan menonton agar bisa menangkap dan mencerna semua ide brilian dan absurd yang ada di film pendek ini. Hertzfeldt telah berhasil menyajikan konsep yang luar biasa lucu dan absurd, sekaligus menyayat jantung pada saat yang bersamaan, dengan menggunakan animasi sederhana yang tidak pernah terpikirkan oleh siapa pun di luar sana. Namun yang paling brilian adalah keputusan Hertzfeldt meng­-casting Mae yang merupakan keponakannya sendiri berumur empat tahun namun mampu memberikan penyuaraan yang begitu menawan dan indah untuk karakter Emily Prime dengan rangkaian dialog yang spontan atau tidak tertulis dalam naskah filmnya. Sementara Pott yang mengisi suara Emily dewasa memiliki nada yang tepat ketika dia mencoba untuk mempertahankan kehadiran otoritatif sembari mencoba menanggapi “ocehan ngelantur” dari seorang anak kecil berumur empat tahun.

Sebelum menulis ulasan ini saya telah menonton World of Tomorrow sebanyak 26 (atau 27) kali, dan berusaha mencoba mengalih-bahasakan subtitle­-nya ke bahasa Indonesia. Setiap kali menontonnya, saya merasakan bahwa film ini semakin lucu dan semakin bagus. Dan meskipun bertema futuristik, film pendek ini sebenarnya juga memiliki pesan yang kuat untuk menghargai masa kini, untuk merayakan momen saat ini: carpe diem! Seperti kata Emily dewasa: “For all of these things melt away and drift apart within the obscure traffic of time. Live well and live broadly. You are alive and living now. Now is the envy of all of the dead.

(Emily dewasa kemudian menyatakan bahwa dia senang dan merasa terhormat telah bertemu dengan Emily Prime dan dia berjanji tidak akan menghubungi Emily Prime di kemudian hari. Setelah mengucapkan selamat tinggal, Emily dewasa mentransportasi Emily Prime ke masa kini, ke ruang putih yang berisikan sebuah perangkat elektronik atau komputer yang membikin mereka berdua bisa berkomunikasi di awal film. Lantas Emily Prime mulai mengenali ruangan tersebut dan menyunggingkan senyum dan menggumamkan nyanyian “what a happy day it is” sebelum akhirnya merangkak keluar ruangan.)

World of Tomorrow adalah sebuah film animasi pendek tentang retorika semesta dan ingatan manusia yang digarap dengan pendekatan yang sederhana namun hasilnya luar biasa syahdu, surealis, pilu menyayat jantung, indah, brilian, dan tidak bakal bisa dihilangkan begitu saja dengan mudah dari batok kepala saya. Semua yang diinginkan dari film sains-fiksi ada di sini: robot, paradoks, alien, dan gagasan baru macam Outernet. Namun film ini juga berkaitan dengan konsep manusia yang lebih universal dan lebih nyata seperti kepolosan dan kecerdasan anak kecil, serta berbagai macam hal yang dipelajari atau ditirukan oleh manusia dalam proses kemenjadiannya dan hal-hal yang direlakan atau dilepaskan oleh manusia seiring dengan bertambahnya usia. Ketika sedang menikmati film ini saya lupa bahwa saya sebenarnya sedang menyaksikan kumpulan “gambar mentah” di tengah-tengah lanskap surealis dengan plot cerita absurd untuk merepresentasikan ide cemerlang dari Hertzfeldt. Film ini juga menjadi pengingat mengapa saya sangat menyukai karya sinematik dan aktivitas menuliskan ulasannya setelah menontonnya.

Dan perihal cara saya yang tidak sudi membayar untuk menyewa film pendek superkeren ini tahun lalu, malah lebih memilih menunggu link unduh gratisnya di Torrent selama lebih dari satu tahun, saya mah peduli setan yeuh. Sebab gratisan itu menyenangkan! Sharing (for free) is caring, isn’t it? Dan juga karena membajak, dalam hal ini mengunduh (ilegal) di internet, saya pikir, adalah aksi perlawanan dan pemberontakan paling mudah menghadapi monopoli kapitalisme yang semakin memuakkan.

(Sementara itu, dunia kembali kehilangan sosok revolusioner setelah Fidel Castro — pak tua keras kepala pemimpin Revolusi Kuba yang mengajarkan bahwa praktik gerilya bersenjata dapat mendukung gerakan pembangkangan sipil di perkotaan — meninggal dunia di usia 90 tahun pada 26 November 2016. Adios, compañero.) []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s