Teenage Mutant Ninja Turtles: Out of the Shadows (2016)

Poster film. (gambar: "comingsoon.net")
Poster film. (gambar: “comingsoon.net”)

TIDAK terlalu penting apakah Teenage Mutant Ninja Turtles: Out of the Shadows adalah film yang lebih bagus (atau lebih jelek) ketimbang pendahulunya yang dirilis pada tahun 2014 kemarin, Teenage Mutant Ninja Turtles. Tidak terlalu penting pula bahwa film ini dibikin dengan tujuan memperpanjang umur empat karakter kartun kura-kura ninja yang sekarang ini malah terlihat seperti mutan raksasa akibat penyalah-gunaan steroid atau makhluk hibrida dari eksperimen penyatuan lumut dan kura-kura yang gagal total. Bahkan, niat awal dari film ini pun terasa salah kaprah: menabur benih nostalgia yang malah mengarahkan penontonnya ke dalam kesan yang keliru tentang petualangan penuh aksi dan menyenangkan dari empat karakter kura-kura ninja. Ini adalah jenis film yang ingin memanfaatkan romantisme nostalgia untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya tanpa memerhatikan jalannya plot cerita, mengesampingkan pengembangan karakternya, dan menghilangkan koreografi aksi yang imajinatif.

Dari segi plot cerita, saya bisa mengatakan bahwa film ini tidak lebih dari sekadar tumpukan drama taik kucing yang hanya mengandalkan berbagai macam kebetulan belaka yang tidak terasa magis, twist yang jeleknya minta ampun, dan kumpulan dialog yang superkonyol. Rangkaian adegan awal film ini menampilkan empat kura-kura ninja penumpas kejahatan (yang dulunya saya idolakan) — Raphael (Alan Ritchson), Michelangelo (Noel Fisher), Leonardo (Pete Ploszek), dan Donatello (Jeremy Howard) — mencoba (dan gagal) untuk menangkap kembali musuh abadi mereka, Shredder (Brian Tee), yang melarikan diri dari penjara. Dalam usaha melarikan diri itu, Shredder mendapatkan bantuan dari Krang (Brad Garrett) — sebuah otak raksasa alien yang hidup dan tinggal di dalam perut sebuah robot raksasa — yang berhasrat untuk menghancurkan Bumi (menggunakan pesawat penghancur superbesar bernama Technodrome) dan ingin sekali memperbudak manusia.

Jadi, dalam aksi petualangan menumpas kejahatan kali ini, empat kura-kura ninja (yang dulunya keren itu) harus berhadapan dengan bahaya besar dari semacam tumor perut dan geng pimpinan Shredder, seperti: seorang ninja perempuan bernama Karai (Brittany Ishibashi), dua mutan hibrida super-aneh bernama Rocksteady (Sheamus) dan Bebop (Gary Anthony Williams), serta profesor jahat bernama Dr. Baxter Stockman (Tyler Perry). Selain itu, empat kura-kura ninja (yang dulu selalu saya nantikan serial kartunnya itu) juga dihadapkan dengan perbedaan pendapat di dalam kelompok mereka sendiri ketika mereka mengulang dilema utama yang selalu ada di setiap franchise Ninja Turtles, dan terancam bubar setelah Leonardo bertengkar dengan Raphael.

Oh iya, apakah saya sudah menyebutkan bahwa Teenage Mutant Ninja Turtles: Out of the Shadows juga disisipi potongan plot yang menonjolkan daya tarik seksual dari karakter April O’Neil (Megan Fox) ketika tersenyum menggoda untuk mengatakan kepada Casey Jones (Stephen Amell) bahwa empat kura-kura ninja (yang dulunya saya idolakan) itu adalah temannya? Atau potongan plot dengan daya tarik seksual lainnya dalam adegan ketika April memonyongkan bibirnya dan berbicara dengan nada suara yang seksi untuk meyakinkan Kepala Polisi Rebecca Vincent (Laura Linney) bahwa empat kura-kura ninja (yang dulunya keren) itu bukanlah monster mengerikan, melainkan kawanan-baik-hati-penumpas-kejahatan? Atau ketika April merekonstruksi keseksian Britney Spears dalam klip video Oops!… I Did It Again dengan tampilan yang hanya bisa disajikan oleh seorang Megan Fox di awal film? Atau potongan plot yang selalu menampilkan Donatello, kura-kura ninja paling pintar, mengeluarkan dialog penjelasan teknologi yang paling malas dan paling tidak logis sejak film terakhir yang diproduksi oleh Michael Bay? Atau bagaimana dengan Shredder, bajingan paling kejam dalam franchise Ninja Turtles, yang tidak melakukan apa-apa atau bertarung/berkelahi melawan siapa pun dalam film ini karena anak buahnya — dua mutan hibrida super-aneh bernama Rocksteady dan Bebop — mendapatkan jatah tampil lebih banyak di layar namun hanya sekali saja berkonfrontasi melawan empat kura-kura ninja dalam sebuah rangkaian adegan aksi yang sama sekali tidak menghibur?

Film ini tidak memberikan sedikit pun rasa sukacita dari pengalaman nostalgia dan eskapisme bagi saya yang semasa kecil sangat mengidolakan tokoh kura-kura ninja. Film ini serasa terbebani ekspektasi tinggi untuk mengulangi kesuksesan franchise terdahulu. Pada dasarnya, plot film ini diangkat dari beberapa cerita lain di franchise Ninja Turtles namun dieksekusi dengan begitu buruk ditambah dengan animasi CGI karakter protagonisnya yang konyol dan jeleknya minta ampun. Humor yang disajikan di sepanjang film terasa palsu dan tidak bisa memancing saya untuk hanya sekadar menyunggingkan tawa kecil di bibir. Adegan aksinya — meski secara teknis lebih bagus ketimbang prekuelnya — masih terasa kurang mendebarkan dan menyenangkan. Dan ada begitu banyak rangkaian dialog yang tidak masuk akal.

Namun semua keluhan saya di atas itu tidaklah penting dan tidak memiliki arti apa pun sebab beberapa tahun mendatang akan ada anak-anak dari generasi saat ini (yang telah tumbuh menjadi remaja) yang menonton kembali film ini dan setelahnya berkeinginan untuk membeli merchandise dalam bentuk apa pun (video game, poster, mainan, kaus, boneka action-figure) dari franchise kura-kura ninja karena dorongan rasa nostalgia yang begitu kuat, meskipun saya yakin bakal ada beberapa dari mereka yang mengalami kekecewaan yang sama seperti yang sekarang saya rasakan setelah menonton film ini. Sebab, pada akhirnya, tujuan yang sebenarnya dari Teenage Mutant Ninja Turtles: Out of the Shadows bukanlah untuk menghadirkan sebuah tontonan yang menghibur, melainkan komoditas lain untuk meraup profit sebanyak-banyaknya dengan cara mengeksploitasi romantisme nostalgia atau kerinduan terhadap empat karakter kura-kura ninja baik-hati-pembasmi-kejahatan yang dulu pernah diidolakan oleh banyak orang.

Itu sudah. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s