Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (2013)

Poster film. (gambar: "WOW Keren")
Poster film. (gambar: “WOW Keren”)

KESAN pertama yang saya dapatkan setelah menonton Tenggelamnya Kapal Van der Wijck yang disutradarai oleh Sunil Soraya ini adalah: “Oh film ini diproduksi oleh Soraya Intercine Films, pantas saja hasilnya seperti itu: kelihatan mewah.” Jadi begini, menurut pengetahuan saya yang pas-pasan ini tentang dunia perfilman Indonesia, Soraya Intercine Films selalu membikin film taik yang coba disajikan dengan tampilan yang mewah dan megah. Eiffel I’m in Love (2003), Apa Artinya Cinta? (2005), Chika (2008), dan 5 cm (2012), untuk menyebut beberapa contoh film bikinan Soraya Intercine Films yang selalu memasukkan unsur kemewahan di dalamnya, serta selalu sukses membikin saya pusing dan mual-mual setelah menontonnya. Dan kali ini, Soraya Intercine Films memproduksi film untuk mencoba menandingi (atau, mungkin, meniru) kemewahan The Great Gatsby (2013) garapan Baz Luhrmann. Iya, mungkin saja seperti itu.

Mengambil setting pada tahun 1930an, film ini dibuka dengan keinginan Zainuddin (Herjunot Ali) untuk berlayar ke kampung halaman ayahnya di Batipuh, Padang Panjang, Sumatera Barat. Di kampung halaman ayahnya itu Zainuddin bertemu dengan seorang bunga desa bernama Hayati (Pevita Pearce). Keduanya pun jatuh cinta, saling bertukar surat dan perasaan.

Namun apa lacur, ternyata kisah cinta Zainuddin dan Hayati harus berakhir hancur berkeping-keping karena adat-istiadat masyarakat Minang. Zainuddin, yang lahir dari ibu seorang Bugis dan ayah seorang Minang, dianggap tidak pantas untuk mencintai dan bersanding dengan Hayati yang merupakan seorang perempuan Minang keturunan bangsawan. Dalam tatanan masyarakat Minang yang matrilineal, Zainuddin hanyalah seorang pemuda melarat tanpa suku — statusnya tidak diakui oleh masyarakat Minang karena dianggap tidak memiliki pertalian darah lagi dengan keluarganya di Minangkabau.

Setelah menolak lamaran Zainuddin, keluarga Hayati memaksa Hayati untuk kawin dengan Aziz (Reza Rahadian), seorang lelaki kaya pilihan keluarga besar Hayati. Zainuddin kehilangan pegangan dan gairah hidup setelah mendengar kabar perkawinan Hayati dan Aziz. Dan setelah mampu menerima pahitnya ditinggal kawin oleh sang pujaan hati, Zainuddin memutuskan pergi dari Minang untuk membangun kembali hidupnya di tanah Jawa, menjadi seorang penulis yang akhirnya terkenal dan kaya raya.

Zainuddin pun bertemu kembali dengan Hayati dan Aziz di tanah Jawa. Dan setelah melewati berbagai macam momen canggung yang diselingi banyak air mata, Hayati pulang ke kampung halamannya dengan menaiki kapal Van der Wijck yang, entah karena apa, tenggelam di tengah-tengah perjalanannya. Kisah cinta ini diakhiri dengan pengakuan Hayati yang ternyata masih mencintai Zainuddin sebelum mati dengan tenang.

Pevita terlihat sangat menggemaskan di film ini, meskipun terlalu banyak menangis dan sikap pasrahnya membikin saya eneg setengah mati. Sementara Herjunot berhasil membikin saya tertawa puas karena usahanya untuk menjadi tokoh yang bisa dibanggakan di film ini, dan pada akhirnya gagal total! Yang paling mengganggu saya ketika menonton film ini adalah musik pengiring film dari Nidji, serta genre musik dubstep yang diputar dalam adegan pesta di rumah mewahnya Zainuddin. Musik dubstep di era 1930an? Oh ayolah, ini jelas lelucon yang sama sekali tidak lucu!

Meski begitu, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck masih termasuk dalam film lokal yang bisa dinikmati dan saya tidak mengingkari bahwa saya sedikit terbawa atmosfer dan emosi kisah cinta tragis Zainuddin dan Hayati di film ini. Dalam adegan ketika Hayati harus merelakan Zainuddin yang diusir oleh tetua adat mereka, saya sangat ingin memeluk Hayati dan berbisik: “Kenapa kamu tidak mencoba untuk kabur saja berdua setelah menyadari bahwa cinta dan hidup kalian kacau?” Jika memang Zainuddin dan Hayati sebegitu jatuhnya terhadap cinta masing-masing (Zainuddin sempat berujar dalam suratnya bahwa “tidak ada kebahagiaan yang lebih tinggi di dunia ini selain kebahagiaan cinta”), maka sudah seharusnya mereka berdua menyadari bahwa pilihan terakhir yang tersisa hanyalah penyangkalan terhadap aturan dan kebijaksanaan yang ada. Oleh sebab itu: larilah, Zainuddin! Larilah, Hayati! Bebaskan diri kalian! Bersama, atau sendiri-sendiri.

Ah, andai saja cinta mereka sebesar dan sekuat itu. Andai saja… []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s