Donnie Darko (2001)

Poster film. (gambar: IMDb)
Poster film. (gambar: IMDb)

ADA beberapa film yang bukan hanya sekadar tontonan ringan untuk membunuh waktu di kala senggang, melainkan juga semacam puzzle untuk disusun satu per satu agar penontonnya dapat melihat gambaran besar atau memahami maksud dari film tersebut. Donnie Darko garapan Richard Kelly — berkisah tentang seorang remaja lelaki yang mendapatkan penglihatan tentang masa depan dari kelinci aneh dengan kepala yang terlihat seperti gabungan antara serangga dan iblis — adalah salah satunya di mana keseluruhan plotnya memusingkan, membingungkan, dan membikin penasaran — dalam artian yang, sebenarnya, tidak mengenakkan.

Jake Gyllenhaal berperan sebagai Donnie Darko, seorang pelajar SMA dengan nilai buruk di semua mata pelajaran sekolahnya, yang terlihat menyenangkan sekaligus juga menyebalkan pada saat yang bersamaan, dan terkadang lupa mengonsumsi obatnya tanpa alasan yang jelas. Donnie menjalani terapi rutin dengan seorang psikiater, Dr. Lilian Thurman (Katharine Ross), yang menggunakan metode hipnoterapi untuk menemukan bahwa Donnie memiliki teman khayalan yang menuntunnya melakukan ekspedisi sleepwalking. Salah satu ekspedisi sleepwalking tersebut pernah menyelamatkan nyawa Donnie ketika dia dalam kondisi tertidur sedang berjalan ke luar rumah dan tiba-tiba ada sebuah mesin jet superbesar jatuh tepat di kamar tidurnya.

Setting peristiwa kecelakaan itu dipersiapkan dengan sangat baik di sebuah lingkungan perumahan yang rindang di pinggiran kota, di mana para tetangga Donnie berkumpul di belakang garis polisi, penasaran ingin tahu apa yang sedang terjadi sementara sebuah truk derek sedang berusaha mengangkut mesin pesawat superbesar itu, dan FBI mengajukan pertanyaan kepada keluarga Darko. Ada banyak hal yang tidak dijelaskan di film ini (dan tampaknya film ini memang sengaja untuk tidak berusaha menjelaskan apa pun). Misalnya, tidak ada maskapai penerbangan yang melaporkan telah kehilangan mesin jet superbesar dari pesawatnya. Jadi dari mana mesin jet superbesar itu berasal? Dari Taman Eden turun ke Bumi? Dalam konteks peristiwa itu, Donnie dan semua karakter yang ada di film ini bernasib sama seperti saya: kami tidak diberikan penjelasan apa pun perihal dari mana mesin jet superbesar itu berasal.

Lantas Donnie Darko mengajak penontonnya untuk mengikuti kehidupan harian Donnie di sekolah dengan guru bahasa Inggris (Karen Pomeroy [Drew Barrymore]) yang lembut dan sayang-able, dan guru olahraga (Kitty Farmer [Beth Grant]) yang mengharuskan murid-muridnya untuk mencari pengalaman imajiner di “garis hidup” antara Ketakutan dan Cinta. Ketika Donnie menunjukkan apa yang bisa dilakukan oleh Kitty dengan “garis hidup”-nya, Donnie dan orangtua-nya menerima surat teguran dan harus menghadiri pertemuan dengan kepala sekolah — dan salah satu dari daya tarik film ini adalah bahwa mereka (Donnie dan orangtua-nya) tidak terkejut mendapatkan surat teguran itu, melainkan geli.

Donnie berasal dari keluarga yang baik-baik saja dan memiliki kehidupan yang cukup bahagia. Ibu Donnie, Rose Darko (Mary McDonnell), adalah perempuan cerdas, bijaksana, penuh dengan kehangatan, dan menyenangkan. Sementara ayah Donnie, Eddie Darko (Holmes Osborne), adalah seorang lelaki dengan kepribadian tenang dan santai, bukan monster menyebalkan dari formula ayah-pemarah a la standar Hollywood. Ini bukanlah film di mana protagonisnya adalah remaja aneh-penyendiri yang menjadi korban penyiksaan atau ketidak-harmonisan keluarga.

Donnie memiliki hubungan yang-yangan rumit dengan Gretchen Ross (Jena Malone), gadis pindahan dari kota lain — yang pertama kali masuk dalam kelas bahasa Inggris Karen, bertanya di mana tempat duduknya, dan Karen menjawabnya dengan kalimat yang mungkin tidak bisa diucapkan dengan begitu seksi oleh siapa pun kecuali Barrymore: “Sit next to the boy you think is the cutest.” Dalam adegan ketika Gretchen akhirnya memilih untuk duduk di sebelah Donnie, saya akhirnya paham mengapa Gyllenhaal pernah dipertimbangkan oleh Sam Raimi untuk memerankan Spider-Man menggantikan Tobey Maguire dalam Spider-Man 2 (2004): dia memiliki tampilan seorang lelaki dengan aura jahat di dalam batin yang menjauhkannya dari sang kekasih.

Serpihan kegelisahan yang tersembunyi jauh di dalam akhirnya berkumpul dan mulai muncul ke permukaan. Kelinci aneh yang mengaku bernama “Frank” — yang merupakan teman khayalan Donnie — memberitahu bahwa dunia bakal mengalami apokalips dalam waktu dekat. Donnie pun akhirnya memiliki kemampuan untuk melihat “garis hidup” keluarganya — semacam cairan semi-transparan berbentuk panah yang mengarah ke masa depan. Donnie menjadi tertarik dengan teori wormhole, dan mendapati fakta bahwa sebuah buku berjudul “The Philosophy of Time Travel” yang (dianggap) menjadi kunci jawaban dari semua kejadian aneh yang dia (dan film ini) alami ditulis oleh tetangganya dan juga mantan guru sains di sekolahnya, Roberta Sparrow (Patience Cleveland) yang lebih dikenal dengan nama julukan “Grandma Death” di lingkungan perumahannya, yang kini sudah memasuki usia 90an dan melakukan satu aktivitas yang sama secara berulang setiap harinya: berjalan ke luar rumah untuk memeriksa kotak surat yang selalu kosong.

Donnie Darko (sebenarnya) adalah sebuah film dengan setup dan pengembangan cerita yang lumayan menarik, namun diakhiri dengan cukup buruk. Film ini disusun dengan twist cerita yang saling tumpang-tindih sampai akhirnya plot filmnya berputar terlalu banyak, terlalu cepat, terlalu memusingkan, dan saya hanya bisa menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal ketika film ini telah benar-benar berakhir (sembari mengumpat: “What the fuck was that all about?”).

Sebagai penulis naskah merangkap sutradara, Kelly bisa dianggap cukup berhasil dalam hal menciptakan karakter yang segar, menarik, dan baru pada saat itu (mengingat film ini rilis pada tahun 2001). Kelly juga terhitung berhasil mengarahkan para aktris/aktornya agar bisa mengeluarkan kemampuan akting terbaik mereka, dan membangun atmosfer yang bagus untuk film ini. Namun entah kenapa Kelly seperti kehilangan sentuhan dan membiarkan kerja-kerasnya hancur secara perlahan di ending film.

Saya tidak pernah menuntut adanya penjelasan atau jawaban dari setiap film yang pernah saya tonton (film-film eksperimental aneh bikinan Lars von Trier atau Luis Buñuel, misalnya, yang memang tidak memiliki penjelasan baku/absolut di bagian akhir cerita; saya tidak pernah bermasalah dengan hal itu karena mereka berdua adalah tukang cerita jahanam-bangsat yang selalu bisa menyampaikan ceritanya dengan cara yang unik, aduhai, dan menenangkan), namun dari film ini saya menginginkan penutup yang lebih bagus, semacam resolusi atau konklusi sederhana di bagian akhir yang setidaknya mampu meredakan sakit kepala saya.

(Saran saya: jika kamu berniat menonton Donnie Darko, siapkan sesuatu yang bisa meredakan sakit kepala atau menenangkan rasa penasaranmu usai menontonnya: kekasih, mungkin. Ah iya, dengan catatan kamu memang punya kekasih yang bisa menemanimu menghabiskan durasi 113 menit film ini.) []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s