Punishment Park (1971)

Poster film. (gambar: IMDb)
Poster film. (gambar: IMDb)

SETTING film Punishment Park terjadi pada tahun 1970. Perang Vietnam memasuki klimaksnya dan Richard Nixon yang menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat pada saat itu baru saja memutuskan untuk melakukan pengeboman “rahasia” ke Kamboja. Dihadapkan dengan semakin membesarnya protes anti-perang, Nixon mengeluarkan dekret keamanan nasional yang didasarkan pada McCarran Internal Security Act yang memberikan kewenangan kepada otoritas federal untuk menahan siapa saja yang dianggap sebagai pembangkang politik dan “menjadi risiko bagi keamanan internal negara”.

Anggota dari partai komunis, kelompok pejuang HAM, grup feminis, gerakan anti-perang, serta sebagian besar mahasiswa ditangkap dan “diadili” oleh pengadilan yang beranggotakan beberapa wakil dari masyarakat. Para terdakwa diharuskan memilih antara hukuman penjara dalam kurun waktu yang sangat lama atau mengikuti “pelatihan” selama tiga hari di Punishment Park. Semua terdakwa memilih opsi yang kedua, di mana mereka harus melintasi gurun sejauh 90 kilometer dengan kondisi cuaca yang superpanas tanpa perbekalan makanan atau air untuk mencapai bendera Amerika Serikat yang dipasang di sisi lain dari gurun itu. Jika para terdakwa berhasil menyelesaikan “pelatihan” itu, maka mereka bakal diampuni dan dibebaskan; jika gagal, maka mereka harus menjalani masa hukuman di penjara federal. Agar “pelatihan” itu menjadi lebih “seru”, satu unit gabungan dari kepolisian dan militer ditugaskan untuk mengejar dan menggagalkan upaya para terdakwa.

Narasi film ini bercerita tentang beberapa sineas dari Eropa meliput dua kelompok terdakwa (Group 637 dan Group 638) sebagai bagian dari proyek film dokumenter mereka. Para sineas dari Eropa ini melakukan wawancara dengan anggota dari Group 637 dan petugas dari unit gabungan yang mengejarnya, mendokumentasikan bagaimana kedua belah pihak menjadi semakin bermusuhan seiring berjalannya “pelatihan” di Punishment Park. Group 637 terpecah menjadi dua: kelompok pertama berisikan orang-orang yang menolak untuk menerima aturan dari “pelatihan” dan mencoba untuk melawan unit gabungan dengan kekerasan, sedangkan kelompok kedua berisikan orang-orang yang ingin menyelesaikan “pelatihan”. Seluruh anggota dari kelompok pertama tewas terbunuh dalam upaya perlawanan mereka, dan ketika kelompok kedua hampir menyelesaikan “pelatihan” itu, mereka malah menemukan sekelompok polisi sedang menunggu di tempat tujuan untuk memastikan bahwa mereka gagal menyelesaikan “pelatihan” dengan membunuh seluruh anggota kelompok kedua itu satu per satu.

Sementara itu, di bagian lain, film ini menampilkan beberapa kru sineas yang lainnya mendokumentasikan jalannya persidangan Group 638 di sebuah tenda militer di mana para terdakwa terlibat adu argumen tentang Perang Vietnam dengan petugas pengadilan. Masing-masing pihak saling mengemukakan pandangan dan idealismenya: kebebasan, keadilan sosial, dan hak asasi manusia (para terdakwa); ketertiban, keamanan negara, dan hukum (petugas pengadilan). Beberapa terdakwa adalah pasivis, beberapa yang lainnya adalah radikal dan militan, sementara sisanya masih terlihat bimbang dan tidak yakin. Di bagian ini, Peter Watkins sebagai sutradara mencoba untuk menampilkan dampak kekuasaan negara terhadap kondisi psikologis dari kedua belah pihak di dalam tenda pengadilan itu.

Punishment Park merupakan sebuah film mockumentary-psikodrama satire (dan bisa menjadi contoh dari sejarah alternatif) dengan teknik pengambilan gambar dalam gaya cinéma vérité menggunakan kamera-genggam. Watkins memberikan sentuhan realisme ke dalam film ini dengan menggunakan teknik kamera newsreel dan mengizinkan aktris/aktornya untuk melakukan improvisasi pada plot cerita, namun dia juga ikut terlibat dalam proses editing untuk memastikan ekspresi dari visi pribadinya tentang kritik terhadap konsep negara tersampaikan melalui film ini. Watkins seperti ingin bilang bahwa negara merupakan organisasi kriminal terbesar yang pernah ada sepanjang sejarah peradaban manusia dan sistem hukum yang diterapkan di dalamnya, selain bermasalah, juga konyolnya minta ampun.

Meskipun film ini adalah kisah fiksi, banyak elemennya yang merupakan sebuah metafora dari peristiwa sosial-politik pada saat itu, seperti polarisasi politik di Amerika Serikat, My Lai Massacre, Kent State shootings, kebrutalan polisi, dan Chicago Seven. Dalam satu adegan, salah satu tokoh di film ini mengatakan: “This country, this America, was born in violence.” Saya mengamini frasa dialog itu, sebab, pada kenyataannya, seluruh negara yang ada di dunia tua saat ini memang lahir, tumbuh, berkembang, dan mempertahankan kedaulatan yang katanya atas-nama rakyat itu dengan aksi demi aksi kekerasan. Pembantaian yang dilakukan oleh negara adalah gejala dari patologi di dalam sistem itu sendiri dengan dalih sebagai sebuah upaya untuk mereformasi (atau menyingkirkan) “beberapa apel busuk” dari struktur kehidupan bernegara.

Kritik (atau propaganda) yang coba disampaikan dengan tulus dan syahdu oleh Watkins melalui film ini juga masih relevan ketika dibenturkan dengan kondisi sosial-politik masa kini. Sebab, pada akhirnya, negara dan kapitalisme adalah dua hal absurd yang harus dihancurkan secara bersamaan, untuk kemudian mulai memproduksi hal terpenting dalam kehidupan manusia: kebahagiaan yang membebaskan. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s