A King in New York (1957)

Poster film (IMDb)
Poster film (IMDb)

DALAM masa-masa “pengasingan”-nya di Inggris, Charlie Chaplin hanya membikin dua film: A Countess from Hong Kong (1967) dan A King in New York. Film yang saya sebutkan terakhir itu mendapat sambutan hangat dari para kritikus film di Inggris ketika ditayangkan pertama kali di sana pada tahun 1957, namun dilarang tayang di Amerika Serikat sampai tahun 1973. Pemerintahan Amerika Serikat pada saat itu menganggap bahwa ini merupakan salah satu film sinis dan anti-Amerika yang dibikin oleh seorang lelaki yang tidak tahu terimakasih karena dianggap telah berbalik melawan dan melakukan protes terkait segala kebijakan pemerintah. Semua itu ternyata hanyalah paranoid omong kosong khas kelas penguasa. Film ini tidak berisi hal-hal tersebut, dan menurut saya, film ini bahkan tidak bisa dibilang sebagai salah satu karya terbaik yang pernah dibikin oleh seorang komedian satire, kritis, dan cerdas macam Chaplin — meskipun film ini masih enak untuk dinikmati sampai akhir dan, seingat saya, setidaknya ada tiga atau empat adegan komikal yang sangat lucu dan berhasil membikin saya terpingkal-pingkal. Dan juga, ini adalah film yang penuh dengan harapan. Hanya kegilaan histeris dari orang-orang sok serius macam Prabowo Subianto atau Harmoko yang bakal menganggap sebaliknya.

Pada 1950an, Chaplin menjadi sosok kontroversial bagi otoritas Amerika Serikat. Ketika Chaplin pergi berlayar ke tanah kelahirannya di Inggris untuk menghadiri pemutaran perdana filmnya yang berjudul Limelight (1952), Pemerintahan Amerika Serikat dengan segera mengumumkan bahwa dia dilarang menginjakkan kaki kembali di Amerika. Hal ini dikarenakan Chaplin terlibat skandal hak asuh anak dan perkawinannya dengan seorang perempuan yang usianya jauh lebih muda dipermasalahkan oleh FBI, namun penyebab yang paling utama adalah karena dia diduga menjadi simpatisan komunis dan beroposisi melawan House Un-American Activities Committee (HUAC).

Chaplin memang kerap menyelipkan ide-ide komunisme di setiap film bikinannya untuk mengkritisi kebijakan pemerintah, dan HUAC menganggap hal ini sebagai ancaman serius. Yang mengejutkan adalah bahwa Chaplin sebenarnya masih menyimpan rasa optimisme yang cukup besar tentang prospek American Dream yang menjamin kebebasan warganya. Dan pada konsep seperti itu, nyatanya, A King in New York ini didasarkan. Chaplin menempatkan begitu banyak konsep kebebasan berpendapat melalui karakter yang diperankan oleh putranya sendiri di film ini, yang saya yakin membikin siapa saja yang menontonnya bakal bersiap turun ke jalanan untuk meneriakkan slogan demi slogan tentang kebebasan dan tuntutan untuk menciptakan revolusi.

Film ini dibuka dengan sebuah kutipan “Revolutions are one of the inconveniences of modern life” dan kemudian menceritakan petualangan Raja Igor Shahdov (diperankan oleh Chaplin sendiri) di Kota New York setelah berhasil kabur dari gejolak revolusi di negerinya, Estrovia. Igor adalah seorang lelaki paruh-baya baik hati yang memiliki ide tentang bagaimana memanfaatkan atom untuk perdamaian dunia. Namun ketika berada di New York, Igor tercengang dan kebingungan menghadapi kegilaan masyarakat Amerika Serikat, dan hal itu menjadi poin terbaik dari film ini.

Hal pertama yang dilakukan Igor di New York adalah pergi ke bioskop, dan Chaplin menyajikan olok-olok satire yang menyenangkan untuk Hollywood dengan beberapa adegan lucu. Dan ada rangkaian adegan yang sangat lucu di paruh-pertama film ini ketika Igor ditipu untuk tampil di sebuah acara televisi: dia diundang ke sebuah pesta makan malam yang ternyata disiarkan secara langsung oleh sebuah stasiun televisi menggunakan kamera tersembunyi, dan dia tidak paham kenapa Ann Kay (Dawn Addams) terus-menerus menginterupsi obrolan mereka berdua dengan kalimat iklan sebuah produk. Saya dan kekasih, yang menonton film ini setelah dihajar rutinitas kerja yang melelahkan dan membosankan, tertawa sepuasnya karena adegan lucu itu dan juga ingin sekali memukul kepala Ann dengan vas bunga yang ada di depannya.

Igor yang telah kehilangan seluruh uangnya karena ditipu oleh perdana menterinya sendiri di awal film ini kemudian menyetujui kontrak menjadi bintang iklan sebuah produk untuk menghidupi hidupnya di Amerika Serikat sembari mencoba memenangkan dukungan dari United States Atomic Energy Commission terkait idenya untuk memanfaatkan atom demi perdamaian dunia. Semuanya tampak berjalan lancar bagi Igor, sampai akhirnya dia mengunjungi sebuah sekolah dan bertemu dengan bocah lelaki bernama Rupert Macabee (Michael Chaplin) yang orangtua-nya adalah anggota partai komunis dan sedang berada di penjara. Dalam sebuah adegan percakapan dengan Igor, Rupert menyampaikan pendapat yang terdengar seperti sebuah orasi patriotik tentang kebebasan dan hak asasi manusia. Pada awalnya, adegan percakapan itu berisi hal-hal yang cukup menarik bagi saya sampai akhirnya hal itu malah terasa terlalu panjang dan lama sehingga membikin saya bosan dan untuk beberapa saat mulai mengalihkan perhatian dengan memeriksa beberapa pesan di ponsel saya.

Ada rangkaian adegan satire yang menyindir proses penyelidikan komunisme yang pada saat itu sedang gencar-gencarnya dilakukan oleh HUAC, dan disajikan melalui tampilan yang cukup kocak oleh Chaplin. Igor dituduh sebagai simpatisan komunis karena mengizinkan Rupert menginap di kamar hotelnya dan harus menghadiri sidang penyelidikan. Setelah beberapa adegan lucu yang acak, Igor datang ke tempat sidang dalam kondisi jarinya tersangkut di pipa semprot pemadam kebakaran dan ketika berhasil melepaskan jarinya, Igor tidak sengaja menyemprot dan membikin basah kuyup hakim yang memimpin sidang. (Dan saya ingat, kekasih saya tersedak kopi ketika menonton kelucuan itu.) Film ini diakhiri dengan adegan Igor yang berusaha menghibur Rupert dengan kata-kata: “This madness won’t go on forever. There’s no reason for despair.

(Namun dunia hari ini masih dipenuhi dengan kegilaan semacam itu, Raja Igor: berjuta-juta orang yang [dianggap] komunis disiksa tanpa ampun dan pada akhirnya dijagal di sini, buku-buku yang dianggap meresahkan disita untuk kemudian dibakar oleh negara, perpustakaan jalanan dibubarkan oleh tentara karena dianggap mengganggu pemandangan kota, dll. Kegilaan demi kegilaan yang terjadi setiap harinya itu membikin hidup menjadi perulangan kisah usang yang terlampau membosankan dan semakin memuakkan, yang memberikan semakin banyak alasan untuk berputus-asa, tuan.)

A King in New York adalah sebuah film komedi yang memadukan beberapa adegan komikal dengan satire, dan meskipun tingkat kelucuannya sedikit naik-turun di paruh kedua dan ketiganya, film ini tetap cocok untuk dijadikan tontonan bersama sang kekasih sebagai penutup rutinitas harian yang kelewat membosankan. Pada akhirnya, ini bukanlah film propaganda anti-Amerika seperti yang dituduhkan oleh Pemerintahan Amerika Serikat pada era ‘50an karena sindiran politik di film ini tidak sekritis dan sebanyak film-film masterpiece bikinan Chaplin lainnya. Terlepas dari kekurangannya, film ini tetap menjadi sebuah studi yang cukup menarik tentang kehidupan sosial dan politik Amerika Serikat pada dekade ‘50an melalui sudut pandang seorang komedian terkenal yang diasingkan — di mana komentar satire-nya masih terasa cukup relevan dan adegan komikalnya masih terkesan lucu pada zaman sekarang ini, berpuluh-puluh tahun setelah Chaplin mati dengan tenang dalam tidurnya pada satu pagi di bulan Desember. Saya menikmati dan merasa cukup terhibur setelah menuntaskan 110 menit film ini. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s