Ex Machina (2015)

Poster film ("Facebook")
Poster film (“Facebook”)

FILM bergenre sains-fiksi pada dasarnya selalu berbicara perihal ide atau gagasan, sebuah kanvas pikiran komersial yang lebih nyaman dengan spektakel dan sensasi. Hal yang kerap disajikan oleh film sains-fiksi adalah sesuatu yang bisa disebut dengan “produk yang memiliki citarasa dan aroma sains-fiksi”: sebuah karya seni yang memiliki beberapa ornamen dangkal dari genre tersebut, macam desain futuristik dan observasi sosiologis atau satire perihal kemanusiaan — namun hal itu pada akhirnya mengabaikan ketakutan dari alienasi, dan lebih terfokus kepada ornamen aksi atau horor yang lebih konvensional, melupakan faktor yang pada awalnya tampak tidak biasa.

Ex Machina yang disutradarai oleh Alex Garland ini adalah pengecualian yang langka dalam genre sains-fiksi. Film ini dibuka dengan narasi tentang seorang programmer muda yang terpesona dengan karisma seniornya dan perlahan memahami bahwa hasrat para ilmuwan untuk menciptakan kecerdasan buatan ternyata memiliki agenda pribadi yang memuakkan dan meresahkan. Namun, ketika fakta demi fakta sudah diungkapkan serta saya mulai merasa bahwa teror dan kekerasan adalah dua hal yang tidak terhindarkan, film ini tidak kehilangan pegangan pada tema dan maksud yang coba disampaikan; ini adalah sebuah film komersial yang langka di mana setiap plot, komposisi, dan adegannya semakin memperdalam dan menguatkan naskah film — yang berarti bahwa ketika mendekati bagian akhirnya, film ini menghadirkan sesuatu semacam kejutan menyenangkan yang tidak bisa diprediksi sebelumnya.

Seorang ilmuwan, Nathan Bateman (Oscar Isaac), mengizinkan salah satu programmer di perusahaannya, Caleb Smith (Domhall Gleeson), untuk menghabiskan satu pekan penuh di rumah-merangkap-laboratoriumnya di sebuah pegunungan. Namun ini bukan hanya sekadar liburan sebab Nathan juga memberikan semacam tugas kepada Caleb untuk berinteraksi dengan prototipe robot “perempuan”, Ava (Alicia Vikander), untuk mempelajari apakah robot tersebut benar-benar memiliki kesadaran diri atau hal itu hanya sebuah simulasi program yang luar biasa canggih. Kisah film ini begitu intim secara geografis dan emosional, terkadang menyesakkan, yang berlangsung di dalam dan di sekitar rumah Nathan. (Rumah-merangkap-laboratorium milik Nathan ini juga bisa dibilang bungker modern yang terisolasi dari dunia luar. Banyak sekali ruangan yang tidak bisa diakses/dibuka menggunakan kartu-kunci milik Caleb.) Percakapan antara Caleb dan Ava disajikan layaknya bab dalam sebuah buku cerita lengkap dengan subjudulnya (setting adegan percakapannya mengingatkan saya pada film klasik, The Shining [1980], bikinan Stanley Kubrick). Bagian percakapan ini diselingi dengan adegan antara Nathan, Caleb, dan Kyoko (Sonoya Mizuno), seorang selir nyaris bisu dan tampak rapuh yang melayang di dekat dua lelaki seperti hantu.

Nathan adalah seorang lelaki cerdas yang menciptakan kode pemrograman baru yang revolusioner ketika masih berusia 13 tahun dan kemudian mendirikan sebuah perusahaan search engine macam Google, lantas menyalurkan profit ke dalam skema rahasianya untuk membikin orang sintetis secara psikologis dan fisik, khususnya perempuan. Ini adalah fantasi klasik dari seorang kutu buku, dan ada semacam kesan yang membikin film ini menjadi semacam “Sains Aneh a la Stanley Kubrick”. Namun, meski telah membikin sebuah film di mana dua dari empat karakter utamanya adalah “perempuan dalam ketertundukan” yang semakin memperjelas bahwa tes realisme Nathan bakal mencakup komponen seksual, Garland tidak pernah mengeksploitasi karakter atau situasi mereka. Film ini mempertahankan keterpisahan ilmiah bahkan ketika film ini membawa saya ke dalam pikiran dan hati dari masing-masing karakternya, dimulai dengan Caleb (seorang pengganti penonton dengan kepribadian yang nyata), lantas merangkul Ava, kemudian Nathan (pribadi yang kacau dan selalu mengintimidasi), dan yang terakhir, Kyoko.

Ex Machina adalah ekstensi yang begitu indah dari kegelisahan masa lalu Garland sebagai penulis naskah film. Dimulai dengan The Beach (2000), lalu kemudian dua film thriller, 28 Days Later (2002) dan Sunshine (2007), lantas Dredd (2012), Garland telah menunjukkan minat besar kepada struktur (peran gender) yang ada di dalam masyarakat, ketegangan antara kebutuhan terhadap adanya sebuah peraturan dan penyalah-gunaan otoritas, dan bahwa peran gender yang telah diwariskan selama ribuan tahun dapat meracuni relasi antarmanusia. Ending dari film 28 Days Later bertempat di pangkalan militer darurat di mana tentara telah mengangkat senjata untuk melawan gerombolan warga yang terinfeksi virus. Lalu pasukan tentara itu menyambut kedatangan tokoh utama dari film itu dan para tentara tersebut kemudian memperlihatkan diri sebagai monster dominan yang ingin menelanjangi perempuan tomboi dan merayunya untuk menjadi selir sekaligus peternak dalam gaun berenda, di dalam versi miring dari masyarakat “tradisional”. Para tentara, bukan warga yang terinfeksi virus, adalah zombie yang sebenarnya dalam 28 Days Later:  film itu mengkritik maskulinitas.

Dalam semangat yang sama, Ex Machina adalah film tentang (peran) perempuan dan lelaki, serta bagaimana identitas mereka dibentuk oleh masyarakat patriarki. Nathan secara aktif memberontak terhadap stereotip kutu buku; dia suka mabuk-mabukan, menari disko bersama kekasihnya, menganggap Caleb sebagai “dude” dan “bro”, serta bereaksi dengan jijik ketika Caleb mengungkapkan empatinya untuk Ava. Sudah cukup buruk bahwa Nathan ingin berperan sebagai tuhan, dan lebih buruk lagi ketika dia begitu mendambakan untuk kembali menciptakan feminitas melalui rangkaian sirkuit teknologi dan daging buatan. Pandangan Nathan terhadap perempuan tampaknya dibentuk oleh majalah remaja lelaki, video game yang ditujukan untuk remaja lelaki, dan cerita fantasi sains-fiksi remaja lelaki.

Ketika Ava mulai menjadi sentral cerita, film ini mendapatkan nadanya dari film bergenre noir, dengan Nathan berperan sebagai suami yang kasar atau ayah yang kerap dijumpai dalam film-film noir, Caleb sebagai gelandangan bodoh yang jatuh cinta kepada tokoh utama perempuannya, dan Ava sebagai perempuan yang bermasalah (meskipun saya terus-menerus dibikin untuk menebak apa yang bisa dilakukan oleh Ava, dan apakah dia memiliki potensi untuk menjadi femme fatale di film ini). Momen paling intens dalam film ini adalah percakapan tenang yang terjadi selama pemadaman listrik di rumah-merangkap-laboratorium Nathan, ketika Ava — dengan tulus dan penuh harap — menyatakan ingin selalu bersama dengan Caleb dan sekaligus meminta bantuan Caleb untuk melawan teror Nathan. (Jujur, saya tidak tahu harus bagaimana dalam menyikapi permohonan Ava kepada Caleb. Saya bersimpati dan ingin membantu Ava karena dia tampak benar-benar tertekan dan menderita, namun di sisi lain saya sangsi karena saya sepenuhnya sadar bahwa Ava “hanyalah” robot ciptaan Nathan — permohonan tulus Ava bisa jadi adalah skenario lain dari simulasi program bikinan Nathan.)

Garland membangun ketegangan di sepanjang film ini dengan begitu perlahan dan hati-hati tanpa pernah membiarkan film ini jatuh menjadi tontonan yang membosankan. Naskah skenario film ini juga begitu mengesankan dengan memasukkan referensi seni rupa, sejarah, mitologi, dan fisika ke dalam percakapan santai — sebuah cara yang menunjukkan bahwa Garland mengerti bagaimana menjelaskan konsep abstrak menggunakan bahasa yang lebih sederhana untuk menarik, bukan malah mengalienasi, penontonnya. (Percakapan Nathan dan Caleb tentang teknik automatic painting dari Jackson Pollock, misalnya.) Kemampuan akting para pemerannya juga sangat luar biasa, memberikan kesan bahwa mereka adalah aktor/aktris yang menyenangkan, cerdas, dan berbakat. Dan ending film ini adalah sebuah kepuasan primordial yang mencerahkan. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s