Fifty Shades of Grey (2015)

I don’t make love. I fuck. Hard.
— Christian Grey

Poster film (IMDb)
Poster film (IMDb)

KALIMAT yang cukup berani namun menyesatkan itu mengenalkan saya kepada gambaran softcore dari sadomasokisme dalam sejarah perfilman. Jutaan orang mungkin telah menikmati buku erotis paling laris, Fifty Shades of Grey, karangan E. L. James di kamar rahasia mereka. Empat tahun kemudian, buku tersebut diadaptasi ke dalam film dengan judul yang sama, yang disutradarai oleh Sam Taylor-Johnson dan naskah filmnya ditulis oleh Kelly Marcel. Dalam sejarah “kecabulan” dan “penyimpangan” seksual di dalam dunia perfilman sebelum film ini, saya mengenal Belle de Jour (1967) dan That Obscure Object of Desire (1977) karya Luis Buñuel, In the Realm of the Senses (1976) garapan Nagisa Oshima, Secretary (2002) garapan Steven Shainberg, serta Nymphomaniac (2013) karya Lars von Trier.

Terinspirasi vampir seksi dalam seri Twilight, James akhirnya mulai menulis cerita erotis yang dirilis dalam bentuk trilogi buku: Fifty Shades of Grey, Fifty Shades Darker, dan Fifty Shades Freed. Namun setelah menonton 30 menit awal film ini, saya mulai menyadari inspirasi sebenarnya yang mendasari film ini: kisah gelap yang sangat mengganggu dari seorang asisten rumah tangga yang dipaksa meminum pil ekstasi dan membungkuk untuk dipukuli menggunakan gulungan koran oleh sang majikan sebelum tidur.

Hanya saja di film ini si asisten rumah tangga dengan sukarela mengonsumsi pil yang lebih mahal dan sangat menikmati momen ketika sang majikan memukuli pantatnya dengan majalah Playboy. Ini adalah film tentang ketertundukan seorang perempuan di hadapan hukuman erotis yang dilakukan oleh seorang lelaki sok ganteng yang terkadang memainkan lagu gubahan Frédéric Chopin di piano mahalnya dan menyesap chardonnay — lelaki ini sangat kaya, terlampau kaya malah, karena tidak ada yang seksi dalam hal memukul pantat perempuan jika dia miskin (jangankan keseksian, bisa-bisa malah dipidanakan).

Anastasia “Ana” Steele, yang diperankan dengan sangat kaku oleh Dakota Johnson, adalah seorang mahasiswi cantik dan pemalu yang menggantikan tugas temannya untuk mewawancarai Christian Grey — seorang miliarder sok tampan, yang diperankan secara kaku juga oleh Jamie Dornan — untuk tugas kampusnya. Dalam sesi wawancaranya, Ana tidak mendapatkan satu pun informasi penting tentang aktivitas perusahaan Christian — dan jujur saja, hal ini masih menjadi misteri bagi saya. Malah yang lebih aktif bertanya dalam sesi wawancara tersebut adalah Christian.

Pada satu momen ketika ditanya perihal kepribadiannya oleh Christian, Ana mengatakan bahwa dia sedang belajar sastra Inggris dan sangat terinspirasi oleh karya-karya Thomas Hardy. Beberapa hari kemudian, Christian memberikan Tess of the d’Urbervilles (buku karangan Hardy) edisi cetakan pertama kepada Ana — setelah sebelumnya Christian tiba-tiba muncul di tempat kerja Ana untuk membeli tali dan kabel. Christian dan Ana akhirnya berpacaran, dengan syarat Ana harus bersedia melewatkan satu sesi reguler di Red Room of Pleasure di mana Ana diikat dan dipukuli, serta harus menuruti semua keinginan Christian selama berada di ruangan tersebut. Dengan menggigit bibirnya, dan setelah melewati diskusi kontrak yang cukup panjang tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, Ana pun menyetujui syarat tersebut. Namun gaya berpacaran Christian dan Ana tidak melulu soal seks di “ruang kenikmatan”, melainkan juga berkeliling menggunakan pesawat dan helikopter pribadi milik Christian, bertamasya naik balon udara, dan jalan-jalan keliling kota dengan mobil mewah. (Yups, seperti yang sudah saya tulis di atas, Christian ini tajir mampus!)

Film ini lebih mirip sinetron (atau bahkan komedi nakal tengah malam) yang ditayangkan pada sianghari. Dalam satu rangkaian, film ini menampilkan adegan Christian berteriak marah saat sedang menelepon karyawannya, sebelum dia berbalik dan menelanjangi Ana dengan tatapan penuh gelora yang biasanya adegan seperti ini bakal terpotong oleh jeda iklan komersial atau sensor sialan — dan penonton pun akhirnya kecewa, tidak jadi “tegang”. Dan semoga saja di sekuelnya nanti Ana mendapatkan pekerjaan, atau mengikuti program magang, di perusahaan Christian dan saya akhirnya tahu apa yang dilakukan oleh Christian setiap harinya untuk bertahan hidup.

Dan pada akhirnya, Fifty Shades of Grey ini sangat jauh dari gambaran tentang kenikmatan BDSM dan bukanlah sebuah karya yang artistik tentang seks dan cinta. Mengutip Mark Kermode, salah satu kritikus film di The Guardian: “Near-subliminal glimpses aside, this retains a depressingly mainstream squeamishness about male genitalia.

Saya ingin 129 menit yang saya habiskan di depan laptop untuk menonton film ini dikembalikan, atau setidaknya diganti dengan kesempatan bermain dakon bersama Ana di sorehari selepas membudak.

Itu sudah. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s