Comic 8 (2014)

Poster film ("IMP Awards")
Poster film (“IMP Awards”)

APA jadinya jika beberapa stand up komedian (komika) dikumpulkan dalam satu frame film aksikomedi? Saya membayangkan bakal banyak sekali adegan menantang dan menegangkan namun bisa ditertawakan sepuasnya karena tingkah konyol para komika. Ini bisa jadi hal yang paling jenius sejagat raya, atau malah menjadi hal yang paling konyol sedunia. Dan ketika Anggy Umbara memiliki ide untuk mengumpulkan beberapa komika Indonesia dalam sebuah film berjudul Comic 8, jujur, saya penasaran ingin menontonnya. Rasa penasaran ini muncul karena saya sebenarnya ingin film ini menjadi karya sinematik yang sepenuhnya jelek untuk membuktikan keyakinan saya bahwa para sineas Indonesia masih belum bisa berhenti membikin film sampah yang jeleknya minta ampun, serta untuk mengukuhkan perasaan skeptis dan sinisme saya terhadap dunia perfilman Indonesia. Rasio perbandingan antara film komedi Indonesia “yang benarbenar lucu-tidak-pretensius” dengan “yang garing dan membikin perut mual selama tiga hari”, menurut saya, adalah 1:25.

Setelah menunggu link unduhnya selama kurang-lebih dua tahun, akhirnya baru pekan kemarin saya bisa menonton film ini dengan kualitas suara dan gambar yang lumayan bisa dinikmati. Film ini adalah sebuah komedi yang lumayan lucu — meski masih banyak lubang yang lupa ditambal di sana-sini — dengan setup tema yang sederhana. Tiga kelompok melakukan perampokan di satu bank: yang pertama adalah para penjahat profesional dengan setelan jas rapi yang mampu bergerak dengan sangat cepat dan menembak tepat sasaran secara bersamaan; kelompok kedua adalah para amatir yang memiliki masalah keuangan dan yakin seyakin-yakinnya bahwa mereka bisa merampok bank dengan hanya bermodal gir sepeda motor; sementara yang terakhir adalah pasangan aneh yang merampok bank untuk menghidupi panti asuhan. Premisnya: tiga kelompok perampok tersebut terjebak dalam suatu kebetulan yang aneh.

Fajar Umbara selaku penulis naskah cukup berhasil membikin film ini terlihat lebih pintar dan lebih kocak dari yang sempat saya kira sebelum menontonnya dengan kemampuannya memainkan ide dasar dari film tentang perampokan bank. Secara perlahan, film ini mengungkapkan jati dirinya dengan bantuan twist plot yang mengejutkan meski tidak terlalu renyah. Dan film ini diakhiri dengan plot cerita yang berada di antara “tidak terduga” dan “biasa-biasa saja”. Kinerja Anggy juga terlihat cukup kompeten dalam melakukan tugasnya untuk mengarahkan akting para pemeran film ini. Para komika yang pada awalnya saya pikir bakal kaku dalam berakting ternyata mampu tampil bagus. Bahkan Nikita Mirzani, Pandji Pragiwaksono, dan Agung Hercules pun tidak terlihat mengganggu tampilan film secara keseluruhan.

Masalah film ini yang paling utama, menurut saya, adalah Anggy terlampau sering menyajikan adegan gerak-lambat yang akhirnya menjadi klise dan bikin eneg. Entah sengaja atau tidak, Anggy seperti menginginkan film ini menjadi lebih menyebalkan, lebih menjengkelkan, dan lebih mengganggu ketimbang sinetron murahan di stasiun televisi Indonesia dalam hal adegan gerak-lambat terbanyak! Lubang berikutnya yang menjadi masalah dalam film ini adalah teknik editing-nya. Perpotongan gambar dalam adegan kilas-balik yang meniru Ocean’s Trilogy garapan Steven Soderbergh didegradasi sedemikian rupa dengan gaya penyajian subjudul yang terasa seperti hasil kerja dari sekumpulan remaja labil yang baru mempelajari teknik dasar editing presentasi di program Microsoft PowerPoint.

Pada akhirnya, Comic 8 semakin menegaskan bahwa membikin film komedi itu memang tidak gampang. Selera humor masing-masing individu itu berbeda-beda, dan oleh sebab itu, nyaris mustahil untuk memproduksi sebuah film komedi yang mampu membikin semua orang tertawa puas karena kelucuan dan kekocakannya. Namun di antara beberapa film komedi lokal Indonesia — atau bahkan dibandingkan dengan semua deretan film Indonesia — yang pernah saya tonton sebelumnya, film ini termasuk dalam kategori “lumayan bagus”, semacam oase di tengah-tengah kegaringan tayangan komedi di Indonesia yang nyaris semuanya menggunakan formula bullying untuk memancing tawa penonton. Film ini berisi kelucuan, kekonyolan, dan kekocakan yang lebih banyak daripada yang saya kira. Ditambah bonus dengan adanya sedikit unsur kejutan dan twist yang lumayan menghibur di dalamnya. (Dalam konteks ini saya tidak sedang membicarakan tentang Nikita yang ternyata masih semok, seksi, dan binal itu. Oke? :p) []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s