Cold Fish (2010)

Poster film (IMDb)
Poster film (IMDb)

SALAH satu cara (yang mungkin paling efektif) jika kamu ingin “melenyapkan” seseorang adalah dengan memutilasi tubuhnya (sampai seukuran tempe yang biasanya dijual di warung lalapan pinggir jalan) dan memisahkan daging dari tulangnya. Setelah itu, kamu bisa membakar tulang-tulang tersebut (namun jangan lupa untuk melumurinya dengan saus atau kecap terlebih dahulu) di sebuah tong, dan kemudian buang potongan daging (seukuran tempe) tadi ke sungai agar dimakan oleh ikan. Cara ini memang menghabiskan waktu yang sangat panjang serta membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan komitmen, namun sebenarnya ini merupakan prosedur yang sederhana dan, seperti yang saya tulis di awal paragraf, ini adalah cara yang (mungkin) paling efektif untuk “melenyapkan” seseorang. Ini adalah salah satu dari sekian banyak hal yang disajikan oleh Sion Sono dalam filmnya yang berjudul Cold Fish, menceritakan kisah Nobuyuki Syamoto (diperankan oleh Mitsuru Fukikoshi): seorang pemilik toko ikan hias tropis yang kehidupan seksualnya dengan sang istri (Taeko Syamoto [Megumi Kagurazaka]) sudah dingin dan kewalahan menghadapi tingkah putri bandelnya (Mitsuko Syamoto [Hikari Kajiwara]).

Kemudian datanglah Yukio Murata (diperankan oleh Denden), seorang pengusaha yang sukses di dunia bisnis ikan tropis, untuk membantu meringankan beban masalah keluarga Syamoto dengan mempekerjakan Mitsuko di tokonya, “menghangatkan” Taeko, dan menjadikan Nobuyuki sebagai mitra bisnis. Namun, tentu saja, semua ini datang dengan konsekuensi yang tidak terbayangkan sebelumnya, dan Nobuyuki belajar bagaimana caranya “melenyapkan” seseorang dari Yukio.

Ada banyak hal yang terjadi di film ini, dan itu semua ditampilkan dengan pace yang cepat dan penuh kemarahan seolah-olah ada orang gila yang mendadak berlari untuk menggorok lehermu dengan pisau lipat. Film ini berjalan tidak seperti film-film Sono lainnya, dan menjadi bukti bahwa Sono adalah seorang sineas yang memiliki kemampuan untuk memberikan sesuatu yang mengerikan dan menghibur, serta menenangkan, pada saat yang bersamaan dengan tema yang sangat disukai dan dikuasainya: seks, keluarga, dan kekuasaan.

Ketiga tema itu sering ditampilkan dengan gamblang oleh Sono, terutama bagi penonton yang akrab dengan karya sinematik Sono macam Love Exposure (2008), Guilty of Romance (2011), atau Himizu (2011). Yukio mengambil-alih peran Nobuyuki sebagai seorang suami yang bergairah ketika berhubungan seksual dengan Taeko di lantai kantor pribadinya. Yukio mengambil-alih peran Nobuyuki sebagai seorang ayah yang menyenangkan ketika mempekerjakan Mitsuko di tokonya. Di Cold Fish, peran dan kehadiran keluarga sengaja dibolak-balik sedemikian rupa oleh Sono, dan seiring berjalannya plot film, hal ini kian dijungkir-balikkan, untuk semakin menambah kekejaman dan kedalaman cerita dari hasrat untuk menguasai/berkuasa.

Ini bukanlah film di mana karakter-karakternya putus asa dan tidak melakukan perlawanan ketika dihadapkan dengan malapetaka. Pada awalnya, Nobuyuki dengan senang hati menyerahkan Mitsuko kepada seseorang yang dirasa mampu mendisiplinkan putri bandelnya itu, dan dia juga menerima tawaran bisnis yang menjanjikan banyak uang (tidak ada satu adegan pun di film ini yang menampilkan toko ikan milik Nobuyuki dikunjungi oleh pelanggan). Semua tampak baik-baik saja sampai akhirnya Nobuyuki terseret dalam aksi kejahatan yang dilakukan oleh Yukio dan istrinya (Aiko Murata [Asuka Kurosawa]), dan mulai memahami bahwa dia sedang berada dalam masalah yang lebih besar. Nobuyuki menemukan dirinya terjebak dalam dunia yang penuh dengan pengkhianatan, kekejaman, dan kebohongan. Sono dengan cerdik mengambil karakter utama film ini dan mendorongnya lebih jauh ke dalam kesulitan, kengerian, dan kegelisahan yang menghasilkan semacam kesadaran bagi karakter utamanya itu untuk, pada akhirnya, bangkit dan melakukan perlawanan — namun bukan melawan dengan menggunakan taktik dan sikap klise yang sering diumbar oleh moralis-bau-amis di luar sana.

Cold Fish merupakan film bikinan Sono dengan pace paling cepat yang pernah saya tonton, namun tetap nyaman untuk dinikmati dan berhasil mengeluarkan bakat terbaik dari setiap pemerannya. Fukikoshi menampilkan kinerja akting brilian yang hanya bisa dilakukan oleh beberapa aktor saja dalam memerankan karakter Nobuyuki yang bertransisi dari seorang penjilat lemah menjadi pribadi dingin yang sanggup memberikan teror paling mengerikan meski hanya dengan satu-dua kata. Sementara Denden mampu menerjemahkan karakter Yukio, seorang psikopat kejam dengan gangguan bipolar parah dan tidak memiliki empati sedikit pun di dalam hatinya. Yukio dan Nobuyuki adalah dua monster berkulit manusia.

Film ini adalah sebuah drama yang kuat dan intens, yang menyuguhkan banyak sekali dialog dan ancaman. Dan ada banyak sekali darah di film ini! Namun, kekejaman mengerikan yang berbuntut pada banyak sekali darah kental di film ini masih terkesan realistis, entah yang berasal dari adegan memutilasi tubuh manusia di dalam kamar mandi atau dari leher seseorang yang baru saja ditikam dengan peralatan dapur. Hal-hal menyeramkan di sini terlihat indah dan semakin memperkuat gagasan realisme yang coba ditampilkan oleh Sono di sepanjang film.

Secara keseluruhan, konsep film ini (yang terinspirasi dari kisah nyata) ditampilkan dengan begitu elegan dan cantik di layar untuk menceritakan kisah tentang “yang lemah” versus “yang kuat”, perihal rasa takut terhadap kebrutalan manusia, perkara mahalnya harga yang harus dibayar di balik niat baik seseorang, dan potret paling suram dari kemanusiaan. Film ini bekerja dengan sangat baik dan tulus dalam upayanya untuk menjadi sebuah drama-thriller (dengan komedi-hitam di bagian akhirnya) yang memberikan pengetahuan berguna tentang bagaimana caranya “melenyapkan” seseorang. (Cara yang paling efektif adalah dengan memisahkan daging dan tulang.) []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s