The Referees (2009)

One of the main problems for people in every activity is decision making. It is something that can’t be taught … making a decision under stress is something you have to learn, for example, if you want to be a top manager in any big company. How better to learn these things than to be a referee.
Pierluigi Collina

Poster film ("Cinema Paradiso")
Poster film (“Cinema Paradiso”)

YVES Hinant, melalui sebuah film dokumenter berjudul The Referees, mencoba untuk berbagi pengalaman tentang menjadi seorang wasit, salah satu pekerjaan yang sulit dan penuh dengan tekanan, bukan hanya di dalam lapangan melainkan juga di luar lapangan hijau sepakbola. Film ini tidak hanya ingin membagikan pengetahuan perihal sosok wasit dalam setiap pertandingan sepakbola, namun juga ingin memberikan pelajaran tersendiri perihal sistem pengadil pertandingan. Film ini merekam beberapa wasit yang bertugas dalam turnamen Piala Eropa 2008 yang dihelat di Swiss dan Austria.

Kesempatan menonton ruang ganti wasit sesaat sebelum mereka bertugas, bagi seorang penggemar sepakbola seperti saya, merupakan pengalaman yang menarik — meski itu hanya sebatas dari film dokumenter. Hinant menampilkan rutinitas yang biasanya dilakukan oleh wasit saat akan bertugas: berangkat ke stadion dengan iringan pasukan keamanan, memasuki dan melakukan ritual atau persiapan di ruang ganti, bertugas untuk memimpin jalannya pertandingan, lantas kembali ke hotel untuk beristirahat.

Yang membikin film ini menjadi karya dokumenter yang begitu menarik bagi saya adalah saya — sebagai spektator — juga bisa merasakan ketegangan, ketakutan, dan kebahagiaan seorang wasit ketika memimpin sebuah pertandingan sepakbola, sebab saya bisa mendengarkan percakapan yang dilakukan oleh para pengadil pertandingan itu melalui alat komunikasi yang mereka gunakan saat bertugas di dalam lapangan hijau. (Selama ini, ketika menonton pertandingan sepakbola di televisi, saya selalu bertanya-tanya apa yang dibicarakan oleh wasit dan asistennya, dan film ini memberikan jawaban yang memuaskan.) Hal itu memungkinkan saya untuk ikut merasakan ketegangan dalam setiap adu argumen antara wasit, asisten wasit, wasit keempat, pemain, dan staf tim dalam sebuah pertandingan besar macam Piala Eropa. UEFA, otoritas sepakbola tertinggi Benua Eropa, memang memberikan izin kepada Hinant untuk mengakses rekaman percakapan antara wasit, asisten wasit, dan wasit keempat.

Film ini adalah sebuah narasi yang ingin menunjukkan bahwa wasit, sama seperti kita, adalah seorang manusia yang juga bisa mengambil keputusan yang salah dan jauh dari kesempurnaan — sosok makhluk yang masih dalam perkembangan yang tidak akan pernah berhenti, sebuah proses kemenjadian yang belum selesai. Dalam satu adegan di film ini menampilkan Massimo Busacca, wasit asal Swiss, mengampiri dan menyalami beberapa pemain sembari terus-menerus mengatakan bahwa dia “bukan tuhan, dan bisa melakukan kesalahan” kepada para pemain usai pertandingan.

Sementara di adegan lainnya menampilkan tekanan dan kondisi psikologis Howard Webb, wasil plontos asal Inggris, setelah mendapatkan ancaman pembunuhan dari publik Polandia (bahkan Donald Tusk yang saat itu menjabat sebagai Perdana Menteri Polandia juga mengaku ingin membunuh Webb) karena dua keputusan kontroversialnya saat memimpin pertandingan antara Polandia melawan Austria. Keputusan kontroversial yang pertama adalah ketika Webb mengesahkan gol Roger Guerreiro pada menit 30 untuk Polandia meski sang pemain berada dalam posisi offside. Sementara keputusan kontroversial yang kedua adalah hadiah penalti untuk Austria pada menit 90+3 karena Webb menganggap Robert Lewandowski melakukan pelanggaran dengan menarik kaus Sebastian Prödl di kotak penalti.

Komite wasit UEFA melakukan sebuah evaluasi sehari setelah pertandingan tersebut dan menyatakan bahwa gol Guerreiro memang tidak sah. Kesalahan terletak pada asisten Webb pada saat itu, Mike Mullarkey, yang berdiri di posisi yang salah sehingga tidak mengetahui bahwa Guerreiro sudah berada dalam posisi offside. Sedangkan keputusan untuk memberikan tendangan penalti kepada Austria dianggap sebagai keputusan yang tepat serta keputusan itu menuai pujian karena Webb dianggap telah melakukan pengamatan dan penilaian yang jeli terkait pergerakan para pemain. Namun apa boleh bikin, publik Polandia sudah terlanjur kecewa dan marah dengan kinerja Webb dalam pertandingan itu yang akhirnya menuntun mereka untuk membikin pesan ancaman pembunuhan terhadap Webb dan keluarganya. Menanggapi kejadian tersebut, komite wasit UEFA akhirnya mengirim pulang Webb dan para asistennya lebih awal ke Inggris saat turnamen telah memasuki babak perempat-final. Langkah ini merupakan sebuah upaya penyelamatan turnamen Piala Eropa 2008 yang dilakukan oleh UEFA.

Setelah menonton film ini dan pada akhirnya mengetahui (serta ikut merasakan) tekanan dan intimidasi yang berdampak pada sisi psikologis dan kehidupan seorang wasit, saya mempertanyakan sikap fans sepakbola yang selalu saja mencari-cari kesalahan wasit ketika tim kesayangan mereka mengalami kekalahan, atau bahkan nekat membunuh wasit seperti yang pernah dilakukan oleh mendiang Pablo Escobar — pemimpin kartel narkoba terbesar di Kolombia — pada dekade ‘80an. Pembenaran terhadap sebuah kesalahan memang merupakan tingkah laku pengecut, namun maksud saya — ayolah, seperti yang sudah saya tulis di atas, wasit juga seorang manusia yang bisa melakukan kesalahan, dan mengapa kita tidak bisa menerima bahwa membikin kesalahan merupakan sifat dasar yang bakal selalu melekat dalam diri seorang manusia?

The Referees merupakan kinerja yang begitu tulus dan jujur dalam upayanya untuk menunjukkan betapa manusiawinya sosok para pengadil pertandingan yang, seperti manusia lainnya, juga merasakan ketegangan, ketakutan, dan kekhawatiran ketika mengambil setiap keputusan di dalam sebuah pertandingan — dan di dalam kehidupan pada umumnya. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s