The Good Dinosaur (2015)

Poster film (IMDb)
Poster film (IMDb)

DARI 15 fitur film pertamanya sebelum The Good Dinosaur ini, Pixar telah berhasil membikin beberapa karya sinematik animasi yang keren dan bagus (macam Ratatouille [2007], tiga seri Toy Story [1995 – 2010], dan Inside Out [2015]), sementara beberapa film lainnya tidak begitu sukses — baik itu dari segi pendapatan maupun plot ceritanya, seperti Cars (2006) dan Cars 2 (2011). Deretan film bagus bikinan Pixar selalu bermula dari ide awal yang cukup menarik untuk kemudian dieksekusi menjadi sebuah cerita yang melibatkan pengembangan karakter dengan baik, plot yang cerdik, dan resonansi emosional yang jarang sekali terlihat di film yang target utama pemasarannya adalah keluarga. Permasalahan utama dari The Good Dinosaur adalah bahwa film ini sebenarnya memiliki gagasan awal yang cukup menarik namun tidak tahu bagaimana caranya untuk mengembangkan dan mengeksekusi gagasan tersebut. Hasil akhirnya adalah sebuah film yang memiliki beberapa elemen menjanjikan di rangkaian awal adegannya dan seolah-olah hal itu bakal berkembang menjadi sesuatu yang indah dan memesona, namun pada kenyataannya malah menjadi sebuah tontonan yang tidak mampu membikin saya anteng selama 93 menit durasi filmnya: saya lebih sibuk membalas pesan di ponsel.

Premis film ini menarik dan terkesan ambisius: apa jadinya jika asteroid tidak menabrak Bumi 65 juta tahun yang lalu, dan dinosaurus tidak punah melainkan terus berkembang dan berevolusi menjadi salah satu spesies yang hidup di Bumi sampai saat ini? Film ini pada dasarnya ingin membayangkan atau menyajikan realitas alternatif dan kemungkinan yang lain jika malapetaka berjuta-juta tahun yang lalu itu tidak terjadi dan tidak memusnahkan dinosaurus, dan terus terang saya berharap bisa menonton gagasan awal itu berkembang menjadi sesuatu yang menarik dan mengejutkan. Namun kejutan yang saya harapkan tidak kunjung muncul, penantian saya hanya diganjar dengan karakter dan jalinan cerita yang biasa-biasa saja.

Setelah dibuka dengan prolog singkat yang menampilkan asteroid hanya melewati Bumi begitu saja, film ini melompat beberapa juta tahun ke depan untuk fokus pada sebuah keluarga Apatosaurus yang tinggal di sebuah ladang pertanian di kaki Pegunungan Clawtooth. Yang paling muda dalam keluarga Apatosaurus itu, Arlo (sulih suara oleh Raymond Ochoa), tampak tidak memiliki keahlian apa pun (Arlo pada dasarnya takut terhadap apa pun, dia bahkan takut dengan ayam — meskipun ayam yang ada di film ini tidaklah sama seperti ayam yang ada di peternakan laknat milik KFC, melainkan ayam dengan tubuh yang lebih besar dan terkesan tangguh, namun demi apa pun yang aneh di dunia yang paling aneh sekali pun, itu tetap saja ayam: apa yang harus ditakutkan dari seekor atau bahkan sekelompok ayam?) dan sering digoda oleh dua saudaranya, Libby (Maleah Padilla) dan Buck (Marcus Scribner), sementara orangtua mereka (Poppa Henry [Jeffrey Wright] dan Momma Ida [Frances McDormand]) mencoba menghibur dengan mengatakan bahwa Arlo ditakdirkan untuk melakukan sesuatu yang istimewa nantinya. Such a cliché story, right? Suatu hari, ketika mengejar bocah gua (Jack Bright) yang telah mencuri stok persediaan makanan di lumbung mereka, Poppa Henry dan Arlo terjebak dalam hujan badai di mana Poppa Henry mati terseret arus besar.

Setelah bersusah-payah membantu Momma Ida memanen hasil pertanian sebelum musim dingin tiba, Arlo memergoki bocah gua — yang dianggapnya sebagai penyebab utama kematian Poppa Henry — sedang asyik-masyuk melahap persediaan makanan keluarganya di lumbung penyimpanan, dan ketika mencoba mengejar bocah gua itu, Arlo terjatuh ke dalam sungai dan terbawa arus sampai ribuan kilometer jauhnya dari rumah. Pada awalnya, Arlo sangat membenci bocah gua itu sebelum akhirnya bocah gua itu — yang tidak hanya bertingkah layaknya seekor anjing peliharaan, namun dia juga merespons ketika dipanggil dengan nama Spot — mampu meluluhkan hati Arlo dan hubungan keduanya berkembang menjadi sebuah relasi pertemanan karena mereka menyadari adanya kesamaan satu sama lain. Dalam perjalanan panjang untuk pulang ke rumah, Spot dan Arlo harus menghadapi rintangan demi rintangan yang berbahaya seperti melawan ular kobra raksasa dan trio Pterodactyl (Thunderclap [Steve Zahn], Downpour [Mandy Freund], dan Coldfront [Steven Clay]). Selain itu, Spot dan Arlo juga bertemu dengan trio Tiranosaurus rex (Ramsey [Anna Paquin], Nash [A.J. Buckley], dan Butch [Sam Elliott]) yang, sumpah ini aneh, menjadi penggembala kerbau (atau banteng, atau bison, entahlah) yang mencoba menyelamatkan kawanan ternak mereka dari ancaman beberapa Velociraptor.

Ada beberapa ide yang cukup bagus dalam naskah film yang ditulis oleh Meg LeFauve, seperti gagasan untuk membalikkan narasi klasik “seorang anak dan hewan peliharaannya” yang mana di film ini Spot/bocah gua itu adalah hewan peliharaan, dan memasukkan unsur film bergenre Barat (Western) saat mengenalkan karakter trio Tiranosaurus untuk pertama kalinya (salah satunya adalah adegan api unggun lengkap dengan seseorang sedang memainkan lagu sedih menggunakan harmonika — bedanya, di sini Nash sedang memainkan lagu sedih bukan menggunakan harmonika, tapi dengan menggunakan, er, seekor serangga). Namun setelah memperkenalkan karakter-karakternya, film ini cenderung mengabaikan karakter-karakter yang ada di dalamnya untuk kemudian mencoba menceritakan variasi lain dari sebuah kisah tentang karakter canggung yang mencoba belajar memaksimalkan kemampuannya untuk mengatasi ketakutannya sendiri agar bisa meninggalkan jejaknya di dinding lumbung penyimpanan stok makanan. Saya malah merasa bahwa film ini merupakan gabungan beberapa unsur dari The Jungle Book (1967), The Lion King (1994), dan How to Train Your Dragon (2010) yang direkatkan dengan cukup buruk. Ketidak-unikan sebuah cerita biasanya berhasil ditutupi dengan deretan karakter yang menarik, namun sayangnya, nyaris seluruh karakter yang ada di film ini tidak ada yang menarik — bahkan dua protagonis utamanya, Spot dan Arlo, gagal memenangkan simpati dan empati saya.

Alih-alih membikin film tentang spesies herbivora yang menarik, film ini malah mengulang klise di dunia sinematik tentang dinosaurus yang menyiratkan ancaman dari kelompok karnivora. Cukup menyenangkan melihat sedikit perubahan di mana Apatosaurus tidak direpresentasikan sebagai kelompok spesies yang lemah dan tidak berdaya seperti yang biasanya ditampilkan dalam seri Jurassic Park, namun dunia yang berada di sekitarnya tidak sepenuhnya dijelaskan dengan imajinasi yang memuaskan. Mengapa keluarga Apatosaurus hidup terisolasi di kaki pegunungan? Bagaimana karnivora dan herbivora menjalankan fungsinya secara bersamaan satu sama lain dalam realitas alternatif tersebut?

Secara visual, film ini adalah sebuah tontonan lumayan indah dengan komposisi yang lumayan memesona dalam gabungan antara latar belakang fotorealisme dan beberapa karakter yang lumayan komikal. (Film ini mungkin bisa memuaskan sebagian penonton anak-anak.) Ada satu momen yang punya potensi untuk mengangkut film ini keluar dari jurang mediokritasnya dalam adegan ketika Spot dan Arlo bertemu dengan seekor Styracosaurus bernama Forrest Woodbush (Peter Sohn, yang juga menjadi sutradara film ini) yang dihiasi dengan sejumlah hewan aneh di pinggiran hutan. Sementara adegan lain yang menampilkan Spot dan Arlo memakan beberapa buah halusinogen disajikan dengan detail visual yang lucu dan cukup menghibur, atau ketika Poppa Henry mencoba menunjukkan kepada Arlo bahwa serangga yang ditakuti Arlo itu bisa berubah menjadi sesuatu yang menakjubkan di kegelapan malam ditampilkan dalam gambar yang indah (dan keindahan gambar itu diulang dalam adegan serupa yang melibatkan Spot dan Arlo namun pesonanya berkurang sehingga tidak menghadirkan efek yang sama seperti yang pertama). Ah iya, ada satu momen sederhana yang cukup indah di mana Spot dan Arlo, meskipun mereka berdua tidak berbicara dalam bahasa yang sama, berhasil berkomunikasi dan saling menunjukkan rasa simpati kepada satu sama lain karena mereka berdua sama-sama telah kehilangan anggota keluarga. Adegan itu merupakan satu-satunya momen di dalam film ini yang mampu membikin saya sedikit merinding dan bersimpati.

Apa yang membikin film bergenre animasi menjadi sebuah tontonan yang menarik? Bagi saya, film animasi biasanya menggunakan dan mengeksplorasi imajinasi dan fantasi yang mampu menghidupkan kembali sosok anak kecil periang yang dulu pernah bersemayam di dalam tubuh saya, membangkitkan rasa takjub dan gairah kekanak-kanakan di dalam diri saya dengan cara yang memuaskan dan menenangkan. Namun The Good Dinosaur telah terbukti gagal menghadirkan sensasi atau gairah semacam itu. Film ini malah membikin saya menyadari bahwa gairah semacam itu kini sudah sekarat dikalahkan dengan cara yang paling kejam oleh banalitas dunianya orang dewasa.

Ah, sudahlah… []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s