Slacker (1991)

Poster film (IMDb)
Poster film (IMDb)

SLACKER adalah sebuah film dengan daya tarik yang nyaris tidak mungkin untuk digambarkan, meskipun metode yang digunakan oleh sutradara film ini, Richard Linklater, sebenarnya tidak serumit suasana hati kekasih saya ketika PMS. Linklater ingin menunjukkan strata tertentu dari kehidupan kampus di kampung halamannya — sekelompok pemuda yang dia sebut dengan “slackers” atau “pemalas”, meskipun siapa saja yang tinggal di dekat kampus di kota mana pun juga mengenal kumpulan pemuda seperti itu dengan sebutan lain macam “orang gila”, “longhair”, “hippies”, “biang kerok”, atau “aktivis kampus” (sebab di setiap perkumpulan/organisasi kampus pasti ada saja mahasiswa/i yang memiliki dandanan seperti karakter-karakter yang ada di film ini, berkeliaran sepanjang hari untuk meneriakkan slogan-slogan idealisme mereka atau nongkrong seharian di sebuah warung sembari menikmati kopi gratis, dan terkadang bertanya-tanya apakah gaya hidup seperti itu bisa dihidupi di luar kehidupan kampus — orang-orang yang menghabiskan seluruh hidup mereka di dalam batok kepala mereka sendiri, dilumpuhkan oleh keinginan untuk membikin sebuah perbedaan dalam hidup yang serbamonoton dan terlampau banal).

Linklater ingin mengobservasi sekelompok pemuda itu dan mendengarkan mereka, namun dia tidak ingin terlalu terlibat dalam kehidupan mereka, atau mengikuti mereka dengan sebuah mekanisme plot tertentu. Jadi dalam film ini Linklater mengadopsi teknik dan metode brilian dari para surealis, dan mendorongnya ke sebuah konklusi logis. Luis Buñuel, seorang sutradara surealis, di filmnya yang berjudul The Phantom of Liberty (1974) menampilkan satu cerita dalam sebuah adegan atau lebih, dan kemudian — ketika karakternya berpapasan dengan sekelompok orang, lantas bergabung dengan kelompok itu — melakukan spin off untuk mengikuti mereka sebentar, dan teknik atau metode seperti itu terus berlanjut sampai akhir film.

Linklater menggunakan metode yang sama di film ini, yang memungkinkannya bergerak mengikuti kehidupan komunitas “pemalas” di Austin, Texas, seperti sebuah bola dengan kamera yang digelindingkan untuk merekam apa-apa yang terjadi di sana. Hasilnya seperti ini: awal film menampilkan seorang sopir taksi (Rudy Basquez) mengantarkan seorang penumpang (Linklater) yang terus-terusan mengoceh tentang teori bahwa ketika manusia memikirkan “sesuatu yang mungkin bakal terjadi”, maka “kemungkinan” itu akan menjadi realitas yang terpisah pada beberapa tingkatan lain dari eksistensi; sopir taksi itu tidak tertarik dengan teori itu dan ketika dia menurunkan penumpangnya, ada sebuah mobil yang melaju dengan cukup kencang dan kamera bergerak untuk menangkap gambar beberapa pejalan kaki di lingkungan itu yang menemukan seorang perempuan-korban-tabrak-lari tergeletak di tengah jalan; ketika seseorang dari kerumunan itu menelepon ambulans, kamera bergerak dengan pelan ke sebuah rumah di sekitar tempat kejadian tabrak-lari ketika sebuah mobil berhenti di depan rumah itu, mengikuti pengemudi mobil (Mark James) masuk ke rumahnya dan melakukan apa pun itu di dalam rumahnya, lantas kemudian dua petugas polisi (Terrence Kirk dan Bob Boyd) datang untuk menangkapnya dengan dakwaan telah menabrak ibunya sendiri; kemudian kamera bergerak kembali, dengan pelan, menuju luar rumah dan mengikuti beberapa pejalan kaki sampai mereka…

Dan seterusnya berlanjut seperti itu sampai akhir film. Hal ini mungkin terasa seperti sebuah teknik aneh yang membosankan, namun sebenarnya ini adalah sebuah metode dengan ritme menenangkan (dan, sekaligus, jenaka) yang enak untuk dinikmati dengan secangkir kopihitam dan beberapa camilan, mengikuti gerak kamera Linklater yang merekam bermacam-macam orang di Austin: seorang pencuri amatir yang tertangkap lalu diajak jalan-jalan oleh korbannya; seorang lelaki yang mengaku mengetahui sebuah “fakta” bahwa salah satu astronot yang berhasil mendarat di bulan telah melihat sebuah pesawat alien, namun transmisi radionya pada saat itu diputus oleh NASA; seorang perempuan yang memiliki sebuah botol berisi hasil dari suatu prosedur percobaan medis yang dilakukan terhadap Madonna; serta beberapa pemuda, pelanggan kafe, pejalan kaki, pasangan kekasih yang sedang bertengkar, kritikus teori konspirasi, musisi folk, anak-anak kecil, dan lain-lainnya. Tema yang dibahas dalam percakapan mereka meliputi banyak hal, mulai dari terorisme, perang kelas, pengucilan sosial, marjinalisasi politik, kontrol pemerintah atas media, sampai tingginya angka pengangguran.

Saya tidak mendapatkan sebuah cerita yang terjalin dengan rapi di film ini, melainkan mendapatkan sebuah perasaan yang begitu unik: tersindir dan tercerahkan pada saat yang bersamaan. Dengan upaya yang begitu tulus, Linklater mengajak saya untuk melihat dan mendengarkan suatu generasi berisikan orang-orang yang batok kepalanya penuh-sesak dengan berbagai macam ide revolusioner, namun tidak mampu — atau tidak berani — mentransformasikan ide-ide mereka ke dalam sebuah aksi nyata yang konkret. (Sama seperti kita — saya dan kamu, puan betina — dan hal-hal yang tidak kita bicarakan dan mimpi-mimpi yang tidak kita wujudkan, dan semakin melupakan ide tentang “sebuah perjalanan untuk menempuh gairah purba hingga titik”.)

Bagi beberapa orang, Slacker mungkin terasa berjalan dengan durasi yang terlalu lama. Namun, tidak bagi saya: 100 menit yang saya habiskan untuk duduk anteng di depan laptop butut diganjar dengan sebuah pengalaman menonton yang menggelisahkan, mencerahkan, menenangkan, dan pada akhirnya, membebaskan. Dan yang selalu saya suka dari Linklater adalah kemampuannya menyajikan interaksi antarmanusia dalam tampilan kemasan dan isi yang begitu menarik di setiap karya sinematik bikinannya. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s