Wristcutters: A Love Story (2006)

Poster film (IMDb)
Poster film (IMDb)

BAYANGKAN hal ini: setelah kamu melakukan bunuh diri, kamu tidak pergi ke surga atau neraka — melainkan ke sebuah tempat/gurun industri di mana semuanya tidak berjalan dengan baik dan benar, tidak ada pekerjaan yang layak, hanya ada restoran cepat saji yang menghidangkan makanan generik, dan orang-orang yang tinggal di sana juga mati gara-gara bunuh diri. Dan, oh, di sana sepertinya tidak ada yang melakukan hubungan seks yang mungkin saja disebabkan oleh alasan teologis: bisakah orang-orang yang sudah mati melahirkan bayi di tempat mereka? (Atau bagaimana rasanya memiliki seorang ibu dengan lubang bekas peluru di kepala? Coba pikirkan apa jadinya ketika kamu ingin merayakan Hari Ibu bersama dengan kawan-kawanmu.)

Itu adalah premis dari film Wristcutters: A Love Story garapan Goran Dukić yang dibintangi oleh Patrick Fugit. Zia (Fugit) diceritakan telah dicampakkan oleh kekasihnya, Desiree Randolph (Leslie Bibb), dan memutuskan untuk bunuh diri dengan menyayat pergelangan tangannya. Namun, seperti yang telah saya tulis sebagai paragraf pembuka di atas, takdir rupanya telah merancang suatu sistem hukuman mengerikan bagi mereka yang telah “berdosa” karena melakukan bunuh diri: Zia bisa dibilang tidak mati dan tidak pergi ke akhirat (surga atau neraka), namun malah bergentayangan selamanya dalam sebuah dunia atau kehidupan yang (sepertinya) lebih buruk, dan dikelilingi oleh orang-orang yang juga telah melakukan bunuh diri.

Sejak film ini mengenalkan karakter Zia untuk pertama kalinya, saya bertanya-tanya apa sih arti dari nama “Zia”, dan setelah kelar merampungkan 88 menit durasi film ini, saya membuka browser dan mulai mencari tahu tentang hal itu. Zia, menurut dari beberapa artikel yang saya baca, merupakan brakiopoda (hewan laut yang memiliki “katup” keras [cangkang] pada permukaan bawah dan atas), dan menurut data dari Wikipedia melaporkan bahwa “99% spesies ini telah punah”. Dan saya akhirnya mengerti kenapa karakter utama film ini diberi nama Zia: dia — dan nyaris semua orang yang ada di film ini — telah punah! Di tempat itu, Zia berteman dengan Eugene (Shea Whigham) yang dulunya adalah seorang penyanyi asal Rusia dan melakukan bunuh diri dengan menyetrum dirinya sendiri di pertengahan konser tunggalnya.

Zia kemudian mendapatkan kabar bahwa Desiree melakukan bunuh diri dan yakin bahwa bekas kekasihnya itu juga berada di suatu tempat di dunia aneh ini. Zia akhirnya membujuk Eugene untuk menemaninya mencari Desiree, dan perjalanan mereka dimulai dari sebuah SPBU (lengkap dengan penjaganya yang selalu ditampilkan sebagai karakter apatis dan galak) yang khas dengan film bertema road movie remaja. Di tengah perjalanan, Zia dan Eugene memberikan tumpangan kepada seorang perempuan bernama Mikal (Shannyn Sossamon) yang percaya bahwa kejadian buruk yang menimpanya adalah sebuah kesalahan dan berusaha untuk mencari “orang yang bertanggung-jawab” (“people in charge” atau PIC) di dunia aneh itu agar bisa kembali ke dunia nyata/kehidupan yang sebelumnya.

Setelah berkendara tanpa tujuan yang jelas, mereka bertiga (Zia, Mikal, dan Eugene) menemukan sebuah komunitas yang dipimpin oleh seorang eksentrik bernama Kneller (Tom Waits), sebelum pada akhirnya Zia berhasil menemukan Desiree. Dan memang cukup segitu saja plot cerita yang harus kamu ketahui dari film ini. Tidak lebih, tidak kurang.

Gagasan Dukić mengenai apa yang bakal terjadi setelah manusia mati bunuh diri dalam Wristcutters: A Love Story ini sebenarnya cukup menarik. Mereka — para manusia pemberani yang memilih untuk bunuh diri itu — berpikir bahwa kematian merupakan solusi untuk mengakhiri penderitaan, namun penderitaan mereka sebenarnya baru saja dimulai setelah kematian di sebuah dunia entah-berantah. Setidaknya itu adalah gagasan atau ide yang ada di kepala Dukić. Namun sayangnya ide menarik itu tidak dikembangkan dan tidak dieksekusi dengan mulus agar bisa menghasilkan sebuah karya sinematik komedi-hitam yang cerdas dan mengasyikkan, atau paling tidak sebuah tontonan yang syahdu dan kocak. Meski harus saya amini bahwa drama-romansa di akhir film ini terasa manis-manis-getir dan sendu yang membikin dada saya sedikit sesak. (Selebihnya — saya bersyukur masih memiliki dadamu untuk bersandar, Kanjeng Ratu F.) []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s