The Element of Crime (1984)

Poster film, versi "The Criterion Collection" (IMDb)
Poster film, versi “The Criterion Collection” (IMDb)

RANGKAIAN pertama dalam film The Element of Crime tidak hanya menetapkan atmosfer untuk film yang begitu menghantui ini — melainkan juga untuk seluruh karier Lars von Trier, sutradara eksentrik dan kurang ajar betul kerennya asal Denmark. Film ini dibuka dengan seorang psikiater Mesir (Ahmed El Shenawi) menatap ke kamera, merawat detektif bernama Fisher (Michael Elphick) yang menderita amnesia. Secara bertahap, dalam keadaan santai di bawah pengaruh hipnotis dari psikiaternya, Fisher “kembali ke Eropa” yang ditampilkan von Trier sebagai lanskap misterius dan nokturnal yang penuh dengan penipuan, penyakit, dan kematian.

Film ini memberikan standar dan suara yang benarbenar baru dalam dunia perfilman pada saat itu, sebuah obsesi terhadap tema yang lebih akrab dari literatur Eropa Tengah ketimbang dari sinematik Scandinavia, dan mengingatkan saya kepada karyakarya awal dari Andrei Tarkovsky. Ketika menampilkan adegan Fisher yang kesal dan jengkel sedang mengejar tersangka pembunuhan yang suka mencekik dan memutilasi para perempuan muda penjual tiket lotre melewati kotakota kecil di Jerman, film ini dilingkupi aura wagnerian. Setiap bangunan yang muncul di film ini tampak seperti terinfeksi oleh semacam kekuatan misterius yang lebih tinggi. Tema tentang polusi dan penyakit ini juga mewarnai film kedua von Trier yang berjudul Epidemic (1987), sementara serial TV bikinannya, The Kingdom (1994), dan filmnya yang paling ambisius, Breaking the Waves (1996), mengambil tema tentang trauma fisik. Dan The Idiots (1998) mencoba menguji sikap masyarakat modern terhadap orang gila.

It’s always three o’clock in the morning — if you know what I mean,” ujar Kim (Meme Lai), seorang pelacur yang berteman dengan Fisher dalam satu adegan, yang menegaskan keberhasilan von Trier dalam menciptakan suasana nokturnal (dan atmosfer kegelisahan) dengan begitu sempurna untuk film ini. Variasi warna oranye-memerah diselingi biru yang cukup mencolok di film ini memberikan kesan seram, sekaligus juga memanifestasikan ketegangan dan mengisyaratkan kontur dari mimpi buruk. Karakter-karakternya sering ditampilkan seolah-olah sedang bergerak di bawah air dalam kondisi trans. Begitu syahdu.

Dalam upayanya untuk memahami apa yang ada di pikiran seorang pembunuh berantai, Fisher mencoba melacak jejak si pembunuh menggunakan metode kontroversial yang terdapat di dalam buku berjudul “The Element of Crime” yang ditulis oleh mantan gurunya bernama Osborne (Esmond Knight) dan harus melakoni sebuah perjalanan yang tidak menyenangkan melintasi Jerman yang telah hancur, bukan hanya karena perang — tetapi juga karena kekejian demi kekejian lainnya. Dan, secara perlahan, hal itu membikin Fisher berperilaku layaknya seorang pembunuh berantai yang ingin ditangkapnya.

Cita rasa melodramatis yang khas a la Lars von Trier sudah muncul di film ini, yang ditunjukkan oleh motif berulang dari seseorang yang sedang memecahkan jendela dan meneriaki kegelapan malam, seolah baru saja terbebas dari siksaan penjara batin. Hal ini memberikan efek yang mengejutkan (bahkan cenderung apokaliptik) bagi saya.

von Trier sepertinya memang tertarik dengan penyimpangan mengerikan dan ritualistik. Bunuh diri dengan cara “melompat ke kehampaan” di klimaks film ini mengingatkan saya kepada perilaku harakiri yang dilakukan oleh para samurai Jepang di depan publik pada masa lalu. Karakter utama di film ini adalah seorang anti-hero yang terjebak di dalam perasaan bersalah dan cengkeraman takdir yang tidak bisa dipahaminya. Untuk semua sinisme dari dunianya von Trier, hampir semua karakter-karakternya merespons dalam keadaan setengah sadar ke dimensi spiritual mereka. Musik yang dipilih von Trier untuk film ini pun semakin meninggikan perasaan semacam itu.

The Element of Crime merupakan debut film yang menakjubkan dari von Trier — sekaligus juga menjadi film pertama dari Europa trilogy — yang berani menciptakan gaya ekspresionis untuk visi sinematik dari sebuah dunia pasca-apokalips, menggabungkan misteri dan keanehan untuk menyajikan sebuah mimpi buruk yang mampu menghipnotis saya.

Sial! []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s