21 Grams (2003)

Poster film (IMDb)
Poster film (IMDb)

SEPERTI sebuah cermin yang hancur berkeping-keping, film penuh teka-teki berjudul 21 Grams karya Alejandro González Iñárritu ini mencoba untuk menunjukkan kehidupan yang rusak di antara serpihan ketakutan. Ide cerita film ini sebetulnya sederhana: tentang sekelompok orang dengan permasalahan hidup masing-masing yang menemukan fakta bahwa mereka saling terkoneksi satu sama lain dalam cara yang ajaib dan tidak terduga, sekaligus memilukan. Momen yang menjadi pusat cerita adalah sebuah kecelakaan tragis yang membawa dampak kehancuran kepada kehidupan dari orang-orang tersebut. Dan film ini, dengan begitu cerdik, mengambil sepotong demi sepotong dari serpihan cerita dan menyusun kembali kebenaran di balik tragedi itu. Film ini adalah bagian kedua dari Trilogy of Death-nya Iñárritu, didahului dengan Amores perros (2000) dan diikuti oleh Babel (2006).

Narasi awal film ini tidak beraturan, seolah-olah mendengarkan seseorang yang tengah terguncang bercerita tentang kejadian mengerikan yang baru saja dia alami: seorang perempuan mengisap kokain di toilet umum, seorang lelaki sekarat tergeletak di belakang sebuah mobil, sepasang kekasih berhubungan seks dalam kondisi putus asa dan marah, daun musim gugur berjatuhan ketika senja, burung-burung berhamburan di langit malam. Apa yang bisa dimengerti dari narasi rancu macam itu?

Skenario awal film ini ditulis oleh Guillermo Arriaga dengan dialognya menggunakan bahasa Spanyol dan latar belakang cerita mengambil tempat di Mexico City, Meksiko, lantas direvisi oleh Iñárritu ke dalam bahasa Inggris dan mengambil tempat di Kota Memphis, Amerika Serikat. Film ini adalah sebuah melodrama yang memberikan dimensi menarik dari perenungan dan misteri dengan memisahkannya dari pakem “sebab-akibat” yang biasa digunakan dalam sebuah cerita. Seperti halnya dalam film-film bikinan Lars von Trier atau Gus Van Sant atau Quentin Tarantino atau Christopher Nolan, film ini menampilkan banyak sekali adegan yang “keluar jalur”, mengajak saya menyaksikan adegan yang sama dari sudut pandang yang berbeda; kumpulan momen dan gambar yang ada di film ini mengenalkan sebuah tontonan yang berirama satu sama lain, seolah-olah saya sedang mendengarkan syair indah yang dibacakan dengan begitu syahdu.

Bagi beberapa orang, penyatuan keping demi keping cerita dalam film ini terkesan palsu dan terlalu mengada-ada, dan ketika seluruh bagian telah disatukan, hasil yang didapat mungkin tidak terlihat cukup mengejutkan seperti yang dijanjikan di awal film. Namun yang selalu dilewatkan oleh orang-orang adalah proses penyatuan serpihan cerita dalam film ini — proses penyatuan inilah yang menjadi kunci dan mampu melahirkan berbagai macam momen ketidak-mungkinan, horor, dan keanehan yang begitu mengasyikkan. Selain itu, film ini juga didukung oleh akting yang betul-betul luar biasa dari tiga pemeran utamanya: Naomi Watts, Sean Penn, dan Benicio Del Toro. Mereka bertiga berhasil memberikan tampilan relief yang cukup menarik perihal kepedihan yang dialami oleh manusia.

Penn memerankan Paul Rivers, seorang profesor matematika yang tertarik dengan puisi, tipikal lelaki santun yang hubungannya dengan sang istri, Mary Rivers (Charlotte Gainsbourg), mulai memasuki fase krisis yang membosankan dan suram: mereka baru saja rujuk kembali setelah kasus perselingkuhan Paul dengan salah satu muridnya. Yang membikin Paul dan Mary tetap bersama dalam status perkawinan adalah penyakit serius yang diderita oleh Paul — film ini menampilkan adegan acak terkait kondisi kesehatan Paul seperti ketika dia sedang menunggu operasi transplantasi jantung di rumah sakit, dan ketika dia berjalan timpang di rumahnya, serta ketampanan wajah liciknya ditampilkan dengan begitu sensitif.

Del Toro bermain sebagai Jack Jordan, seorang mantan bajingan yang mantap ingin berubah setelah dia menemukan Yesus dengan cara yang sulit untuk dipahami dalam kebingungannya. Seorang pendeta yang membikin Jack tobat terus-menerus berupaya sebisanya agar Jack tetap berada di jalan tuhan dengan cara menjadikan Jack sebagai asistennya di gereja yang bertugas untuk mengumpulkan buku himne di akhir layanan misa mingguan dan juga memberikan nasihat kepada beberapa jemaat gereja yang sedang memiliki masalah. Namun Jack sejatinya masih keras/kasar dan sama bingungnya dengan beberapa jemaat bermasalah yang dia nasihati. Del Toro, dengan kemampuan akting yang luar biasa, berhasil memerankan karakter Jack yang muak terhadap dirinya sendiri, yang juga masih bingung tentang arti moralitas dalam kehidupan barunya, serta masih merasakan kerinduan yang memilukan untuk menghukum dan dihukum.

Sementara itu Watts berperan sebagai Cristina Peck, seorang istri dan ibu yang cantik-menawan-ramah yang memiliki masalah rahasia. Akting Watts dalam film Mulholland Drive (2001) garapan David Lynch sangat memukau, dan di 21 Grams ini dia melanjutkan kinerja briliannya dengan begitu halus dan sangat cemerlang — membikin tubuh saya merinding dalam sensasi gairah kenikmatan sebuah tontonan. Watts mampu melukiskan momen kekuatan emosional yang luar biasa dari karakter Cristina: dari awalnya yang tenang menjadi marah, dari pribadi yang begitu bergairah berubah menjadi putus asa terhadap hidupnya — dan semua itu ditampilkan dengan akting yang tidak pretensius dan dengan integritas penuh sebagai seorang pekerja seni.

Ketiga karakter tersebut adalah pecandu. Paul tidak bisa lepas dari kebiasaan merokok dan menyembunyikan rokok dari istrinya di lemari obat. Jack berusaha ekstrakeras untuk berhenti mengonsumi alkohol dan menyalurkan rasa sakit serta kemarahannya menjadi semacam penyiksaan diri. Sementara Cristina adalah mantan pecandu kokain. Bagi mereka, pemulihan merupakan hal yang paling mendekati dari tujuan spiritual yang mereka miliki, dan dalam masyarakat abad ke-21 di mana mereka selalu dituntut untuk menjadi kekasih idaman, kata “kecanduan” dan “pemulihan” mampu menghubungkan kesenjangan semaksimal mungkin, namun kesepian masih membikin mereka menggigil di malamhari.

Apa yang bisa menguatkan mereka ketika dikejutkan oleh tragedi masing-masing? Apa yang bisa dilakukan untuk membangun kembali hidup mereka di antara sisa-sisa kehancuran? “Life does not just ‘go on’,” ujar Cristina dalam satu adegan kepada ayahnya, menimbulkan pertanyaan apakah hidup memang benar-benar “terus berjalan” ketika semuanya telah hancur dan dianggap baik-baik saja? Film ini menunjukkan kegelisahan dari Paul, Jack, dan Cristina yang bertanya-tanya — seperti halnya saya dan, mungkin, kamu — siapa diri mereka sebenarnya sebagai manusia.

21 Grams adalah film yang begitu menawan dan memikat, yang ditampilkan dengan cara dan kemampuan brilian layaknya kecakapan seorang penyair atau musisi jenius yang mencoba untuk memperbaiki kegundahan hati manusia. Voiceover di akhir film yang mengungkapkan misteri di balik judul film ini (mengacu pada penelitian Duncan MacDougall tentang perubahan massa tubuh manusia ketika meninggal dunia) menjadi serpihan terakhir yang menyempurnakan kesatuan rangkaian cerita dalam film ini. Iñárritu berhasil menjadikan film ini terasa begitu istimewa: mengalir, tidak bisa ditebak, dan menggembirakan, sekaligus memilukan pada saat yang bersamaan. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s